Home Donggala

Penyidik Polres Donggala Dilapor ke Propam

459
Tim Kuasa Hukum Komite Aksi HAM Sulteng bersama kakak korban penembakan, usai penyampaian laporan ke Propam Polda Sulteng, Jumat (22/05/2020). (Foto: Ist)
  • Buntut Penembakan Seorang Warga di Donggala

Palu, Metrosulawesi.id – Kasus penembakan terhadap warga di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, berbuntut penyidik Sat Reskrim Kepolisian Resort (Polres) Donggala, Ipda Hizbullah Bustamin, bersama rekannya dilaporkan ke Propam Polda Sulteng di Palu, Jumat  (22/05/2020).

Reynaldi alias Rey, warga Desa Lero, mengajukan laporan ke Propam Polda Sulteng, didampingi Tim Kuasa Hukum Komite Aksi HAM Sulteng. Melalui kakak korban,  Sudiarto Bersama tim kuasa hukumnya mendatangi Polda Sulteng, yang diterima Bagian Pelayanan Pengaduan Propam Polda Sulteng.

Perwakilan Tim Kuasa Hukum Komite Aksi HAM Sulteng, Khasogi SH, menerangkan awalnya korban dan kakaknya tidak tahu, yang melakukan penembakan tersebut oknum Penyidik Sat Reskrim Polres Donggala.

Dia menjelaskan kronoligis penembakan terhadap Rey yang terjadi pada 26 April, berawal saat unit mobil Avanza berhenti tepat di depan rumah kakak kandung Rey di Desa Lero, bersampingan dengan bengkel yang juga milik kakak kandung Rey.

“Posisi mobil sekitar tiga meter dari Rey yang sedang berdiri. Saat itu Rey sedang membuat pagar kayu di rumah kakaknya dengan seorang temannya, Rezi,’’  jelas Khasogi.

Dia melanjutkan dari arah mobil tersebut, satu orang turun dan berjalan ke arah bengkel yang pada saat itu dijaga oleh Viky (anak dari kakak kandung Rey), dengan maksud bertanya ingin menambah angin ban mobil. Viky dikatakan memberi jawaban bahwa kompresor sedang rusak.

Setelah mengetahui kompresor rusak, orang tersebut kembali ke mobil dengan posisi setengah badan masuk dan sambil mengambil sesuatu. Berselang beberapa detik, orang tersebut dan beberapa temannya diperkirakan sejumlah empat orang mengeluarkan tembakan peringatan ke udara sebanyak tiga kali.

Mendengar suara tembakan,  Reynaldi kaget dan spontan melompat pagar kayu yang sedang mereka kerjakan. Saat melompat pakaiannya terkait di pagar kayu.

Selanjutnya salah seorang dari kelima orang yang keluar dari mobil tersebut, menembak dari arah belakang dengan kedua tangan memegang sepucuk senjata dan posisi tangan melewati batas pagar kayu atau berada di dalam halaman rumah. Tembakan tersebut tepat mengenai di bagian atas pinggang belakang sebelah kiri dan tembus ke perut Reynaldi.

Setelah terkena tembakan pertama, korban dalam posisi berdiri sambil memegang luka tembak seraya minta tolong kepada kakaknya yang saat itu berada di bengkel.

Kemudian masuk lagi tiga orang ke pekarangan rumah, dimana posisi korban berada. Korban ditembak lagi sebanyak satu kali di bagian lutut kaki kanan, dan akhirnya korban jatuh.

‘’Saat itu korban sudah terbaring di tanah dan tak berdaya, akan tetapi dari ketiga orang yang berada di sekitar korban kembali melakukan tembakan sebanyak dua kali di bagian lutut kaki kanan,” ujar Khasogi.

Setelah itu, korban dikatakan kemudian diseret dengan ditarik kedua tangan dengan posisi korban terbaring menyamping dan dimasukkan ke dalam mobil serta dipukul yang disaksikan oleh kakak kandung korban. Setelah itu korban dibawa oleh kelima orang tersebut tak tahu kemana.

“Nanti sekitar jam 18.00 Wita hari yang sama, kakak kandung korban menerima telepon dari seorang tetangganya yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, memberitahukan bahwa korban berada di Rumah Sakit Bhayangkara Palu dan harus dilakukan tindakan operasi sesegera mungkin dalam keadaan kritis,” terangnya.

“Mendengar informasi tersebut, kakak kandung korban langsung menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, tiba sekitar pukul 22.00 WITA. Saat kakak kandung korban menandatangani dokumen operasi ternyata diantara dokumen tersebut terselip Surat Perintah Penangkapan Korban dan disinilah diketahui bahwa yang melakukan penembakan tersebut pihak Polres Donggala,” tambah Khasogi.

Khasogi menambahkan penindakan yang dilakukan oknum penyidik tindaklanjut penyidikan atas status tersangka kasus pemukulan yang dilakukan Reynaldi bersama Milan Rivaldi terhadap seorang warga atas nama Sido, di Desa Toaya Pandeke, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, pada Januari 2019. Saat kejadian tersebut, Reynaldi duduk di bangku kelas 2 SMK dengan usia 17 tahun 11 bulan.

“Pada intinya yang dilaporkan ke Propam Polda Sulteng terkait penembakan yang dilakukan oknum Polres Donggala saat penangkapan tersangka (Reynaldi),” pungkas Khasogi.

Reporter: Michael Simanjuntak

Ayo tulis komentar cerdas