Moh. Ahlis Djirimu. (Foto: Ist)

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu*

PERUBAHAN Iklim dan Pemanasan Global merupakan merupakan satu dari berbagai masalah global. Peningkatan suhu rata-rata di permukaan bumi merupakan ancaman yang serius bagi planet bumi dan seluruh mahluk di dalamnya, sehingga perlu langkah terpadu dalam penanggulangan dan pencegahan serta pengawasan.

Terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global tersebut terjadi akibat menipisnya lapisan ozon (O3), pelindung atmosfer bumi, merupakan konsekuensi pembentukan beberapa jenis gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri manufaktur, peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, serta pembangkit tenaga listrik dan lainnya, pengunaan hairspray, pengharum ruangan.

Pemanasan global menimbulkan pencairan es di artic (kutub utara) yang menimbulkan kenaikan pada permukaan air laut, bahkan diduga menjadi penyebab hilangnya beberapa pulau di Kepulauan Seribu maupun gugusan pulau di Maladewa. Akibatnya terjadi perubahan musim, el-nino, la nina, anomali cuaca menimbulkan perubahan dan kacaunya iklim yang selanjutnya berpengaruh pada musim tanam petani, kacaunya ekosistem biota laut, intensitas bencana, dan lain-lain. Hal tersebut berpengaruh pada pola pikir dan aktivitas manusia. Pola pikir manusia berubah sebagai antisipasi perubahan suhu termasuk pola pikir dalam menyemai tanaman pangan dan holtikultura. Suhu telah mengubah kalender tanam bahkan lebih ekstrim lagi mengacaukan kalender dan pola tanam. Tentu hal ini berpengaruh pada ketersediaan, akses, mutu pangan. Aktivitas manusia terganggu untuk menghindar dari sorotan sinar Ultraviolet.

Sejak Tahun 2010, Krisis Pangan menglobal.Dunia mengalami krisis pangan sebagai konsekuensi dari anomali cuaca dan penguasaan aset pangan hanya pada negara tertentu. Setiap hari, ada 1,7 milyar penduduk dunia yang tidak memperoleh nutrisi yang layak terutama penduduk yang berdomisili di Afrika Sub Sahara dan India. Ancaman malnutrisi menjadi pemicu global stunting mengancam 139 juta balita di seluruh dunia. Hal ini diperparah lagi oleh dominasi kartel dalam penentuan harga pangan membuat volatilitas harga pangan dunia sulit diantisipasi oleh berbagai negara.

Thailand, sejak beberapa dekade telah menjadi pemegang seperempat pasokan beras terbesar di dunia. Sementara Indonesia sejak pertengahan dekade 1980an menjadi importir bahan pangan. Hampir semua kendali harga pangan ini dilakukan di Jenewa, Swiss, negara yang tidak mempunyai kultur pangan kecuali produsen susu. Krisis pangan dunia akan menyulitkan negara-negara berpenduduk banyak sehingga harus dapat diantisipasi sebelum. Ikan dapat menjadi alternatif terbaik karena protein yang dikandungnya sangat tinggi.

Pandemi Covid-19 telah menglobal sejak episentrumnya berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei. Pandemi ini dapat menjurus pada krisis pangan lalu menjadi krisis sosial bila inti utama masalahnya belum teratasi yakni solusi kesehatan. Kesehatan menjadi panglima saat ini karena kita akan sia-sia mengedepankan pembangunan ekonomi bila penduduk tidak sehat. Sehat adalah hal yang utama baru sejahtera dan makmur. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan Vietnam melarang ekspor beras sebagai antisipasi ancaman Krisis Pangan. Indonesia bakar terkena dampak kebijakan ini karena kita menjadi pengimpor beras dari Vietnam, selain Thailand.

Dalam konteks Sulteng sebaiknya kita mulai mengatasi Covid-19. Kita belum tahu kapan masa puncaknya, apakah berbentuk kurva “V” menukik atau curam. Bagi kita anggota masyarakat sebaiknya, selain memberikan kesempatan pada otoritas kesehatan menangani pasien, kita bekerja dari rumah merupakan pilihan tepat. Ketidakpastian, ketidaksiapan, pandang harus dibuang jauh. Pilihan stay at home menjadi pilihan demokratis. Patuh dan disiplin merupakan pilihan kata tepat. Kemungkinan terburuk yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Andalan utama dalam masa pandemi tanaman pangan, holtikultura dan perikanan. Kebijakan berpihak pada petani seperti subsidi pupuk dan bibit, asuransi pertanian dan nelayan tetap diadakan. Mungkin saat ini momennya berpihak pada petani dan nelayan karena di negara agraris ini petani dan nelayan identik dengan kemiskinan. Buktinya, di daerah ini, Nilai Tukar Petani (NTP) pernah di atas 100 hanya pada Tahun 2014 dan hanya 7 bulan di Tahun 2015. NTP ini mengukur nilai jual dan nilai yang dibelinya. Bila nilai yang dijual lebih besar daripada yang dibeli petani, maka petani akan sejahtera. Chance does not knock twice, kesempatan tidak datang dua kali. Saatnya petani naik kasta menjadi sejahtera, seperti naiknya kesejahteraan petani cacao di masa krisis moneter di Tahun 1997. Sayang, masa 1997, petani menjadi konsumtif.

Bila tidak saat ini, maka petani hanya akan menjadi judul tembang “gubuk derita” ciri khas petani gurem, nan miskin mengolah seperempat hektar lahan pertanian. Kita di Sulteng patut bersyukur karena pertanian menjadi andalan penyumbang 25 persen ekonomi Sulteng dan 70 persen penduduk Sulteng bekerja sebagai petani dan nelayan. Namun sayang, hasil pertanian berupa beras, ikan dapat juga menjadi pemicu kemiskinan melalui transmisi kenaikan harga-harga komoditi tersebut selain rokok dan pulsa. Perlu kebijakan melarang perdagangan antar daerah di Sulteng sebelum memenuhi kebutuhan dan cadangan pangan agar kita tidak sengsara di lumbung pangan. Di Lumbung kita menanggung, datang paceklik kita tak bingung seperti lirik tembang Iwan Fals. (*Staf Pengajar Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB-Untad)

Ayo tulis komentar cerdas