Home Poso

Qidam Ditemukan Tewas di Belakang Polsek PPU

ILUSTRASI - Seorang warga di Desa Tobe Poso Pesisir Utara, tewas ditembak petugas. (Foto: Ist)
  • Polisi Sebut Anggota MIT, Keluarga Keberatan  

Poso, Metrosulawesi.id – Qidam Alfariski Mofance (20), yang ditemukan tewas di belakang Polsek Poso Pesisir Utara (PPU), Kamis (9/4/2020) malam, kini menyisakan tanda tanya. Keterangan pihak kepolisian dan keluarga korban bertolak belakang. Seputar tewasnya pria yang baru saja berhenti sebagai karyawan di SPU Tambarana ini.

Informasi dari pihak kepolisian menyebutkan,  Qidam adalah salah satu  kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Petugas saat penyirisan di Lorong Kepala, Dusun 3, Desa Tobe—tepatnya di kebun jati yang berada di belakang Polsek PPU, Kabupaten  Poso, Kamis malam sekitar pukul 24.00 Wita.

Petugas melakukan penyisiran  di Desa Tobe, lantaran Babinkatibmas Polsek PPU, mendapat laporan dari warga, ada  satu OTK  yang mendatangi rumah warga di Dusun 3,  Desa Tobe.  Kecamatan Poso Pesisir Utara, meminta minum.  Warga sempat menanyakan asal usul OTK yang meminta minum, dan dijawab yang bersangkutan bersal dari Desa Tambarana.

Dari informasi itu, sekitar pukul 22.15 Wita, Tim Alfa gabungan intel melakukan penyisiran di Lorong Kelapa, Dusun 3, Desa Tobe,  Kecamatan Poso Pesisir Utara. Saat dilakukan penyisiran, terdengar suara tembakan dari arah selatan Polsek PPU.

Hanya berselang satu jam penyisiran, kembali terdengar suara tembakan sebanyak enam kali dengan suara rentetan di lokasi yang sama. Rentetan suara tembakan itu, di sekitar Polsek  telah diperketat keamanannya dan melakukan sandi kepada orang yang datang untuk mengantisipasi adanya penyusup masuk di sekitar Polsek.

Usai melakukan penyisiran dan dirasakan aman, sekitar pukul 24.00 Wita, Tim Combat Intelejen (CI) Polri melakukan pembersihan di sekitar TKP dan ditemukan satu orang warga yang diduga kelompok MIT meninggal dunia. Warga yang tewas diduga kelompok MIT pimpinan Ali Kalora ini diktehui bersama Qidam Alfariski Mofance ( 20),  Warga Susin III Kelurahan  Atoga Kecamatan Motongkao, Kabupaten Boltim.

Pada Jumat (10/04/2020) dini hari,  Tim Inafis Polres Poso, dipimpin langsung Kapolres Poso, tiba di lokasi ditemukannya  Qidam. Di lokasi, petugas melakukan identifikasi singkat dan olah TKP. Usai olah TKP, jenasah Qidam dievakuasi ke Polsek PPU.

Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto, yang dikonfirmasi salah satu media online di Palu, membenarkan adanya kejadian tersebut.  Saat dilakukan pengejaran, dan terjadi kontak tembak dan akhirnya sasaran terkena tembak.

Didik menegaskan,  informasi Satgas Tinombala,  warga yang tertembak itu sudah bergabung dengan dengan kelompok sipil bersenjata, saat turun gunung dan mendatangi rumah warga.

Juru bicara Polda  Sulteng ini, juga menyampaikan, ke pihak keluarga tentunya sudah menerima atau mengetahui kejadiannya, karena jenazah sudah di keluarga.

“Yang jelas dia ini (OTK) masuk dalam Kelompok Sipil Bersenjata yang di atas, namun belum masuk dalam daftar DPO,” tutur Didik.

Keluarga  Qidam Keberatan

Lantas informasi dari pihak keluarga, dikutip dari kabarselebes.id, disebutkan tewasnya Qidam Alfariski Mofance (20) ternyata tidak diterima oleh pihak keluarga. Mereka keberatan jika korban dikaitkan dengan kelompok bersenjata pimpinan Ali Kalora di hutan Poso. Karena menurut keluarga, korban sama sekali tidak kenal dengan kelompok itu.

Keberadaan korban di Desa Tobe hingga akhirnya ditembak polisi itu pun karena dia lari dari rumah setelah tidak mau tinggal di rumah akibat adanya imbauan berdiam diri tiga hari di rumah karena corona. Itupun karena dia baru saja berhenti bekerja dari SPBU Tambarana.

Menurut Asman, paman korban, saat itu ponakannya Qidam Alfariski Mofance yang tinggal di rumah neneknya di Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara, meninggalkan rumah karena suntuk dengan social distance dan imbauan di rumah saja akibat corona.

“Karena dilarang neneknya untuk keluar rumah, dia memaksa keluar kemarin (Kamis, 9 April 2020) malam. Karena katanya dia keluar bawa tas maka saya susul dia jangan sampai dia berangkat ke Palu atau pulang sama mamanya di Menado,” cerita Asman yang dihubungi per telepon Jumat malam.

Sesampai di Desa Tobe, korban yang baru tamat SMA tahun 2019 yang lalu itu ternyata sempat minta minum di salah satu rumah warga. Oleh warga mengira dia adalah kelompok teroris mengingat wilayah itu kerap menjadi perlintasan kelompok MIT.

“Waktu minum itu dia dengar ada suara motor dan dia takut itu Saya yang mencari dia sehingga dia lari ke hutan di belakang polsek. Saya sempat dengar suara tembakan dan tidak ada itu baku tembak karena ponakan saya itu hanya bawa baju ganti tidak ada senjata atau senter,” kata Asman.

Suara tembakan itulah yang mengakhiri nyawa korban. Korban yang sehari-hari bekerja di SPBU itu tewas dengan luka tembak dan luka benda tajam di bagian paha kiri dan beberpa bagian tubuh.

“Kami keberatan disebut ponakan kami ini teroris. Jangankan bergabung, kenal saja sama Ali Kalora tidak. Sehari-hari dia kerja di SPBU. Bahkan dia itu juga sama-sama kerja di somel (sawmill) dengan polisi yang kerja di polsek itu. Kami keluarga meminta polisi untuk bertanggungjawab,” tandas Asman. (*/berbagai sumber)

Ayo tulis komentar cerdas