Home Ekonomi

Covid-19 Pengaruhi Ujicoba Produksi PT CPM

MASIH UJICOBA - Beginilah salah satu bagian dari pabrik pengolahan tambang emas PT CPM di Kelurahan Poboya, Kota Palu. Pabrik ini masih dalam uji coba produksi. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Covid-19 atau virus corona memengaruhi semua lini kehidupan. Tak kecuali perusahaan tambang emas, seperti PT Citra Palu Mineral (PT CPM) yang beroperasi Kelurahan Poboya, Kota Palu.

Anak perusahaan dari PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terancam tak capai target ujicoba produksi gegara 11 TKA (tenaga kerja asing) asal China yang bekerja di perusahaan itu, kini masih tertahan di negaranya. Padahal ke-11 TKA itu masih dibutuhkan untuk transfer keterampilan kepada tenaga kerja lokal.

Manager External Relation And Compliance CPM, Amran Amier, mengakui ketidakhadiran 11 TKA itu memengaruhi kinerja perusahaan.

“Kalau ditanya soal pengaruhnya. Ya, jelas berpengaruh,” katanya menjawab pertanyaan Metrosulawesi, Selasa 17 Maret 2020.

Amran mengatakan, pihaknya sudah menargetkan ujicoba produksi sampai 70 persen dari kapasitas pabrik 500 ton per hari.

“Ketidakhariran 11 TKA dari China itu berpengaruh pada operasional pabrik. Terutama mempengaruhi target,” ujarnya.

Amran mengatakan, peranan ke-11 TKA itu dalam operasional pabrik belum bisa sepenuhnya digantikan oleh tenaga kerja lokal.

“Ada yang bisa menggantikan, tapi terbatas. Tenaga kerja lokal masih melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap pengelolaan pabrik,” jelas Amran.

Meski demikian katanya, pihaknya tetap berupaya untuk memenuhi target yang sudah ditetapkan. Antara lain, pihaknya tetap berusaha agar uji coba produksi bisa tuntas, agar April bisa dilakukan operasi produksi sesuai rencana.

Pihaknya, berharap wabah virus Corona segera berakhir, sehingga ke-11 TKA asal China yang masih tertahan di negaranya itu bisa dapat kembali bekerja seperti sedia kala.

Seperti diberitakan sebelumnya, ke-11 TKA itu kembali ke negaranya dalam rangka libur imlek. Seiring dengan merebaknya virus Corona di China, mereka akhirnya tidak diizinkan kembali ke Indonesia. Hingga ini ada tiga TKA asal China yang bekerja di PT CPM.

Seperti diberitakan, PT CPM sejak 23 Januari 2020 lalu, sudah memulai uji coba fasilitas produksi dari tambang emas di Poboya.

Direktur Utama BRMS Suseno Kramadibrata mengatakan, pengujian wet run atau dengan muatan di tambang Poboya telah diselesaikan perusahaan pada 22 Januari lalu. Dari situ, BRMS perlu melakukan penyesuaian sekaligus antisipasi agar seluruh peralatan tambang dapat berfungsi dengan baik.

Ujicoba produksi ini dilakukan untuk memastikan bahwa mesin dan peralatan terkait mampu memproduksi Dore Bullion dengan kandungan emas di atas 45%.

Dalam pengujian pertama, BRMS dapat memproduksi 297 gram dore bullion. “Jumlah ini cukup memastikan bahwa fasilitas produksi kami di Poboya berjalan lancar,” ungkap Suseno dalam rilis yang diterima Metrosulawesi, Selasa 28 Januari 2020.

Lantas, keberadaan fasilitas produksi tersebut, BRMS berencana memproduksi sekitar 100.000 ton bijih emas di tahun ini dan meningkat menjadi 180.000 ton bijih di tahun 2021 mendatang.

Sekadar catatan, BRMS memiliki 96,7% saham di CPM yang mengoperasikan konsesi tambang emas seluas 85.180 hektar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Lokasi tambang Poboya yang menjadi bagian dari area konsesi tersebut diperkirakan memiliki cadangan bijih sebesar 3,9 juta ton dan sumber daya bijih sebesar 7,9 juta ton. Sedangkan kadar emas di lokasi tersebut diperkirakan di atas 4 g/t.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas