AKTIVITAS PABRIK - Karyawan pabrik Tahu Afifah sedang beraktivitas dengan pekerjaan masing-masing, Selasa 28 Januari 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Tahmil Burhanuddin)
  • Mesin Rancangan Sendiri, Sehari Produksi Belasan Ton

DIA mengawali semuanya dari bawah, sekitar 15 tahun lalu. Waktu itu Safran mulai merintis pabrik tahu milknya dengan hanya dibantu beberapa orang karyawan, produksinya pun masih minim, hanya sekitar 100 kilogram kedelai sebagai bahan baku.

Saat ditemui oleh wartawan pada Selasa 28 Januari 2020, laki-laki 52 tahun yang bernama lengkap Safran Rinaldi itu tengah sibuk mengontrol karyawannya memproduksi tahu di pabrik Tahu Afifah miliknya di Jalan Jati, Kelurahan Nunu, Kota Palu.

Puluhan karyawan di pabrik tahu itu tampak lagi sibuk. Ada yang tengah mengangkat keledai, mencetak tahu, mengontrol dan mengurusi mesin-mesin pengolah yang mempermudah proses produksi.

Berbeda dengan pabrik tahu pada umumnya, di pabrik Tahu Afifah produksi sudah menggunakan teknologi yang lebih modern, produksinya sudah mulai meninggalkan cara manual.

“Yang lain tradisional, kita sudah pakai mesin,” ungkap Safran yang kemudian mengajak wartawan ke ruang tamu rumahnya untuk diwawancara.

Mesin-mesin tersebut dirancangnya sendiri, dia memang pengusaha tahu yang melek teknologi. Bahkan tungku untuk menanak kedelai pun telah dirancang agar lebih efektif dan lebih ramah lingkungan. Dia berusaha memanfaatkan teknologi tepat guna.

“Jadi kayu bakar yang digunakan tidak boros, panasnya juga termanfaatkan semuanya tidak ada yang keluar,” ungkap Safran.

“Dulu kita manual juga, misalnya untuk memisahkan ampas tahu itu harus ditapis secara manual sekarang semuanya pakai mesin,” ujarnya.

Saat ini dia mempekerjakan 45 karyawan untuk memproduksi rata-rata 12 ton tahu atau 3 ton kedelai sebagai bahan baku setiap harinya.

Tahu yang diproduksi oleh pabrik Tahu Afifah tidak hanya dijual di Kota Palu, tapi juga ke sejumlah kabupaten bahkan provinsi tetangga seperti Sulawesi Barat.

Menurut Safran, kedelai yang digunakannya sebagai bahan baku merupakan kedelai lokal maupun impor. Kebutuhan kedelai lokal tak mampu memenuhi kebutuhan produksi, sehingga kedelai impor pun harus menjadi pilihan lain. Padahal, kualitas dan rasa kedelai lokal menurutnya jauh lebih baik.

Pabrik Tahu Afifah sendiri sudah meraih berbagai penghargaan di tingkat lokal maupun nasional. Salah satunya adalah penghargaan Kreasi Prima Mutu pada tahun 2012.

Penghargaan ini diberikan karena keberhasilan Industri tahu Afifah dalam inovasi teknologi alat produksi yang menghasilkan produktivitas dan kualitas yang tinggi dengan biaya yang lebih murah. Penghargaan itu diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bukti-bukti penghargaan itu bisa dilihat langsung di dinding-dinding ruang tamu rumahnya. Ada beberapa foto tampak terpajang di sana, salah satunya foto Safran tengah berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain sebagai produsen tahu, Safran juga memanfaatkan ampas tahu untuk pakan ternak sapi. Dia memang punya puluhan sapi ternak yang bobot atau beratnya ada yang mencapai 800 kilogram per ekor. Sapi yang diternaknya pernah dibeli oleh Presiden Joko Widodo.

Reporter: Tahmil Burhanuddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas