Home Palu

Tujuh Laporan Perceraian di Huntara

160
PEMBERDAYAAN - Libu Perempuan memberikan materi pemberdayaan kepada mayarakat di ruang ramah perempuan beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Perempuan (Libu Perempuan) mencatat sebanyak tujuh laporan perceraian di Hunian Sementara (Huntara) dalam awal tahun 2020. Direktur Libu Perempuan, Dewi Amir, menjelaskan laporan perceraian tersebut berasal dari Huntara Petobo, Huntara Pantoloan Ova dan di wilayah Sibalaya.

Menurutnya, sebagian besar kasus perceraian akibat suami dari perempuan tiba-tiba menghilang atau tidak lagi memberi nafkah kepada istrinya.

“Saat ini masih ada laporan terkait perceraian. Totalnya ada tujuh, tiga di Kelurahan Petobo, satu di Desa Sibalaya dan tiganya wilayah Pantoloan Ova. Sebagai besar karena suami mereka tiba-tiba menghilang,” ungkapnya, Selasa, 21 Januari 2020.

Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kalangan penyintas bencana dinilai telah mengalami penurunan. Menurunnya angka kekerasan perempuan dan anak berkat keberadaan Huntara.

Meski penurunannya tidak signifikan, namun diakuinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung berkurang saat memasuki tahap rehab dan rekonstruksi.

“Memasuki masa rehab dan rekonstruksi ini, laporan terkait kasus kekerasan perempuan dan anak memang cenderung menurun, meski tidak signifikan. Mungkin karena mereka sudah masuk ke dalam Hunian Sementara (Huntara),” kata Dewi.

Ia berharap kedepan Pemerintah lebih meningkatkan perhatian atas kerentanan terhadap kaum perempuan. Terkhusus dalam menyediakan fasilitas umum, di lokasi Hunian Tetap (Huntap). Sebab, berdasarkan pengalamannya faktor mendasar terjadinya kekerasan adalah fasilitas sanitasi yang minim.

“Semoga kedepannya fasilitas seperti penerangan, toilet, dan penyediaan air bersih dapat terpenuhi. Karena memang kemarin faktor dasar terjadinya pelecehan maupun kekerasan terhadap perempuan adalah itu (minim fasilitas memadai),” tegasnya.

Dewi menambahkan Libu Perempuan turut andil dalam proses penanganan kasus kekerasan dengan mengelola enam ruang ramah perempuan yang tersebar di sejumlah titik pengungsian di Kota Pau, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas