dr Husaema. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Husaema, mengatakan, hampir seluruh program kesehatan tidak berdiri sendiri, tetapi melibatkan sektor-sektor terkait. Paling utama, menurutnya,  bagaimana membangkitkan peran serta masyarakat untuk memiliki keinginan hidup sehat, atau disebut Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Untuk di Kota Palu, stunting tercatat mencapai angka 600 lebih, tetapi jika dibandingkan dengan target presentasinya yakni 24 persen, sedangkan angka nasional sekitar 37 persen, jadi angka stunting kita dibandingkan dengan angka nasional masih rendah. Namun pada 2024, target nasional bisa turunkan stunting hingga 18 persen,” kata Husaema, di Palu, Jumat, 10 Januari 2020.

Untuk Kota Palu, kata Husaema, posisinya masih di angka 24 persen, ada selisih enam persen. Olehnya itu, dengan program-program tentang pencegahan stunting itu, semoga bisa dicapai keterpaduan.

“Sekarang kita sudah masuk pada faktor sensitif, yakni lingkungan dengan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dengan beberapa indokator, diantaranya adalah, pertama, bagaimana cuci tangan sebelum makan, tidak buang air besar di sembarangan tempat, soal sarana air bersih, dan limbah masyarakat,” jelasnya.   

Husaema mengatakan, faktor sensitif itu bisa mempengaruhi stunting. Karena itu, diharapkan 2020 seluruh kelurahan di Kota Palu bisa menerapkan STBM itu.

“STBM ini di dalam program kami, baru satu kelurahan yang sudah mendeklarasinya yakni Kelurahan Lolu Utara. Namun kami berharap seluruh kelurahan dapat menjalankan STBM tersebut,” ujarnya.

Husaema mengatakan, salah satu faktor sensitif mencegah stunting adalah STBM itu.

“Jika gizi seseorang bagus tetapi sakit-sakitan, akan turun itu. Kita tidak bisa suplai, jika tiap bulan sakit, dan tentunya akan terpengaruhi gizinya, sehingga menjadi stunting. Stunting itu adalah tidak terpenuhinya gizi yang berkepanjangan,” katanya.

Menurut Husaema, tidak semua orang pendek itu stunting, tergantung asupan gizinya, memenuhi atau tidak, karena ada faktor genetika.

“Misalnya, badannya kecil mental dan kecerdasanya juga terhambat, disitulah stunting. Jadi gejala-gejala stunting berdasarkan pemeriksaan yaitu usia dibandingkan dengan tinggi. Tetapi harus dipantau juga, apakah pendek ini faktor gizinya tidak terpenuhi, atau memang karena faktor genetika,” ujarnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas