Kapolres Parimo., AKBP Zulham effendi Lubis, didampingi Waka Polres, Kompol Ketut Tadius dan Kabag Ops, Kompol F. Tarigan, saat jumpa pers akhir tahun di Mapolres Parimo, Sabtu 28 Desember 2019. (Foto: Zulfikar/ Metrosulawesi)

Parimo, Metrosulawesi.id – Sebanyak 1.700 hektar persawahan di wilayah Kecamatan Moutong mengalami kekeringan diduga disebabkan oleh aktivitas lumpur tambang emas itu.

Terkait hal itu, Kapolres Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), AKBP Zulham Effendi Lubis yang dikofirmasi mengaku belum mendapat laporan.

“Saya selaku Kapolres Parimo hingga saat ini belum mendengar laporan masyarakat terkait lumpur tambang menggenang sawah ribuan hektar itu,” ungkap Kapolres Parimo dikonfirmasi melalui ponselnya, Kamis 9 Januari 2019.

Kapolres mengatakan, Polres Parimo tidak pernah menangani perkara pertambangan. Sebab, yang menangani perkara pertambangan adalah Polda.

“Untuk diketahui bahwa Polres Parimo tidak pernah menangani perkara pertambangan, karena yang menangani perkara pertambangan itu dari Polda langsung,” kata Kapolres.

Lumpur tambang yang menggenangi persawahan diungkapkan Anggota Komisi I DPRD Parimo Arifin Dg Palallo. Dia  mengungkapkan, masyarakat Kecamatan Moutong  khususnya petani padi mengeluh soal kekeringan yang terjadi di sawah milik mereka. Sebanyak 1.700 hektar persawahan di wilayah kecamatan Moutong itu mengalami kekeringan.

“Para petani khususnya petani di Moutong saat ini menjerit karena untuk mencapai 500 Kg hasil dari sawah itu sangat susah, sehingga saya berharap kepada teman-teman Komisi III DPRD Parimo yang membidangi hal itu, agar turun langsung melihat kondisi sawah milik petani di Moutong,” ungkap Arifin Dg Palallo pada rapat paripurna DPRD Parimo, Rabu 8 Januari 2020.

Arifin mengatakan, dari hasil resesnya di Kecamatan Moutong, diketahui bahwa permasalahan yang dialami petani di kecamatan itu adalah lumpur di sawah yang disebabkan oleh aktivitas tambang emas yang saat ini dikelola oleh warga negara asing yakni Korea. 

“Karena jarak persawahan dengan tambang emas itu hanya 100 meter, sehingga pada kesempatan ini saya berharap dan meminta Pemerintah Daerah dan Komisi III DPRD untuk sesegera mungkin turun langsung melihat kondisi yang terjadi saat ini di persawahan milik petani di Moutong,” harap Arifin.

Reporter: Zulfikar
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas