Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, KH Zainal Abidin. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, KH Zainal Abidin mengharapkan, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tengah agar menyampaikan ke masyarakat (publik), terkait data jumlah anak yang terkontaminasi narkoba, sehingga diketahui dan muncul kesadaran serta gerakan bersama melawan narkoba.

“MUI memandang data-data anak yang terkontaminasi narkoba perlu disampaikan ke publik, agar muncul tekad untuk terlibat menyelesaikan masalah yang dihadapi,” imbuh Zainal, melalui ponselnya, Rabu, 8 Januari 2020.

Zainal juga mengimbau, anak-anak muda atau milenial di Kota Palu, agar memiliki tekad yang kuat untuk tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, dan obat-obatan terlarang (narkoba).

“Khusus generasi muda yang kita harapkan ke depan akan membangun bangsa dan kota kita ini menjadi kota yang aman, damai dan seterusnya, saya kira harus benar-benar punya tekad dan niat agar tidak terjerumus,” kata Zainal, yang juga Ketua FKUB Sulteng.

Zainal mengatakan, masa depan anak-anak muda di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu akan hilang dan gelap, tatkala terjerumus mengkonsumi apalagi sampai menjalani bisnis dari barang haram tersebut.

“Padahal masa muda adalah masa emas bagi manusia untuk memaksimalkan dan mengeluarkan semua potensi, kemampuan dan bakat yang ada dalam diri dengan belajar, mengasah kemampuan yang dimiliki dan sebagainya,” ujarnya.

Pernyataan Prof Zainal itu, berkaitan dengan data BNNP Sulteng 2019 yang menyebutkan jumlah anak yang berstatus pelajar yang terkontaminasi dengan barang haram (narkoba) sebanyak 816 orang.

Seperti diberitakan Metrosulawesi sebelumnya, BNN Sulteng mengungkapkan terdapat tiga tingkatan penggunaan narkoba, yang berdampak buruk pada seseorang.

“Iya, pertama hanya ingin mencoba narkoba. Hal ini salah satunya karena pengaruh pergaulan dan lingkungan yang kurang baik,” ucap Kepala Bagian Umum BNNP Sulawesi Tengah, Masnawati Rahman, di Palu, Kamis 2 Januari 2020.

Wati, sapaan akrab Masnawati Rahman menyebut ketika seseorang mulai merasa nyaman, enak dan keenakan dengan narkoba setelah mencoba barang haram tersebut.

Maka, orang tersebut akan mulai naik ke tingkat kedua yaitu memakai atau mengkonsumsi barang haram tersebut secara rutin atau teratur pakai, dan yang ketiga akan menjadi pecandu.

“BNN dalam menangani, diawali dengan melakukan assessment untuk memastikan kondisi yang bersangkutan, sejauh mana tingkat penggunaannya, betul betul terlibat dalam coba pakai, teratur pakai dan pecandu,” sebut dia.

Dari hasil assessment itu, ia menjelaskan BNN akan mengeluarkan rekomendasi rawat inap dan rehabilitasi bagi pengguna barang haram itu.

“Nah untuk rehabilitasi, BNN Sulteng akan dilakukan di Makassar, Tanah Merah Kalimantan dan Badoka di Bogor,” urai Wati.

Setiap pengguna, akan melewati proses rehabilitasi selama tiga sampai enam bulan. Sementara rawat jalan berlangsung di Sulteng dalam waktu delapan sampai 12 kali pertemuan.

Berdasarkan data BNN Sulteng tahun 2019 terdapat 967 pasien pengguna, atau sekitar 125 persen telah menjalani rehabilitasi. Dari 967 pasien pengguna, terdapat 816 anak berstatus pelajar terdiri dari pelajar tingkat sekolah dasar sebanyak 149 orang. Kemudian, tingkat SMP sederajat sebanyak 327, dan 340 orang untuk tingkat SMA sederajat.

“Selebihnya mereka adalah pekerja dan orang dewasa,” ujar Wati.

Selanjutnya, pasien pengguna juga akan mengikuti program pascarehabilitasi, oleh BNNP Sulawesi Tengah. Data BNNP Sulteng mencatat sepanjang tahun 2019 terdapat 51 pasien pengguna atau 102 persen, telah mengikuti program pascarehabilitasi.

“Pascarehabilitasi pasien akan melewati program rawat lanjut dan pendampingan,” sebutnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas