Home Inspirasi

Perjuangan Aisyah, Penjual Pisang Pikul Keliling

533
ISTIRAHAT - Aisyah, penjual pisang pikul keliling, warga Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi beristirahat di ruas Jalan Kartini Palu, Selasa, 7 Januari 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

AISYAH, warga Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, hampir setiap harus mengitari jalanan Kota Palu untuk menjalankan profesinya sebagai penjual pisang pikul keliling.

Meski hasilnya tak seberapa, Aisyah merasa nyaman dengan profesinya sebagai penjual pikul pisang keliling. Sengatan terik matahari dan tetes hujan tak lagi menghambatnya. Menurutnya, hal itu sudah biasa.

Perjuangan Aisyah sebagai penjual pisang pikul keliling tak hanya untuk sekadar sesuap nasi. Ia mengaku sebagian penghasilannya dari menjual pisang untuk membiayai anaknya menempuh pendidikan di salah satu sekolah dasar di Desa Kalora.

Ibu muda dengan dua anak ini menuturkan, hasil penjualan pisangnya dalam sehari hanya Rp100 ribu. Dari hasil penjualan tersebut, Aisyah hanya mengantongi untung sebesar Rp50.000. Itu karena pisang yang dijajakannya bukan hasil kebunnya.

“Ini bukan pisang saya. Pisang ini saya beli dari Pasar Inpres. Saya beli 20 sisir dengan harga Rp50.000,” tutur Aisyah saat ditemui di seputaran Jalan Kartini Palu, Selasa, 7 Januari 2020.

Suami Aisyah sendiri, Amran, berprofesi sebagai tukang becak di Pasar Inpres Manonda Palu. Untuk menuju Palu, Aisyah tidak selalu bersama Amran. Amran terkadang harus lebih dahulu menuju Palu untuk mengais rejeki sebelum fajar menyingsing.

Sementara Aisyah baru bisa berangkat ke Palu sekitar pukul 07.00 wita. Ia langsung menuju Pasar Inpres membeli pisang dari pemasok. Langkah kaki Aisyah untuk mengais rejeki dimulai dari Pasar Inpres tersebut.

Dengan memikul pisang sekitar 20 sisir dan beberapa bungkus kacang kulit, perjalanannya dari Pasar Inpres menuju jalan Sis Aljufri, lanjut ke Jalan Gajah Mada Palu, Jalan Juanda, Jalan Moh. Hatta, Jalan Moh. Yamin, Jalan Kartini dan beberapa ruas jalan lainnya.

“Kadang saya keliling sampai jam enam sore, karena masih banyak pisang yang saya bawa,” ucapnya.

Namun saat sedang beruntung, perjuangan Aisyah menjajakan pisangnya tidak sampai pukul 15.00 wita. Itu karena terkadang ada pembeli yang langsung memborong habis pisang yang dijajakannya.

Dalam mengelilingi Kota Palu, Aisyah biasanya bersama-sama sejumlah warga yang juga dari Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Saat siang hari, Aisyah dan rekannya memilih beristirahat di ruas Jalan Kartini, tepatnya di depan Kantor Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah.

“Hasil penjualan pisang ini memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, tapi mau bagaimana lagi, dicukup-cukupkan saja,” tandas Aisyah.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas