Wakil Ketua I DPRD Parimo Faisan saat reses di Desa Parigi Mpuu. (Foto: Ist)

Parimo, Metrosulawesi.id – Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Faisan mengungkapkan, masyarakat Desa Kayuboko Kecamatan Parigi Barat menginginkan agar tambang emas di desa tersebut menjadi tambang rakyat. Keinginan masyarakat itu disampaikan saat Faisan melakukan reses di desa tersebut.

Selain Kayuboko, Faisan juga melalukan reses di desa Desa Parigi Mpuu Kecamatan Parigi Barat pada Sabtu 21 Desember 2019 dan Minggu 22 Desember 2019.

“Masyarakat Desa Kayuboko menginginkan agar tambang emas yang ada di desa mereka itu menjadi tambang rakyat, itu yang paling utama mereka usulkan kepada saya saat reses di Desa Kayuboko, karena menurut mereka bahwa dengan adanya tambang tersebut mereka mampu menyekolahkan anaknya serta dapat meningkatkan biaya hidup mereka sehari – hari,” ungkap Faisan, Wakil Ketua I DPRD Parimo, kepada Metrosulawesi di ruang kerjanya, Senin 23 Desember 2019.

Lanjut Lelo sapaan akrabnya, bahwa selama ini lokasi tambang emas tersebut adalah ilegal dan yang melakukan penambangan di sana adalah pihak pengusaha saja. Maka sebaiknya Pemerintah Daerah agar bisa memberikan ruang pada masyarakat khususnya masyarakat Desa Kayuboko untuk dapat mengelola tambang emas itu menjadi tambang rakyat.

“Itu merupakan permintaan khusus masyarakat desa Kayuboko kepada saya saat reses di desa mereka,” terang Lelo.

Selain soal tambang emas, masyarakat Kayuboko juga meminta perbaikan Puskesmas Pembantu (Pustu), karena saat ini Pustu tersebut sudah mulai rusak bangunannya saat Gempa September 2018 lalu. Kemudian pekerjaan jalan yang menghubungkan antara Desa Kayuboko dan Baliara serta jalan lingkungan Desa Kayuboko yang sudah puluhan tahun belum dilakukan pengaspalan.

“Untuk itu, saya selaku Wakil Ketua DPRD akan menjaring Aspirasi Masyarakat Desa Kayuboko untuk di bicarakan pada Pemda Parimo,” ujarnya.

Lelo mengatakan, untuk Desa Parigi Mpuu, masyarakat meminta agar segera dilakukan pemasangan perlindungan tebing yang berada di pinggiran sungai, karena jarak sungai dari pemukiman warga hanya sekitar 30 meter.

“Untuk itu, masyarakat Parigi Mpuu meminta agar secepatnya di buatkan talut penahan tebing atau boronjong. Karena Sekitar 100 rumah di desa itu yang terancam,” tuturnya.

Lelo menambahkan, selanjutnya, masyarakat juga meminta renovasi jembatan Desa Baliara dan Parigi mpuu yang kondisi penyangganya tergantung. Kemudian jembatan penghubung ke jalan kantong produksi di Desa Parigi mpuu serta normalisasi aliran sungai yang mengairi sawah masyarakat.

“Untuk itu, dari hasil reses itu saya akan tindak lanjuti dalam catatan reses yang kemudian akan saya sampaikan di hadapan paripurna nanti pada tanggal 30 Desember 2019 mendatang,” pungkasnya.

Reporter: Zulfikar
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas