Pembangunan galangan kapal tradisional yang bertempat di Parigi Moutong. (Foto: Zulfikar/ Metrosulawesi)

Parimo, Metrosulawesi.id – Pembangunan galangan kapal tradisional yang bertempat di Desa Silabia Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) dikeluhkan. Pasalnya, diduga menyalahi aturan lingkungan hidup dengan melakukan pembabatan hutan bakau atau mangrove.

Diketahui, pekerjaan dengan nilai kontrak Rp.468. 500.000 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019, dikerjakan sejak Agustus itu tidak diketahui apakah memiliki izin lingkungan atau tidak.

“Karena diketahui pekerjaan ini berada di dua lokasi yakni di Desa Tinombo dan Desa Silabia Kecamatan Tinombo,” kata seorang kepada Metrosulawesi, Senin 2 Desember 2019 di Tinombo.

Menurut sumber, seharusnya pekerjaan tersebut, harus melengkapi izin lingkungan jangan sampai pekerjaan tersebut tidak mengantongi izin yang dimaksud. 

“Sehingga hal ini belum diketahui apakah pemenang tender yang mengurusi izinnya atau pihak Dinas Perhubungan, ini tidak ada kejelasan,” terangnya.

Dia menjelaskan, bahwa pohon bakau tersebut perlu puluhan tahun agar menjadi lebat seperti saat ini, dari proses penanaman awal yang memakan waktu,yang menjadi pertanyaan apakah pohon bakau yang ditebang akan ditanam kembali atau tidak.

Kadis Perhubungan Parimo, Joni Tagunu dikonfirmasi terkait pembuatan galangan kapal tradisional, membantah adanya pembabatan pohon mangrove. Sebab, pihaknya hanya mengalokasikan item kegiatan tersebut.

“Tidak ada penebangan yang kita lakukan, lokasi itu sudah ada jalan yang dibangun, sehingga galangan kita bangun,” ungkap Joni Tagunu melalui ponselnya Senin 2 Desember 2019.

Joni mengatakan, dirinya hanya diperintah oleh Bupati Parimo untuk membangun di lokasi tersebut. Pihaknya menyarankan untuk mempertanyakan ke Dinas PUPRP Parimo, karena mereka lebih mengetahuinya.

“Saya menyarankan, agar tanya sama pihak Dinas PUPRP, karena mereka yang bangun itu jalan, karena kami hanya membangun galangan kapal tradisional itu,” tutur Joni.

Reporter: Zulfikar
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas