Home Palu

Unismuh Palu akan Buka Pusat Bisnis

Dr. Rafiuddin Nurdin. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu berencana membuka pusat bisnis, sebagai salah satu alternatif penghasilan kampus selain dari Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) mahasiswa.

Wakil Rektor I Unismuh Palu, Dr. Rafiuddin Nurdin, mengatakan, sebagai bentuk keseriusan atas wacana tersebut, awal 2019, Unismuh Palu sudah melakukan pengukuran lokasi yang ingin dijadikan pusat bisnis, dimana sebelumnya ada satu lokasi yang dijadikan tempat pusat kuliner, sekalipun saat ini masih banyak hal yang perlu dibenahi.

“Nantinya selain didirikan pusat kuliner, juga akan didirikan koperasi dan beberapa hal lainnya yang dinilai dibutuhkan oleh civitas akademika Unismuh Palu. Unismuh juga sudah memiliki gedung Islamic Center, gedung itu bisa dimanfaatkan untuk umum, seperti seminar, acara hajatan perkawinan, atau bedah buku dan sebagainya, karena selain besar, juga tempatnya strategis dan luas halaman parkirnya,” jelas Rafiuddin di Palu, belum lama ini.

Menurut Rafiuddin, jika semua wacana itu bisa berjalan dengan baik, maka kesejahteraan kampus bisa terwujud, semua fasilitas yang dibutuhkan dalam pengembangan Catur Dharma Perguruan Tinggi bisa disedikan dengan paripurna.

“Memang seharusnya Perguruan Tinggi Swasta melakukan hal itu, dengan membuka pusat-pusat bisnis untuk menopang eksistensi kampus, dan meningkatkan kesejahteraan kampus, dosen dan pegawainya sebagaimana yang telah dilakukan oleh sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah (PTMA),” jelasnya.

Kata dia, dari 167 PTMA, rata-rata yang besar berawal dari pusat bisnis yang dibangun, khususnya yang ada di Pulau Jawa, seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Univesitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Sejumlah kampus ini, kata dia, sudah memiliki rumah sakit, pertamina, hotel, dan perbengkelan, inilah yang menopang eksistensi kampus itu. Bahkan secara tidak langsung memberikan dampak ekonomi bagi dosen dan stafnya, sehingga menjadi daya tarik calon mahasiswa.

“Karena kampus terlihat hidup, banyak aktifitas dalam kampus,” katanya.

“Perguruan Tinggi Swasta (PTS), selama ini hanya memiliki satu sumber penghasilan yakni SPP mahasiswa, sementara kondisi zaman menuntut perguruan tinggi mengeluarkan pembiayaan operasional yang tidak sedikit dan cenderung semakin besar, sementara besaran SPP mahasiswa juga harus bisa menyesuaikan dengan kondisi ekonomi mahasiswa,” ujarnya.

Maka kata Rafiuddin, solusi atas kondisi tersebut adalah membuka pusat bisnis, yang nantinya menjadi salah satu sumber penghasilan penopang eksistensi kampus di tengah ketatnya persaingan dunia perguruan tinggi.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas