DZIKIR BERSAMA - Kepala Kanwil Kemenag Sulten, H. Rusman Langke saat mengikuti dzikir yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Asse, di halaman Kanwil Kemenag Sulteng, Ahad, 3 November 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2019, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar dzikir dan tabligh akbar, di halaman Kanwil Kemenag Sulteng, Ahad, 3 Novemver 2019.

Pada Hari Santri tahun 2019 kali ini mengusung tema “Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia”.

Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, H. Rusman Langke mengatakan, isi perdamaian diangkat berdasarkan fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian.

“Di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum. Para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada hukum yang otentik,” ujar Rusman.

Menurut Rusman, pesantren merupakan benteng pertahanan pembinaan generasi muda untuk menegakkan NKRI. Hal ini telah terbukti bagaimana besarnya kontribusi pesantren dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini tidak dapat dipungkiri alumni-alumni pondok pesantren telah memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan nasional.

“Olehnya pemerintah memberikan penghargaan dan apresiasi besar pada eksistensi pondok pesantren, dengan mengeluarkan UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pondok Pesantren. Dan Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” ungkapnya.

Rusman mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional itu, sebagai upaya mensupport pondok pesantren dan para kiyainya  untuk tidak henti- hentinya memberikan kontribusi pada pembinaan generasi muda bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan.

“Semangat keagamaan yang dikembangkan di Indonesia saat ini berasal dari intisari semangat keagamaan yang dikembangkan  oleh para kiyai di pondok pesantren, yaitu: Rahmatan Lil Alamin, Islam washatiyah,  Islam moderat,  toleran,  tawashut dan tawazun, yang kemudian dikemas dalam slogan moderasi beragama,” jelasnya.

Rusman berharap, santri sebagai garda terdepan pembela NKRI dan penebar kedamaian di persada bumi Indonesia dan dunia.

Peringatan Hari Santri ini diisi taushiah oleh Dr Lukman Tahir, acara itu diikuti sepuluh pondok pesantren yang ada di Kota Palu dan Kabupaten Sigi yaitu Pondok Pesantren Alkhairaat Putri, Alkhairaat Putra, Mambush Sholihin, Al Istiqomah Ngatabaru, Alkhairaat Kampus Madinatul Ilmi, Raudhatul Mustafa Lil Khairaat, Ribath Istiqlal Kejuruan, Hidayatullah Himatus Sunnah, dan Tahfidz Qur’an Al Anshar.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas