Home Pendidikan

Banyak Guru Belum Paham Pembelajaran Abad 21

264
Kadis Dikbud Sulteng H Irwan Lahace membuka kegiatan workshop manajemen pengelolaan kurikulum SMA, Senin, 28 Oktober 2019. (Foto: Syahril Hantono/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Pembelajaran abad 21 menjadi fokus pemerintah saat ini. Terkait fokus itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulteng menggelar workshop manajemen pengelolaan kurikulum SMA, Senin, 28 Oktober 2019.

Kegiatan yang digelar di Hotel Paramasu Palu diikuti 65 pengawas SMA/SMK negeri dan swasta se Sulteng. Salah satu titik fokus workshop yang berlangsung hingga 31 Oktober 2019 itu yakni implementasi Kurikulum 2013 (K13) Revisi 2017.

Salim, salah satu pemateri mengatakan revisi K13 dilakukan karena mengikuti perubahan teknologi informasi yang sangat cepat di abad 21 ini. Dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi, sehingga Standar Isi dalam K13 harus diubah karena sudah tidak cocok dengan kondisi sekarang.

Dia mengatakan keterampilan yang dibutuhkan di abad 21 yakni kemampuan kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreatif. Karena itu paradigma pembelajaran mengalami pergeseran. Paradigma belajar abad 21 terdiri dari informasi, komputasi, otamsi, dan komunikasi.

Kadis Dikbud Sulteng H Irwan Lahace dalam sambutannya antara lain menyinggung soal pendidikan di abad 21. Menurutnya, berdasarkan hasl monitoring dan evaluasi pasca pelatihan wakasek kurikulum tahun 2019, menunjukkan rata-rata sekolah sudah menyusun dan mengembangkan dokumen kurikulum sesuai Permendikas No19 tahun 2007 dab Permendikbud No61 tahun 2014.

Temuan ini dperkuat data bahwa sekitar 50 persen sekolah menyetor dokumen kurikulum di Dinas Dikbud Sulteng. Hal tersebut didukung oleh data hasil monitoring dan evaluasi bahwa masih banyak guru belum memahami pembelajaran abada 21 dan penilaian konsep higher order thinking skills (HOTS).

Konsep HOT adalah cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain. Keterampilan mental ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Terkait hal tersebut, kata Kadis, pengawas sekokah saangat berperan dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah, terutama dalam melakukan pembinaan sekolah. Kompetensi supervisi manajerial dan supervisi akademik yang dimiliki pengawas sekolah sangat erat kaitannya dengan manajemen pengelolaan kurikulum di sekolah.

‘’Hal itu dibutuhkan agar guru-guru dan kepala sekolah mempunyai kompetensi yang baik untuk mengantisipasi segala kebutuhan peserta didik terutama menghadapi abad 21,’’ katanya.

‘’Karena itu saya meminta kepada seluruh pengawas sekolah untuk mengoptimalkan kompetensinya di sekolah binaannya,’’ tambahnya.

Reporter: Syahril Hantono

Ayo tulis komentar cerdas