Transaksi jual beli di salah satu toko bangunan di Jalan Emy Saelan, Kecamatan Palu Selatan. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Setahun bencana alam gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi yang melanda beberapa wilayah di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu, pengusaha bahan bangunan di Kota Palu mengalami peningkatan cukup drastis.

Seperti yang disampaikan Welson, pemilik toko Metro Bangunan di Jalan Emy Saelan, Kecamatan Palu Selatan. Ia membenarkan permintaan masyarakat terhadap beberapa bahan bangunan seperti semen dan baja ringan cukup tinggi. Bahkan, stok semen dan baja ringan seringkali habis karena banyaknya permintaan.

Dia mengaku sejak terjadinya bencana alam dahsyat di sejumlah wilayah di Sulteng seperti Donggala, Parigi Moutong, Kota Palu dan Kabupaten Sigi, bahan bangunan semen dan baja ringan sangat laris dijual. Pedagang bahkan kewalahan untuk memenuhi semua permintaan masyarakat, padahal stok yang ada cukup memadai.

“Karena permintaan tinggi, makanya berapapun stok yang ada tetap tidak cukup sehingga harus mendatangkan lagi dari Surabaya. Kalau harga besi ukuran 6 inci harganya Rp29 per batang, besi 8 inci sekitar Rp46 ribu per batang, dan besi 10 inci harganya Rp69 ribu. Untuk pipa air berbagai ukuran dan merek mulai dari Rp22 ribu sampai dengan Rp95 ribu,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Randi, seorang pedagang bahan bangunan di Jalan WR Supratman Kecamatan Palu Barat. Ia mengaku permintaan terhadap berbagai jenis bahan bangunan terutama semen, baja ringan, tripleks dan seng serta cat cukup tinggi.

“Dilihat ada banyak yang datang berbelanja di toko-toko bahan bangunan. Harga semen bervariasi antara Rp60.000 – Rp65.000/sak berbagai merek. Begitu pun dengan yang lain seperti besi, pipa hingga cat,” ungkapnya.

Sebelumnya, Harga semen sempat melonjak tajam hingga mencapai Rp80.000/sak selama tiga bulan pascabencana. Berikutnya, harga baja ringan ukuran 75X70 cm untuk merek Kaso dan Taso dijual pedagang Rp90.000/batang. Sebelumnya harga normal sebelum bencana Rp60.000/batang.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, Zainuddin Hak mengatakan tingginya permintaan terhadap bahan bangunan di Palu dikarenakan banyak bangunan yang rusak akibat gempa mulai dibangun kembali baik bangunan pemerintah mapun rumah-rumah warga.

Dalam beberapa bulan terakhir ini memang pembangunan, termasuk infranstruktur yang rusak seperti jaringan irigasi, jembatan, jalan, perkantoran, sarana pendidikan, kesehatan dan rumah penduduk terus digenjot. Belum lagi bangunan lain seperti hotel-hotel yang rusak diterjang gempa bumi, tsunami dan likuefaksi mulai dibangun lagi sehingga membutuhkan banyak bahan bangunan.

Guna kelancaran pembangunan pasca bencana alam di beberapa wilayah di Sulteng, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan para distributor dan pedagang bahan bangunan untuk menyediakan stok dalam jumlah yang memadai. Langkah tersebut sekaligus untuk menjaga kestabilan harga bahan bangunan di pasaran.

“Kami terus melakukan pengecekan dan jika stok mulai menipis, langsung meminta kepada distributor dan pedagang untuk segera menambah pasokan agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat menimbulkan gejolak harga,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas