Home Nasional

Badan Geologi Luncurkan Atlas Zona Rentan Likuefaksi Indonesia

269
BERI PENJELASAN - Dr Supartoyo, peneliti Badan Geologi Bandung sedang menjelaskan gempa setahun lalu tepat di garis patahan sesar Palu Koro kepada peserta field trip likuefaksi di Jalan Cemara IV, Palu Barat, Rabu, 9 Oktober 2019. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)
  • Jadi Rujukan Pemprov dalam Membangun dan Menata Wilayah

Palu, Metrosulawesi.id – Satu tahun berlalu sejak kejadian bencana gempabumi dan likuefaksi Palu, Sigi dan Donggala, menjadi kajian berbagai kalangan dan masih menyisakan perdebatan dalam upaya memahami mekanisme yang terjadi secara komprehensif. Upaya mitigasi di masa mendatang dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana serupa pun perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.

Salah satunya diwujudkan Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan meluncurkan Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia. Secara resmi peta tersebut dibagikan di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu 9 Oktober 2019.

Launching atlas zona kerentanan likuefaksi, ditandai dengan pemberian peta tersebut langsung oleh Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar kepada Sekdaprov Sulteng, Mohamad Hidayat Lamakarate, Direktur Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan Pedesaan Bappenas, Velix Vernando Wanggai, dan Direktur Penataan Kawasan Kementerian ATR, Sufrijadi.

Selain peluncuran atlas peta zona kerentanan likuefaksi, Badan Geologi Kementerian ESDM juga menyelenggarakan kegiatan Talkshow dengan tema Mengenal Likuefaksi Untuk Menyelaraskan Kehidupan di Atas Potensi Bahayanya.

Adapun maksud dan tujuan penyelenggaraan acara talkshow adalah untuk memperingati kejadian gempa dan likuefaksi Palu tahun 2018 yang telah mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa yang besar.

Di samping itu melalui acara tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM mengajak para pemangku kepentingan terkait kebencanaan di Indonesia untuk senantiasa meningkatkan upaya-upaya mitigasi, mensinergikan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, sehingga harapannya semua elemen di masyarakat siap siaga dalam menghadapi ancaman bencana seperti likuifaksi.

Kegiatan yang diselenggarakan sehari itu, menghadirkan empat narasumber, yakni Rudy Suhendar, Mohammad Hidayat, Velix Vernando Wanggai, dan Sufrijadi.

Acara Talkshow dilanjutkan kegiatan kunjungan lapangan (field trip) ke daerah terdampak likuefaksi di daerah Balaroa Palu.

Acara ini juga dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi, Asosiasi Profesi, termasuk Insan Media, dengan jumlah peserta yang diundang mencapai 180 orang.

“Ancaman bencana di Indonesia tidak terlepas dari kondisi regional wilayahnya yang berada di atas daerah pertemuan lempeng-lempeng besar dunia, yang menjadi sumber guncangan gempa akibat aktivitas tumbukan antar lempeng. Pertemuaan tiga lempeng bumi besar yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik menimbulkan potensi ancaman gempabumi sepanjang masa bagi bangsa Indonesia. Selain ancaman gempabumi, bahaya ikutannya seperti likuefaksi turut pula mendatangkan ancaman tersendiri bagi keselamatan jiwa masyarakat maupun keamanan infrastruktur,” ujar Rudy Suhendar saat memberikan sambutan.

Rudy menyebut, likuefaksi sebagai bahaya ikutan pasca gempabumi merupakan proses peluluhan massa tanah akibat guncangan gempa, yang menyebabkan tanah kehilangan kekuatan gesernya dan berperilaku serupa fluida (cair). Peluluhan atau mencairnya massa tanah dapat mengakibatkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya seperti bangunan miring, kerusakan pada pondasi, timbulnya retakan-retakan, hingga pada amblasnya bangunan.

“Peluluhan tanah yang terjadi di Palu setahun yang lalu, turut memicu pergerakan dan deformasi tanah permukaan yang mengakibatkan perpindahan tanah permukaan, yang merusak bangunan-bangunan di permukaan dan pada akhirnya menimbulkan banyak korban jiwa,” jelas Rudy.

Ia menambahkan, kerentanan terhadap likuefaksi yang dimiliki suatu wilayah yang berada pada daerah rawan gempa, berjenis tanah pasir halus yang seragam dan keberadaan air tanah yang dangkal menjadi meningkat terhadap ancaman bahaya likuefaksi. Namun, di sisi lain wilayah-wilayah perkotaan cukup banyak berkembang di atas daerah-daerah dengan kondisi sebagaimana tersebut di atas seperti Kota Banda Aceh, Padang, Bengkulu, Yogyakarta, Palu, dan lainnya.

“Belajar dari pengalaman kebencanaan terbaru di Palu, Sigi dan Donggala, Bangsa Indonesia diingatkan untuk senantiasa waspada terhadap ancaman bahaya yang ada di sekitarnya, baik ancaman bencana utama maupun bahaya ikutannya, collateral hazard. Di samping itu, diperlukan peningkatan upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana. Upaya-upaya tersebut perlu senantiasa ditingkatkan, dipantau dan dievaluasi oleh karena ancaman bencana di Indonesia sangat besar,” urai Rudy.

Fenomena likuefaksi beberapa kali terjadi di Indonesia. Hingga kejadian pasca gempa di Palu-Donggala mengingatkan bangsa ini betapa informasi ancaman bahaya dan kerentanannya menjadi penting ketersediaannya, baik bagi pemangku kepentingan di pusat, di daerah, bahkan bagi masyarakat umum. Sebagai upaya penyediaan informasi potensi kebencanaan bagi masyarakat dan bagi peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi salah satu ancaman bahaya ikutan berupa likuefaksi, yang disajikan dalam Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia.

Terkait dengan dikeluarkannya Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia, Sekdaprov Sulteng, Hidayat menyatakan bahwa peta tersebut akan dijadikan rujukan bagi Pemprov Sulteng dalam melakukan pembangunan dan penataan wilayah, sebagai salah satu wilayah rentan likuefaksi yang masuk dalam peta.

“Yang jelas bahwa kami di pemerintah daerah akan menjadikan peta yang dikeluarkan sebagai pedoman, walaupun itu masih peta Indonesia, tapi paling tidak sudah memberikan informasi kepada kita tentang wilayah yang rentan terhadap likuefaksi. Nah, tadi saya sudah mengatakan perlu ada peta yang lebih rinci lagi, sehingga kelihatan mana-mana wilayah yang rawan,” aku Hidayat.

Menurutnya, dengan adanya peta tersebut, dapat memberikan informasi kepada masyarakat secara luas, karena ada dasar yang menjadi acuannya.

“Jadi saya kira yang terpenting adalah kita bisa memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat, dan bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang kawasan kami rawan atau tidak rawan, kawasan kami boleh ditempati atau tidak boleh ditempati. Yang jelas kalau kebijakan Bapak Gubernur, merah tidak berarti semua tidak bisa ditempati. Tetapi ditempati dengan perlakuan, itu saja,” tandas Hidayat.

Peta Kerentanan Likuefaksi

Badan Geologi mulai melakukan penyelidikan fenomena likuifaksi sejak tahun 1990-1994 di daerah Denpasar, Maumere dan Flores. Hingga 2018, sejumlah kota besar dan daerah lain turut pula dikaji dan diselidiki potensi dan fenomena likuefaksi yang terjadi diantaranya Kota Padang, Bengkulu, Pidie Jaya, Meulaboh, Yogyakarta, Banyuwangi, Denpasar, Lombok, Maumere, Palu, dan Gorontalo.

Badan Geologi melalui Bidang Geologi Teknik pada Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan melakukan penyusunan Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia, sebagai salah satu pelayanan publik bagi bangsa dan masyarakat Indonesia, untuk mendukung peningkatan upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.

Peta tersebut disusun berdasarkan hasil-hasil penyelidikan dan pengalaman empiris para ahli di Badan Geologi dan berkolaborasi dengan ahli-ahli lainnya di luar lingkungan Badan Geologi.

Daerah-daerah yang diidentifikasi dapat mengalami kejadian likuefaksi akibat guncangan gempa diantaranya yang memiliki kriteria-kriteria berikut ini:

  1. Daerah yang berpotensi mengalami guncangan gempa dengan percepatan tanah puncak (PGA – peak ground acceleration) 0,1g atau lebih tinggi.
  2. Daerah yang memiliki susunan lapisan tanah berupa endapan muda berumur Kuarter yang berupa susunan tanah non kohesif (pasir halus seragam, lanau nonplastis, dan kerikil) dan/atau bersusunan atas perselingan tanah kohesif – non kohesif.
  3. Daerah yang memiliki keberadaan muka airtanah relatif dangkal (kedalaman < 9,0 m di bawah muka tanah setempat).
  4. Daerah-daerah yang berkemiringan relatif landai (kemiringan < 8%) utamanya pada tekuk lereng dalam kaitannya terhadap kejadian dengan mekanisme gabungan (combined mechanism).

Dengan terpenuhinya kriteria yang disebutkan, maka akan meningkatkan kerentanan suatu area mengalami likuefaksi, yang selanjutnya dapat menimbulkan kerusakan pada tanah permukaan, yang dapat berdampak buruk pada keberadaan infrastruktur atau bangunan-bangunan di atasnya. Kerusakan pada bangunan perumahan, perkantoran ataupun infrastruktur lainnya berkorelasi dengan tingkat kerusakan yang timbul pada tanah permukaan akibat likuefaksi.

Berbagai tingkat kerusakan yang ditimbulkan dari kejadian likuefaksi di Indonesia berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Di dalam tahap awal ini, Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia memberikan gambaran sebaran daerah-daerah yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tertentu. Penilaian kerentanan likuefaksi didasarkan pada tingkat kerusakan yang mungkin terjadi pada permukaan tanah relatif antara satu daerah terhadap daerah lainnya. Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia disusun dalam batasan wilayah provinsi.

Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia disusun bagi penyajian informasi berskala 1:100.000 yang masih bersifat regional. Peta ini merupakan informasi awal yang dapat dipergunakan bagi peruntukkan perencanaan penataan ruang berskala regional dan informasi awal bagi penyusunan upaya mitigasi bencana. Peruntukkan bagi perencanaan detil yang sifatnya pembangunan fisik berskala besar masih memerlukan penyelidikan rinci bagi tujuan pembangunan tersebut.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia masih merupakan informasi awal bagi berbagai kebutuhan yang sifatnya regional maka peta ini masih memerlukan upaya-upaya pemuktahiran dan updating data terkait.

Pemuktahiran dan penambahan data terbaru akan meningkatkan kedetilan informasi yang tersaji dalam peta. Pemuktahiran peta akan dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan di masa mendatang.

Belajar dari pengalaman kebencanaan terbaru di Palu, Sigi dan Donggala, mengingatkan bangsa Indonesia untuk senantiasa waspada terhadap ancaman bahaya yang ada di sekitarnya baik ancaman bencana utama maupun bahaya ikutannya (collateral hazard). Di samping itu, diperlukan peningkatan upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana. Upaya-upaya tersebut perlu senantiasa ditingkatkan, dipantau dan dievaluasi oleh karena ancaman bencana di Indonesia sangat besar.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas