Home Sulteng

Pengungsi Harus Pindah ke Huntara

143
SISA TSUNAMI - Warga mengangkat bangkai sepeda motor yang berhasil diambil dari kedalaman sekira 20 meter di dasar laut di lokasi terdampak bencana gempa dan tsunami di Pantai Dupa Indah, Palu, Sulawesi Tengah, Senin 7 Oktober 201. (Antara Foto/ Mohamad Hamzah/ aww)
  • Wapres: Yang di Zona Merah Tidak Diberikan Listrik

Palu, Metrosulawesi.id – Sampai saat ini, korban bencana di Palu masih banyak berada di tenda-tenda pengungsian. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengimbau pengungsi pindah ke Hunian sementara (Huntara).

“Banyak Huntara yang masih kosong, harus pindah ke Huntara,” ungkap Wapres didampingi Gubernur Sulteng Longki Djanggola di Palu, Senin, 8 Oktober 2019.

Di hadapan Wapres, Gubernur Longki mengungkapkan saat ini masih terdapat sekitar 500 bilik Huntara yang masih kosong. Jusuf Kalla menambahkan bagi pengungsi yang masih nekat mendiami zona merah tidak akan diberikan bantuan, air bersih dan listrik.

“Tidak boleh tinggal di zona merah nanti tak diberikan bantuan air besih dan aliran listrik,” tegas JK.

JK meminta aparat untuk menertibkan bangunan-bangunan yang masih berada di zona merah rawan bencana. Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulteng Bartholomeus Tandigala mengungkapkan pengungsi yang masih bertahan di tenda-tenda disebabkan beberapa faktor, salah satunya karena menunggu Hunian tetap (Huntap).

Dia mengatakan penyintas yang masih berada di tenda pengungsian hampir di semua kabupaten/kota terdampak bencana 28 September 2018. Namun untuk angka pasti Bartholomeus mengaku belum diketahui.

Itu karena masyarakat yang saat ini masih di tenda pengungian tidak menetap dalam waktu tertentu. Dia mencontohkan saat salah satu tenda dihuni pada pagi hari, namun malamnya sudah kosong.

“Mungkin kabupaten/kota ada datanya, mereka yang tahu persis, kalau kami hanya menerima masukan. Tapi kami perkirakan jumlahnya hanya ratusan kepala keluarga,” ucap Bartholomeus akhir Juni lalu.

Bartholomeus mengungkapkan ada pula beberapa penyintas yang masih di tenda pengungsian disebabkan Huntara yang akan ditempati belum lengkap. Diakuinya sejumlah Huntara yang sudah selesai dibangun memang belum didukung sarana air bersih, listrik dan lainnya. Karena hal tersebutlah masyarakat belum masuk ke Huntara. Namun diupayakan dalam waktu tidak lama lagi Huntara akan dilengkapi sarana dan fasilitas pendukung.

“Huntara paling banyak belum lengkap yaitu yang dibangun NGO, karena memang mereka hanya membantu membangun,” ungkapnya.

Adapun Huntara yang dibangun Pemerintah Pusat melalui Satgas PUPR sebanyak 699 unit. Huntara tersebut tersebar disejumlah wilayah di Palu, Sigi dan Donggala yang terdampak bencana.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas