Home Artikel / Opini

DSLNG Datang, Penyintas Bencana Senang

268
BANTUAN DSLNG - Ketua RT 06 RW 05 Kelurahan Pengawu, Kecamatan Tatanga, Iksan, menunjukkan sumur bor yang dibangun oleh PT DSLNG di pelataran Masjid Al Azhar, Kompleks Perumahan Pengawu Permai, Palu. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)
  • Ketika Relawan DSLNG Bantu Korban Bencana

Bala bantuan dari PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) begitu berkesan di hati penyintas bencana alam di Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala). Berikut penuturan penyintas di Palu dan di Sigi.

PUSKESMAS Sangurara yang terletak di Jalan Keramik Kelurahan Duyu, Palu Barat, berhenti beroperasi. Tak satupun tim medis yang memberikan pelayanan kesehatan. Sementara banyak warga yang butuh perawatan medis pascagempa dahsyat bermagnitudo 7,4 SR pada Jumat, 28 September 2018.

“Sejak gempa hari Jumat itu, tidak ada pelayanan di Puskesmas Sangurara,” ungkap Iksan, ditemui Metrosulawesi di rumahnya di Kompleks Perumahan Pengawu Permai Blok F2 Nomor 2 Kelurahan Pengawu Kecamatan Tatanga, Palu, Kamis, 3 Oktober 2019.

Iksan adalah Kepala Tata Usaha Puskesmas Sangurara saat bencana alam itu terjadi. Pria 58 tahun yang sekarang sudah pensiun, menceritakan, pelayanan baru dibuka kembali lima hari setelah gempa besar itu. Saat itu, ada tim medis dari PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang membangun posko di Puskesmas Sangurara.

“Ada dokter, perawat, juga apoteker. Lengkap mereka datang,” kata Iksan.

Tim medis DSLNG yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Banggai, tidak dengan tangan hampa. Mereka membawa peralatan medis dan obat-obatan. Pelayanan kesehatan di puskesmas yang sempat lumpuh, akhirnya beroperasi lagi, Rabu 3 Oktober 2018. Warga pun senang karena sudah ada tim medis. Pasien patah tulang, luka-luka, dan sesak napas mulai berdatangan.

“Tim medis dari Donggi Senoro itulah yang pertama kali memberikan pelayanan pascagempa di Puskesmas Sangurara, warga senang karena sudah ada dokter yang melayani,” kata Iksan sembari menunjukkan foto-foto dokumentasi di ponselnya.

Setiap hari sedikitnya 50 pasien yang datang dengan keluhan berbeda.

“Ada juga ibu melahirkan. Pokoknya, banyak pasien yang datang setelah tim medis dari Donggi Senoro membuka pelayanan,” ujarnya.

Bukan hanya peralatan medis dan obat-obatan, tim dari DSLNG juga membawa generator set (genset) untuk penerangan listrik, lengkap dengan bahan bakar minyak (BBM). Saat itu, listrik PLN di Palu, padam total. BBM juga sulit didapatkan.

“Mereka tampaknya sangat siap dan berpengalaman menangani korban di lokasi bencana,” ujar Iksan.

Selain tenaga medis, relawan DSLNG nonmedis juga datang dan terjun ke titik-titik pengungsian untuk membagikan makanan, air minum, pakaian, alas tidur, tenda, perlengkapan bayi, sampai peralatan ibadah.

“Logistik itu diangkut menggunakan mobil perusahaan yang mereka bawa sendiri. Jadi selain tenaga medis, ada juga relawan yang ke lapangan. Kira-kira jumlahnya 30-an orang semua yang tinggal di posko darurat di Puskesmas Sangurara,” jelas Iksan yang menyaksikan tim DSLNG bekerja siang malam.

Menurutnya, tim medis dan para relawan DSLNG datang di saat yang tepat di masa tanggap darurat. Penyintas bencana alam saat itu sangat membutuhkan pertolongan medis dan logistik.

“Hampir satu bulan tim medis itu melayani pasien. Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Donggi Senoro,” ujar Iksan yang rumahnya juga rusak akibat gempa.

Air bersih

Di tempat lain, tim DSLNG memasuki Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, sekitar 10 kilometer dari Kota Palu. Selain diguncang gempa, desa itu juga dilanda likuefaksi. Lahan seluas 200 hektare di Dusun II, bergeser hingga tiga kilometer. Gempa itu juga mengakibatkan pipa air yang ditancapkan ke tanah patah.

“Makanya, air susah,” kata Kukuh, warga Jono Oge ditemui Metrosulawesi, Sabtu 28 September 2019.

Sama halnya di Kelurahan Pengawu, Palu, tim DSLNG datang ke desa itu untuk menyalurkan bantuan. Kali ini, sesuai kebutuhan, DSLNG membangun sumur bor di desa itu. Muhammad Fandika, penyintas gempa dan likuefaksi di Desa Jono Oge menceritakan, pada awal bencana, air bersih menjadi barang langka. Dia terpaksa mengkonsumsi air dari saluran irigasi pertanian di Pombewe.

“Air kuala dari gunung yang diminum,” kata Fandika.

Itupun, ujarnya, tak selalu ada.

“Kadang kering, kadang juga airnya keruh.”

Rumahnya di Dusun II Desa Jono Oge, Sigi, hilang ditelan likuefaksi yang terjadi pada Jumat 28 September 2018. 

“Syukur ada sumur bor di sini,” kata Fandika, ditemui Metrosulawesi saat mengambil air bersih bantuan dari DSLNG di pelataran Masjid Daeng Lando, Dusun I, Desa Jono Oge, Sabtu 28 September 2019.

Kepala Desa Jono Oge, Mesak Ropiha mengatakan, gempa bumi dan likuefaksi di desanya tidak hanya mengakibatkan 23 warganya meninggal dunia dan sepuluh di antaranya hilang. Gempa bermagnitudo 7,4 SR itu juga berdampak pada sulitnya air bersih. Tetapi, kata dia, sekarang, satu tahun pascabencana, tiga ribuan warganya tidak lagi kesulitan air bersih seperti bulan-bulan pertama terjadinya bencana alam.

“Masalah air bersih sudah teratasi sekitar 80 persen. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, termasuk perusahaan itu (DSLNG),” kata Mesak Ropiha ditemui, Sabtu 28 September 2019.

Dihubungi terpisah, External Communication Supervisor PT DSLNG, Doty Damayanti mengungkapkan, pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, DSLNG membangun sebelas sumur bor yang tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala, termasuk di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi. Pekerjaan itu dimulai November 2019 dan selesai bertahap.

“Serah terima kepada penyintas bencana alam dilaksanakan pada Maret 2019,” kata Doty Damayanti dihubungi Rabu 2 Oktober 2019.

DSLNG, perusahaan  penghasil gas alam cair yang beroperasi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah itu, menggandeng tiga pihak. Ketiganya adalah Elnusa, anak perusahaan PT Pertamina; Yayasan Baitul Hikmah Elnusa; dan Badan Geologi Kementerian ESDM. DSLNG selaku pihak yang penyedia dana untuk operasional sumur bor.

Dia menjelaskan, sebelum proyek air bersih yang dibangun pada masa rekhabilitasi dan rekonstruksi, pihaknya sudah hadir sejak tanggap darurat bencana di Palu, Sigi, dan Donggala. Pelayanan kesehatan oleh tim medis dari DSLNG di Puskesmas Sangurara seperti yang diceritakan oleh Iksan.

Pada masa tanggap darurat 29 September 2018 sampai dengan 26 Oktober 2018, selain menyalurkan bantuan logistik ke titik-titik pengungsian, tim bantuan dari DSLNG juga memberikan vaksin antitetanus kepada petugas yang mengevakuasi lebih dari 4 ribu korban jiwa. Begitu juga vaksin antitetanus kepada jurnalis yang meliput di daerah bencana.

Selanjutnya, pada masa transisi darurat ke pemulihan yang tiga kali diperpanjang, sampai 24 April 2019, DSLNG masih menyalurkan bantuan di antaranya memberikan perlengkapan sekolah bagi siswa sekolah. Pada November 2018, DSLNG menyerahkan donasi sebesar Rp 1 miliar melalui Palang Merah Indonesia. Setelah itu, masih pada bulan yang sama, memberikan hibah donasi sebesar Rp 2 miliar kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Doty Damayanti mengatakan, sebagai perusahaan yang beroperasi di Sulawesi Tengah, pihaknya berupaya membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa, tsunami dan likuefaksi yang menimpa masyarakat di wilayah Palu, Sigi, dan Donggala.

Reporter: Syamsu Rizal
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas