Ahdin Dg Sirua, pemilik UD Batik Bomba Lekatu saat memperlihatkan hasil produksi batik yang akan dipasarkan. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Masih banyak para pelaku usaha yang sampai saat ini masih membutuhkan perhatian. Seperti pengrajin batik bomba di Kota Palu yang hingga kini masih sangat membutuhkan tambahan modal usaha.

Apalagi, sebagian dari mereka banyak mengalami kerugian akibat bencana alam 28 September 2018 silam. Begitu pun dengan Ahdin Dg Sirua, pemilik UD Batik Bomba di Jalan Lekatu, Kelurahan Tavanjuka Kecamatan Tatanga, Senin (1/10/2019).

Ia mengungkapkan, modal yang digunakannya hanya mengharapkan pesanan dari pelanggan. Sedangkan kerugian yang dialami pascabencana kurang lebih sekitar jutaan rupiah. Sementara itu, pesanan batik Bomba dari pelanggan dari Kabupaten Sigi senilai Rp1,5 juta.

“Setelah bencana ada beberapa bulan saya tidak melakukan aktifitas produksi karena peralatan rusak dan sebagian hilang diambil orang. Terpaksa kami kembali lagi ke awal, kebetulan ada pelanggan di Kabupaten Sigi yang pesan dari situ saya gunakan sebagian sebagai modal,” ungkapnya.

Ia menjelaskan harga untuk satu kain batik yang dijualnya sekitar Rp200 ribu per lembar. Sedangkan, omset pendapatan sebelum terjadi bencana bisa diraup mencapai Rp5 juta per bulan, bahkan sampai melebihi nilai yang didapatnya.

“Kebetulan, Dewan Kerajinan Provinsi Sulawesi Tengah juga membantu dengan melakukan pemesanan sebanyak 30 kain batik Bomba. Dari mereka juga modal usaha saya kumpulkan,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat di Kota Palu masih kurang memahami batik. Sedangkan, batik menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi kehidupan masyarakat Indonesia sebagai warisan dari nenek moyang yang sudah ada sejak dahulu.

“Banyak warga kita disini belum faham dengan batik. Untuk sekarang dari dinas terkait belum memberikan bantuan, mereka hanya sebatas memasarkan batik di kegiatan pameran,” ujarnya.

Tepatnya, 2 Oktober 2019 masyarakat Indonesia merayakan Hari Batik Nasional. Ia sangat mengharapkan adanya peran dari pemerintah, terutama para pengrajin batik untuk mendorong kemajuan ekonomi khususnya di daerah.

“Saya hanya memproduksi batik cap bukan batik tenun. Saya juga berharap agar masyarakat Kota Palu dapat menggunakan produk daerah sendiri,” harapnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas