Home Sigi

Air Bersih DSLNG Menyelamatkan Penyintas

394
AIR BERSIH - Sarana air bersih bantuan PT Donggi Senoro LNG, di area Masjid Daeng Lando, Desa Jono Oge, Biromaru, Sigi untuk penyintas bencana alam, 28 September 2018. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)
  • Satu Tahun Pascabencana

Penyintas bencana alam sempat mengkonsumsi air irigasi sawah. Bahkan, mandi pakai air yang mengalir di bekas likuefaksi.

Laporan: Syamsu Rizal dari Jono Oge, Sigi

MUHAMMAD Fandika, terpaksa mengkonsumsi air dari saluran irigasi pertanian di Pombewe.

“Air kuala dari gunung yang diminum,” kata Fandika.

Itupun, ujarnya, “kadang kering, kadang juga airnya keruh.”

Fandika, 24 tahun, adalah penyintas bencana gempa bumi disusul likuefaksi, Jumat 28 September 2018. Rumahnya di Dusun II Desa Jono Oge, Sigi, hilang ditelan likuefaksi. Kini, ia dan keluarganya tinggal di hunian sementara (huntara) di Desa Pombewe, Kecamatan Biromaru, Sigi.

“Syukur ada sumur bor di sini. Apalagi, sekarang airnya bisa langsung diminum,” kata Fandika ditemui Metrosulawesi saat sedang mengambil air bersih bantuan dari PT Donggi Senoro LNG di pelataran Masjid Daeng Lando, Sabtu 28 September 2019.

Sarana air bersih itu adalah bantuan dari PT Donggi Senoro LNG, perusahaan penghasil gas alam cair yang beroperasi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Sumur bor yang dibangun oleh Donggi Senoro LNG pada Maret 2019 itu, sampai sekarang dimanfaatkan oleh para penyintas bencana alam di Desa Jono Oge dan desa tetangganya.

Sumur ditempatkan di area Masjid Daeng Lando, Jalan Lasoso, tepatnya di Dusun I Desa Jono Oge Kecamatan Biromaru, Sigi. Lokasinya mudah diakses karena berada di jalan poros Palu-Palolo.

“Bukan hanya warga Jono Oge yang datang kemari mengambil air. Ada juga warga dari Pombewe, Langaleso, sampai Desa Loru,” ujar Kukuh, pengurus masjid yang sekaligus operator sumur bor bantuan DSLNG, Sabtu 28 September 2019.

Karena banyak yang memanfaatkan air bersih bantuan itu, bak penampungan berkapasitas 1.200 liter habis setiap dua sampai tiga jam.

“Itu pada awal-awal dibangun sumur bor. Mesin hampir tidak pernah berhenti, listrik dari meteran masjid yang kita gunakan,” kata marbut Masjid Daeng Lando.

Pria 32 tahun itu menceritakan, sebelum datang bantuan DSLNG, warga kesulitan air bersih. Sebab, gempa yang terjadi setahun lalu, mengakibatkan sumur di rumah-rumah warga di desanya menjadi kering. Pipa yang ditancapkan ke tanah banyak yang patah, termasuk yang ada di Masjid Daeng Lando.

“Patah karena gempa. Makanya, air susah,” kata Kukuh.

Bahkan, kata dia pekan-pekan awal pascagempa, warga terpaksa mengambil air di lokasi bekas likuefaksi untuk mandi dan cuci pakaian. Sedangkan air untuk minum dan memasak, warga mengandalkan bantuan.

Sebenarnya, kata Kukuh, sebelum DSLNG datang membawa bantuan, sudah dibikin sumur di area masjid. Pipa ditancapkan ke tanah. Tetapi, tidak lama airnya habis karena banyaknya warga yang datang mengambil air.

“Awalnya tancap satu setengah pipa (9 meter), tapi airnya habis. Kemudian ditambah lagi pipa sampai kedalamannya sekitar 17 meter,” kata Kukuh.

Sampai akhirnya DSLNG datang. Sumur bor yang diadakan PT DSLNG, kata dia memiliki kedalaman 30 meter. Air disedot melalui pipa menggunakan mesin berteknologi tinggi. Listriknya dari masjid. Kemudian air masuk ke dalam bak penampungan berkapasitas 1.200 liter.

Warga mengambil air, Sabtu 28 September 2019. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)

Warga di sekitar mengalirkan air ke rumahnya dengan pipa kecil. Juga dialirkan ke toilet dan tempat cuci pakaian yang dibangun untuk umum.

“Kalau soal perawatan bantuan ini, saya selalu dihubungi oleh Pak Joko dari Elnusa (Yayasan Baitul Hikmah Elnusa). Rutin mengontrol dan bertanya soal kondisi mesin sampai sekarang. Tapi selama ini mesin tidak pernah bermasalah,” kata Kukuh.

Selain dialirkan ke rumah warga, ada juga yang diolah menjadi air minum siap konsumsi. Itu karena sekitar dua bulan setelah DSLNG, ada pihak lain yang membantu alat penyulingan air bersih. Air dari sumur bor DSLNG disuling dengan mesin dan siap konsumsi.

“Donggi Senoro (DSLNG) yang menyiapkan sumur bor dan tower. Belakangan ada yang membantu alat untuk air siap konsumsi. Saya isis sampai empat kali penampungan berkapasitas 2.300 liter itu,” kata Kukuh.

Menurutnya, sejak dibangun pada Maret 2019, air dari DSLNG juga dimanfaatkan untuk pembangunan tempat ibadah. Misalnya, kata dia pembangunan sebuah gereja juga sempat menggunakan air tersebut. Belakangan, banyak pihak yang mulai menyalurkan bantuan mesin air kepada warga.

“Tetapi, kalau mesin air yang kecil susah, karena harus ditancapkan pipa sangat dalam, terutama di Dusun I ini,” katanya.

Kepala Desa Jono Oge, Mesak Ropiha mengatakan, gempa bumi dan likuefaksi di desanya tidak hanya mengakibatkan 23 orang meninggal dunia dan 10 di antaranya masih dinyatakan hilang. Gempa bermagnitudo 7,4 SR itu menjadikan warganya kesulitan air bersih. Tetapi, kini, satu tahun pascabencana dahsyat itu, tiga ribuan warganya tidak lagi kesulitan air bersih seperti bulan-bulan pertama terjadinya bencana alam.

“Masalah air bersih sudah teratasi sekitar 80 persen. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, termasuk perusahaan itu (DSLNG),” katanya ditemui terpisah, Sabtu 28 September 2019.

Saat ini, satu tahun pascabencana, menggali sumur di Jono Oge, khususnya di Dusun I, harus lebih dalam lagi.

“Kalau dulu ditancapkan satu pipa sudah ada airnya. Sekarang, harus lebih dalam sampai tiga batang pipa,” ujar Kukuh.

Apalagi saat ini, musim kemarau.

“Sekarang warga yang pernah terima bantuan sumur bor minta sambungan pipa lagi karena mulai kering,” kata Kukuh.

Media Relation Officer PT DSLNG Rahmat Azis mengatakan, sejak awal bantuan air bersih itu memang diharapkan bisa digunakan dalam jangka panjang. Sengaja ditempatkan di masjid agar bisa dirawat.

Selain di Desa Jono Oge, kata dia DSLNG bekerja sama dengan Yayasan Baitul Hikmah Elnusa, sejak November 2019 membangun sumur bor yang sama di sepuluh lokasi lainnya yakni empat di Palu; empat di Sigi; dan tiga di Donggala.

Selain bantuan air bersih, DSLNG sejak masa tanggap darurat, terlibat dalam upaya membantu penyintas bencana alam seperti logistik, peralatan sekolah, dan pengobatan hingga pelosok. Selain itu, membagikan tenda, pakaian, dan trauma healing.

Selain itu, memberikan kepada tim reaksi cepat yang melalukan evakuasi dan jurnalis yang meliput bencana alam. Tujuannya, mencegah penyakit menular yang bisa menjangkiti relawan dan jurnalis.

“Donasi Rp 1 miliar melalui PMI dan hibah Rp 2 miliar kepada Pemprov Sulteng,” kata Rahmat Azis dihubungi, Minggu, 29 September 2019.

Ayo tulis komentar cerdas