G. A. Nasser. (Foto: Dok Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat, nilai Tukar Petani (NTP) yang berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan, merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.

“Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani. Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), tanpa memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga. Dengan demikian, NTUP diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi rumahtangga petani terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi,” kata Kepala Bidang Statistik BPS Sulawesi Tengah Gamal Abdul Nasser, 2 September 2019.

Menurut Gamal, dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang/jasa di wilayah perdesaan selama Agustus 2019 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah naik sebesar 0,69 persen, yakni dari 95,27 pada Juli menjadi 95,92 pada Agustus 2019. Hal ini disebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,49 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,19 persen.

“Selama Agustus 2019, indeks harga yang diterima petani tercatat 130,65 atau naik sebesar 0,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 130,01. Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya It pada empat subsektor, pada subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,86 persen, subsektor hortikultura naik sebesar 1,29 persen, subsektor peternakan naik sebesar 1,45 persen, dan subsektor perikanan naik sebesar 1,76 persen. Sedangkan pada subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan indeks yang diterima petani sebesar 1,00 persen,” katanya.

Tambahnya, indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh komponen pengeluaran baik untuk konsumsi rumahtangga maupun barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Indeks harga yang dibayar petani selama Agustus 2019 sebesar 136,20 atau turun 0,19 persen jika dibandingkan dengan bulan Juli sebesar 136,47.

Hal ini disebabkan oleh penurunan Ib pada empat subsektor. Pada subsektor tanaman pangan indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,17 persen, subsektor hortikultura turun 0,26 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,24 persen, dan subsektor peternakan turun 0,16 persen. Sedangkan pada subsektor perikanan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,05 persen.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas