WORKSHOP - Sejumlah pengelola perpustakaan sekolah asal Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Kota Palu saat mengikuti Workshop Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Pegelolaan Perpustakaan Sekolah di Era Teknologi dan Informasi Abad 21 di salah satu Hotel di Palu, Selasa, 27 Agustus 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)
  • Dispusarda Sulteng

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar Workshop Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Pegelolaan Perpustakaan Sekolah di Era Teknologi dan Informasi Abad 21 di salah satu Hotel di Kota Palu, Selasa, 27 Agustus 2019.

Kepala Dispusarda Provinsi Sulteng, Ardiansyah Lamasitudju menegaskan, perpustakaan sekolah harus dibenahi, karena fungsi perpustakaan bukan hanya sebagai tempat membaca, namun harus menjadi pusat informasi.

“Jadi jika di sekolah itu ada pusat informasi, semua informasi harus bersumber dari perpustakaan, inilah inti dari workshop tersebut,” kata Ardiansyah.

Ardiansyah mengatakan, yang diundang dalam wokrshop itu adalah pengelola perpustakaan sekolah yang jumlahnya kurang lebih 100 orang, berasal dari dua kabupaten dan satu kota yakni, Poso, Parigi Moutong, dan Kota Palu.

“Mereka ini harus menyiapkan perpustakaan sebagai pusat informasi, utamanya informasi kearifan lokal yang ada di kabupaten/kota masing-masing. Jadi bukan hanya buku pelajaran saja yang disediakan di perpustakaan, tetapi ada buku-buku lain untuk menarik perhatian siswa membaca di perpustakaan,” ungkapnya.

Selain itu kata Ardiansyah, sekolah perlu menata kembali perpustakaan menjadi tempat yang paling disenangi para peserta didik. Jika ada guru yang tidak masuk kelas atau jam kosong, dari pada siswa berkeliaran, pihak sekolah mengarahkan siswa ke perpustakaan.

“Tetapi harus ciptakan dulu perpustakaan yang menarik buat para siswa, seperti tempat duduknya diganti dengan kursi yang nyaman, bahan-bahan bacaan yang menarik, serta pengelola yang santun, sehingga para siswa tidak ada waktunya keluar di jam-jam sekolah, sehingga ketika ada waktu luang, misalnya tiba-tiba ada guru yang berhalangan, siswa bisa di giring ke perpustakaan sekolah,” ujarnya.

Olehnya itu kata Ardiansyah, perlu dibangun strategi untuk menciptakan pelayanan perpustakaan yang lebih menarik.

“Sekolah harus memahami bahwa perpustakaan itu bagian yang penting. Karena di tahun-tahun berikutnya, untuk penilaian akreditasi sekolah, salah satu nilai tertinggi jika menjadi tipe A, B atau C, dilihat dari perpustakaannya. Maka dari itu sejak dari sekarang perlu dipersiapkan pengelolaan perpustakaan yang berkualitas,” katanya.

Ardiansyah berharap, pihak sekolah dapat mengiring peserta didik masuk perpustakaan, namun siapkan perpustakaan yang menarik untuk siswa.

“Kami berharap perpustakaan sekolah dapat di desain dengan baik, rapi dan menarik. Perpustakaan sekolah dapat dirancang perlengkapannya, mulai dari fasilitas, bahan bacaanya, serta keterampilan orang yang mengelolanya. Rancangan itu perlu dilakukan bersama-sama, guru, kepala sekolah, bahkan orang tua murid,” ungkapnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas