Home Banggai

DSLNG Bentuk Kelompok Petani Cabai di Banggai

1148
Kelompok petani cabai yang dibentuk oleh PT Donggi-Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Banggai, Metrosulawesi.id – Demi mewujudkan masyarakat sejahtera, tangguh, dan mandiri khususnya dibidang ekonomi kerakyatan. PT Donggi-Senoro Liquefied Natural Gas ( DSLNG) membentuk suatu Kelompok Wanita Tani (KWT) yang bergerak dalam membudidayakan Cabai di Kabupaten Banggai.

CSR Manager PT Donggi-Senoro LNG, Pandit Pranggana mengatakan melihat dari kacamata sejarah sebelumnya. Akhirnya pihak perusahaan tersebut mencoba merumuskan pembentukan sekolah lapak agar lebih komprehensif.

“Jadi kita sudah dapat analisanya, sebenarnya permasalahan mereka setelah kami telusuri lebih dalam. Makanya dibentuk satu sekolah untuk para petani di sini. Tujuannya agar mereka mengetahui cara dari proses tanaman cabai dan bagaimana lepas dari ketergantungan kimia,” katanya, Selasa 26 Agustus 2019.

Kemudian, lanjut dia, sekolah lapak ini ada empat materi besar yang dijabarkan ke 16 kurikulum. Secara garis besar yang pertama adalah mempersiapkan pemilihan bibit atau pembuatan bibit sendiri. Menurutnya, gagasan inovasi tersebut diterapkan sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar kilang PT DSLNG, khususnya di Kecamatan Batui, Kintom dan Nambo.

“Dari situ juga dibentuklah satu sistem kelembagaan koperasi. Seperti kita ketahui prinsip dari koperasi adalah dari anggota dan untuk anggotanya. Selain itu, koperasi juga menyediakan bisnis unit yaitu, kios pertanian yang mana menyewakan alat, pupuk hingga bibit,” terangnya.

Selanjutnya, setelah mereka bergabung hasil panen akan dikumpulkan dalam sebuah bisnis unit. Artinya, Kata dia, salah satunya adalah dengan menggunakan sistem Stocking Point. Ia mengungkapkan melalui sistem ini masyarakat petani berkumpul dalam suatu wadah yang diniatkan untuk usaha bisa mengalahkan para spekulan yang bergerak sendiri.

“Sebenarnya, sistem kerja stocking point tidak jauh berbeda dengan sistem perdagangan pada umumnya, yakni membeli produk petani lokal untuk dijual ke pengusaha yang lebih besar. Hanya saja, sistem jual beli melalui stocking point, petani mendapatkan dua keuntungan,” ujarnya.

Pertama, petani mendapat informasi harga lebih transparan. Sehingga, harga jual produk pertanian para petani lebih mahal ketimbang menjualnya ke tengkulak lokal. Kedua, petani yang menjualnya ke koperasi stocking point bakal mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi setalah diakumulasi selama satu tahun.

“Artinya, meski petani telah mendapat keuntungan dari hasil penjualan produknya, setelah satu tahun menjual hasil produk ke koperasi, bakal mendapat lagi pembagian SHU setelah satu tahun. Dari koperasi ini terkumpul dan bahkan dalam seminggu bisa mencapai hampir 5 ton cabai. koperasi pertanian sudah masuk tiga besar pemasok dari Banggai ke Gorontalo,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas