TEMPATI AREA LIKUIFAKSI - Saiful, kembali bermukim di area likuifaksi Balaroa. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Sebagian warga penyintas Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu kembali bermukim di lokasi mereka semula, tepatnya di area likuefaksi.

Saiful, salah satu korban yang rumahnya dihantam likuefaksi di Kelurahan Balaroa menjelaskan, awal puasa dirinya dan keluarga sudah kembali meninggali tempat mereka semula. Walaupun hanya memakai listrik dan air seadanya. Dirinya masih tetap bertahan di wilayah tersebut.

“Saya kembali dan tinggal ditempat ini sudah sekitar dua bulan lalu pas awal puasa. Kemudian saya juga sudah koordinasi dengan kelurahan setempat dan mereka bolehkan, dengan catatan bangunannya jangan permanen,” kata Saiful saat ditemui media ini, Sabtu, 21 Juli 2019.

Meskipun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu mengimbau dan melarang warga kembali ke tempat tinggal awal mereka yang terdampak bencana likuefaksi dan tsunami, namun imbauan tersebut tidak begitu diindahkan sebagian warga penyintas di pengungsian.

“Memang lalu ada imbauan warga dilarang kembali membangun kalau tempat tinggal mereka itu di area likuefaksi. Tapi, kita bingung mau kemana, karena lokasi kami hanya disini, kita mau menunggu Hunian Tetap (Huntap) juga tidak ada kejelasan. Makanya  kami putuskan kembali membangun seadanya ditempat terdampak ini,” ungkapnya

Sementara itu, jumlah warga penyintas yang kembali menempati lokasi rumah mereka di Kelurahan Balaroa Palu sebanyak lima Kepala Keluarga (KK) atau berkisar 20 jiwa. Bangunan yang mereka tempati berupa pondok berbahan material sisa-sisa serpihan kayu rumah mereka yang terdampak bencana.

“Membangun pondok-pondok ini kami memakai kayu-kayu bekas yang masih bisa digunakan dari rumah kami yang sudah hancur dihantam gempa dan likuefaksi, kami bangun seadanya saja, dari pada menunggu Huntap tidak ada kejelasan. Yang penting kami sudah terlindung dari terik matahari dan hujan,”  ucapnya

Saiful mengatakan, sebelum kembali menempati lokasi terdampak likuefaksi di Kelurahan Balaroa Palu, dirinya dan keluarga tinggal di Huntara yang disediakan oleh para NGO di Kelurahan Duyu. Namun, karena dirinya dan keluarga tidak nyaman, terpaksa kembali membangun pondok di tempat itu.

“Sebelumnya kami tinggal di Huntara. Karena disana susah juga, akhirnya kami pindah. Sebab dapur umumnya jauh, baru istri saya hamil besar, dan dia harus turun naik kalau mau masak dan lain sebagainya,” tuturnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas