Kepala BPS Sulteng Faizal Anwar saat menjelaskan kondisi perekonomian Sulawesi Tengah dan tingkat inflasi Kota Palu, Senin, 10 Juni di kantor BPS Sulteng. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)
  • Dampak Lonjakan Harga Sembako

Palu, Metrosulawesi.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah mencatat selama Mei 2019, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,97 persen yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga yang terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 3,72 persen, diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,65 persen), kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (0,51 persen), kesehatan (0,10 persen), serta sandang (0,08 persen).

“Sedangkan indeks harga kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,10 persen dan 0,02 persen,” kata Kepala BPS Sulawesi Tengah Faizal Anwar, Senin, 10 Juni 2019.

Menurut Faizal, pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 6,29 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 9,84 persen, sedangkan kelompok sandang mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 1,15 persen.

“Inflasi Kota Palu sebesar 0,97 persen disumbangkan oleh andil kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,74 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,15 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen, serta kelompok kesehatan dan sandang dengan andil masing-masing di bawah 0,01 persen,” ujarnya.

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil negatif sebesar 0,02 persen, sementara kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga memberikan andil di bawah 0,01 persen.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tarif angkutan udara (0,20 persen), tomat buah (0,11 persen), ikan mujair (0,11 persen), kangkung (0,09 persen), ikan selar (0,07 persen), cabai rawit (0,06 persen), tomat sayur (0,06 persen), bawang putih (0,06 persen), bayam (0,06 persen) dan daging ayam ras (0,05 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan cakalang (0,15 persen), tarif pulsa ponsel (0,12 persen), ayam hidup (0,03 persen), ikan bandeng (0,02 persen), ikan layang (0,02 persen), seng (0,02 persen), semen (0,01 persen), ikan kembung (0,01 persen), ikan baronang (0,01 persen), dan kemeja panjang katun (0,01 persen).

Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 81 kota mengalami inflasi dan hanya 1 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 2,91 persen dan terendah di Kota Kediri sebesar 0,05 persen. Kota Merauke menjadi satu-satunya yang mengalami deflasi yakni sebesar 0,49 persen. Kota Palu menempati peringkat ke-23 inflasi tertinggi nasional dan ke-10 di kawasan Sulampua.

Di tingkat nasional, sebanyak 81 kota mengalami inflasi selama Mei 2019. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual (2,91 persen), diikuti Manado (2,60 persen), Manokwari (2,25 persen), Kendari (1,80 persen), Pangkal Pinang (1,78 persen), Gorontalo (1,64 persen), Bungo (1,60 persen), Banda Aceh (1,48 persen), Ambon (1,46 persen), dan kota-kota lainnya dengan inflasi di bawah 1,40 persen.

Inflasi terendah terjadi di Kota Kediri sebesar 0,05 persen, sementara pada periode yang sama satu-satunya kota yang mengalami deflasi yakni Kota Merauke sebesar 0,49 persen. Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), selama Mei 2019 tercatat 17 kota mengalami inflasi dan 1 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual (2,91 persen), diikuti Manado (2,60 persen), Manokwari (2,25 persen), Kendari (1,80 persen), Gorontalo (1,64 persen), Ambon (1,46 persen), Sorong (1,37 persen), Pare-Pare (1,36 persen), Jayapura (1,13 persen), dan kota lainnya di bawah 1,00 persen. Inflasi terendah terjadi di Kota Bau-Bau sebesar 0,15 persen, sementara deflasi satu-satunya terjadi di Kota Merauke sebesar 0,49 persen.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas