Home Morowali

Kerahkan Kapal Evakuasi Korban Banjir Morowali

359
MASIH TERPUTUS - Inilah Jembatan Dampala, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali yang terputus setelah diterjang banjir, Sabtu 8 Juni 2019. (Foto: Ist)
  • Sempat Terputus, Palu-Morowali sudah Normal
  • Poros Trans Sulteng-Sultra Masih Terputus

Palu, Metrosulawesi.id – Arus lalu lintas di jalan trans Sulawesi antara Kota Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali, menuju Kota Palu, Sulteng, kini sudah normal kembali setelah terputus selama beberapa jam akibat jembatan Wosu tertimpa banjir bandang, Sabtu 8 Juni.

“Alhamdulillah, berkat antusiasme masyarakat membantu kita, jalan sudah terbuka kembali sore ini,” kata Irvan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 35 Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Sulteng seperti dikutip dari Antara, Sabtu petang 8 Juni 2019.

Menurut dia, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Morowali dan Morowali Utara selama beberapa hari terakhir, jembatan Bahoyuno, Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, terputus karena opritnya tergerus air yang cukup deras, Sabtu pagi.

Namun demikian, atas bantuan warga sekitar, segera dipasang gelagar batang kelapa di atas oprit jembatan yang putus itu sehingga kendaraan bisa melintas di atasnya.

Irvan mengakui bahwa sejak empat hari sebelum Idul Fitri 1440 Hijriah, sudah ada tanda-tanda akan terjadi kerusakan seperti ini bila hujan masih terus mengguyur.

“Ternyata benar, hari ini kejadian, sebab air banjir naik sampai hampir menyentuh lantai jembatan dan opritnya sehingga oprit (penghubung jembatan dan badan jalan) ke arah Palu putus,” ujarnya.

Keterangan lain yang dihimpun Antara menyebutkan air bah di Sungai Bahoyuno Wosu yang terjadi kali ini memang paling besar dibanding banjir-banjir sebelumnya karena air sampai menutupi oprit jembatan.
Pemerintah Kabupaten Morowali sebenarnya sudah memasang bronjong di atas oprit jembatan tersebut untuk mengendalikan arus air, namun bronjong itu sendiri rusak dihantam banjir.

Sementara itu, upaya menormalisasi lalu lintas di Jembatan Dampala, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali yang juga terputus pada Sabtu (8/6), masih membutuhkan waktu cukup lama karena kerusakan terjadi pada badan jembatan.

BPJN sedang berupaya memasang jembatan darurat dari besi (bally) di jembatan itu, namun harus mengumpulkan bahan-bahannya dulu dari berbagai lokasi di Sulteng.

Akibatnya, arus lalu lintas trans Sulawesi dari Morowali ke Kendari, Sultra, masih terputus total dan tidak ada jalur alternatif untuk menggantikan Jembatan Dampala tersebut agar masyarakat bisa berkendara menuju Kendari, Sultra.

Menurut dia, sejumlah sumber menyebutkan, banjir di musim hujan di Kabupaten Morowali akhir-akhir ini semakin parah dibanding tahun-tahun sebelumnya karena hutan-hutan di hulu sungai semakin gundul akibat penambangan nikel dan perkebunan.

Selain itu, tingginya frekuensi lalu lintas kendaraan dengan muatan berat di atas daya dukung jalan, merupakan ancaman tersendiri bagi kelestarian jalan dan jembatan di jalur trans Sulawesi Sulteng-Sultra.

Kehadiran PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebuah kawasan industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia di Kecamatan Bahodopi yang mempekerjakan sekitar 35.000 tenaga kerja, menjadikan jalan trans Sulawesi semakin padat arus lalulintas baik untuk barang maupun penumpang, baik dari arah Kota Palu, Sulteng maupun Kendari, Sultra.

Kerahkan Kapal

Sejumlah warga terpaksa tertahan tidak bisa menyeberangi jembatan. (Foto: Ist)

Sementara itu, Ditjen Perhubungan Laut mengerahkan satu unit kapal patroli KN Salawaku milik pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PPLP) Kelas II Tual untuk membantu proses evakuasi bencana banjir di Morowali, Sulawesi Tengah yang terjadi Jumat (7/6) lalu.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad mengatakan, pengerahan kapal patroli KN Salawaku tersebut guna menindaklanjuti perintah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang meminta jajarannya untuk siaga dan membantu proses evakuasi para korban bencana banjir di Morowali, Sulawesi Tengah.

“Saat ini kapal patroli KN Salawaku berada di Pelabuhan Kendari dan telah diperintahkan untuk segera bergabung dengan tim SAR membantu korban bencana banjir di Morowali,” ujar Ahmad dalam keterangannya yang diterima, Ahad 9 Juni 2019.

Selain itu, menurut Ahmad, Ditjen Perhubungan Laut juga menyiagakan kapal patroli KN Pasatimpo milik Pangkalan PLP Kelas II Bitung untuk diperbantukan melakukan evakuasi korban bencana banjir Morowali jika diperlukan.

“Adapun kapal kenavigasian dari Distrik Navigasi Kendari juga dipersiapkan untuk melakukan bantuan evakuasi ke lokasi bencana melalui Pelabuhan Morowali Sulawesi Tengah. Semoga proses evakuasi korban banjir dapat terlaksana dengan baik,” tutup Ahmad.

Seperti diketahui, akibat bencana banjir di Morowali tersebut, jembatan permanen di Sungai Dampala, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah hanyut, sehingga lalu lintas Trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara terputus.

Jembatan Dampala merupakan penghubung utama antara ibu kota Kabupaten Morowali dengan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebuah kawasan indusri pertambangan nikel terbesar di Indonesia yang mempekerjakan puluhan ribu tenaga kerja.

Dilaporkan banyak kendaraan tertahan di ruas Trans Sulawesi Bungku Tengah, Morowali karena jalur ini memang sedang ramai dilintasi para pemudik yang akan kembali ke kota masing-masing setelah merayakan Idul Fitri. (ant/*)

Ayo tulis komentar cerdas