PERTEMUAN - Walikota Palu, Hidayat M.Si saat menemui perwakilan JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) di ruang kerjanya, Selasa, 7 Mei 2019. (Foto: Yusuf Bj/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Tiga orang perwakilan Badan Kerjasama Internasional Jepang atau lebih dikenal sebagai JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) bertemu Walikota Palu, Hidayat M.Si, di ruang kerjanya, Selasa, 7 Mei 2019. Pada kesempatan itu perwakilan JICA mendengarkan ragam kebutuhan mendesak bagi warga Kota Palu pascabencana tahun lalu.

“Beberapa waktu lalu saya juga di undang JICA ke Jepang untuk melihat tiga kota terdampak tsunami disana yaitu Miyagi, Onagawa dan Krishima. Dan alhamdulillah, banyak pelajaran yang saya ambil dari kunjungan itu khususnya soal penanganan kondisi pascabencana,” kata Walikota Hidayat usai pertemuan dihadapan awak media.

“JICA alhamdulillah sampai saat ini sudah membantu bebertapa kegiatan UMKM di Kota Palu, salah satunya kerajinan. Saya sampaikan kepada perwakilan JICA, bahwa ada tiga hal yang perlu dibantu di Kota Palu saat ini, pertama nelayan yang terdampak tsunami, kedua, para pelayan hotel, mall yang kehilangan pekerjaan, serta IKM atau UMKM khusunya yang berada di sepanjang 7,2 km Pantai Teluk Palu,” katanya.

Pada pertemuan tersebut, Walikota Hidayat juga menggambarkan kondisi perekonomian warga Kota Palu yang didominasi oleh penjualan jasa.

“Kota Palu ini sumber daya alamnya tidak ada, begitupun pertanian, peternakan dan pertambangannya. Oleh karena itu, yang marak di Kota Palu saat ini, seperti yang kawan-kawan JICA lihat saat berada di Kota Palu yakni orang yang berjualan. Palu adalah Kota Jasa. Banyak kios di Kota Palu. Pascabencana para pedagang ini banyak kehilangan harta dan perlatan menjualnya, khususnya pedagang yang berada di kawasan Pantai Teluk Palu,” katanya.

Selain itu, Walikota Hidayat mengungkapkan bahwa JICA juga memberi masukan terkait pembangunan tanggul di sepanjang Pantai Teluk Palu.

“Menurut hasil kajian Jepang, tanggul yang dibangun harus setinggi 7-8 meter. Kami juga mendapat masukan, supaya tanggul tersebut kuat, di depan tanggul ditanami mangrove dan di belakang tanggul juga harus ditanami dengan pohon yang keras. Hal ini bisa memperkuat tanggul saat terjadi tsunami serta melindungi warga sekitar dari dampak bencana yang parah,” katanya.

“Karena tsunami yang terjadi di Kota Palu bukan disebabkan oleh patahan sesar, melainkan karena longsornya dinding tebing dalam laut. Oleh karena itu, pembangunan tanggul yang dibarengi penanaman mangrove dan pohon pada bagian depan dan belakang tanggul sangat efektif dilakukan,” katanya.

Walikota Hidayat mengungkapkan bahwa di Jepang, pascabencana 2011, masih ada beberaoa kawasan terdampak bencana belum memiliki huntap hingga saat ini.

“Bayangkan sudah delapan tahun Kota Onagawa di Jepang yang terdampak tsunami 2011 belum punya hunian tetap (huntap) sampai sekarang. Kebanyakan warga yang terdampak bencana di Onagawa masih tinggal di huntara-huntara,” ungkap Hidayat.

Oleh karena itu, Walikota Hidayat meminta agar warga Kota Palu, khususnya warga terdampak bersabar terhadap realisasi huntap. Dia menegaskan, secepatnya Huntap akan terbangun di Kota Palu.

Reporter: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas