SELAMATKAN BARANG - Sufiah, warga Desa bangga, dusun II, Kabupaten Sigi, mengumpulkan sisa-sisa barangnya, di antara lumpur yang mengubur setengah dari rumahnya, Senin 29 April 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)
  • Banjir Bandang di Sigi, Warga Selamatkan yang Tersisa

Sigi, Metrosulawesi.id – Banjir bandang yang menerjang Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, mengakibatkan ratusan rumah terkubur lumpur. Sedikitnya 500-an jiwa terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Pantauan Metrosulawesi, Senin 29 April 2019, ratusan rumah warga terendam lumpur hingga tersisa bagian atapnya saja, bahkan ada pula yang roboh akibat terjangan lumpur bercampur material kayu. Banjir bandang tersebut diakibatkan luapan sungai Bangga yang meluber ke permukiman warga.

Kemarin, sejumlah warga pengungsi ada pula yang kembali ke rumah untuk mengambil barang yang bisa di selamatkan.

Salah seorang warga Desa bangga, dusun II, Sufiah (40), mengatakan kejadian banjir bandang itu sangat cepat, hingga dirinya bersama dengan keluarga lainnya, hanya bisa menyelamatkan diri tanpa ada barang yang dibawa, selain baju di badan.

“Cepat sekali pak, hanya dengar gemuruh dan langsung air yang datng pertama, hanya baju yang di pakai ini yang tersisa,” ungkapnya.

Sufiah bersama dengan warga lainnya memberanikan diri kembali ke rumah mereka yang sudah terendam lumpur, hanya untuk mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Dirinya bersama dengan orang tuanya mencoba merangkak masuk ke dalam rumah, untuk mengambil barang-barang, seperti alat–alat dapur, selimut, ataupun surat-surat berharga lainnya, yang tidak terendam lumpur.

“Ambil yang bisa saja pak. Terutama surat-surat berharga,” jelasnya.

Sulfiah juga mengatakan dirinya bersama dengan keluarganya sudah mendiami rumah mereka selama puluhan tahun, karena rumah tersebut merupakan rumah warisan dari orang tuanya.

“Ya, saya tinggal di sini sejak saya lahir, karena ini merupakan rumah warisan dari orang tua,” ucapnya.

Kini, Sulfiah bersama ratusan warga lainnya bertahan di pengungsian yang sudah disediakan oleh pemerintah setempat, dan berharap batuan makanan, pakaian dan tenda untuk di pengungsian.

“Waktu banjir pertama sekitar jam tujuh malam rumah-rumah hanya terendam air sampai sekitar betis (orang dewasa),” kata salah satu warga, Sukardi yang ditelui di lokasi bencana.

Korban banjir membawa barang-barang dengan sebuah gerobak. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

Dia mengaku hantaman banjir bandang paling parah diiringi material lumpur dan disertai gemuruh terjadi Ahad malam sekitar pukul 23.00 Wita.

“Untungnya sebelum banjir bandang ke dua warga sudah lari ke gunung menyelamatkan diri. Kalau tidak banyak yang meninggal karena tingginya lumpur sampai di atap rumah,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, malam saat kejadian rumah warga sama sekali tidak kelihatan akibat tertutup lumpur yang terbawa banjir dari lereng pegunungan di sekitar Desa Bangga.

“Untung paginya sudah keliatan. Waktu malam pas kejadian rumah tertutup lumpur,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Dakria, warga Dusun II yang merupakan dusun terparah. Beruntung dia dan seluruh keluarganya cepat menyelamatkan diri.

“Kita tinggal memgharapkan bantuan dari pemerintah karena rumah kami habis. Tidak bisa ditinggali lagi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia berharap bantuan dari pemerintah daerah, pusat dan lembaga atau yayasan kemanusiaan dapat secepatnya dia terima mengingat saat ini warga hanya bisa berharap uluran tangan dermawan.

“Semoga semua selamat dan tidak ada korban jiwa,” ucapnya beharap.

Sampai saat ini berbagai bala bantuan dari kepolisian, TNI, Badan SAR Nasional (Basarnas) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi dan Pemprov Sulawesi Tengah serta relawan terus berdatangan.

Mereka mengevakuasi warga ke tempat yang lebih tinggi, membantu menyelamatkan barang-barang berharga dan menyalurkan bantuan logistik berupa makanan.

Bupati Tinjau Lokasi

Bupati Sigi, Sulawesi Tengah, Irwan Lapatta bergerak cepat ke seluruh titik banjir terparah yang menerjang daerahnya sejak Ahad malam.

“Saya baru dari Dolo Selatan, melihat langsung kondisi masyarakat di sana,” katanya seperti dikutip Antara,  Senin 29 April.

Irwan belum memberikan rincian atas bencana alam yang melanda daerahnya itu, karena seluruh tim terkait dikerahkan segera menangani korban.

Saat ini Bupati Irwan sedang menuju ke Desa Salua, Kecamatan Kulawi, karena dirinya mendapat laporan banjir yang sama juga menerjang wilayah di daerah itu.

Bahkan jalan dari dan ke Kecamatan Kulawi dilaporkan putus total. Irwan menyampaikan terima kasih kepada sejumlah organisasi dan perorangan yang sudah berkenan membantu korban banjir di daerahnya.

Dia mengatakan Pemerintah Kabupaten Sigi, saat ini bekerja keras agar titik banjir segera teratasi.

Kabupaten Sigi yang baru saja bangkit dari gempa dan likuifaksi, pada 28 September 2018, kini dihajar lagi dengan bencana banjir bandang yang melanda sejumlah titik.

Salah satu titik terparah terjadi di Desa Bangga dan Desa Balongga, Kecamatan Dolo Selatan. Ratusan rumah penduduk terendam lumpur disertai material kayu. Ratusan warga juga mengungsi ke desa terdekat.

Upaya evakuasi terus dilakukan oleh SAR Palu dan berbagai pihak untuk menyelamatkan para korban.

Pemerintah daerah belum mengeluarkan data resmi tentang dampak dan kerugian yang ditimbulkan akibat banjir tersebut. (edy/ant)

Jalan Kaki Susuri Kebun Kakao

Sejumlah warga dari arah Kulawi, Kabupaten Sigi menuju Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, nekad berjalan kaki menyusuri kebun masyarakat karena jalan antara Desa Omu, Kecamatan Gumbasa dengan Desa Salua, Kecamatan Kulawi putus total akibat banjir bandang yang terjadi pada Ahad 28 April malam.

Yefet (46), seorang warga Desa Lindu, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Senin mengatakan tidak ada jalan lain bagi warga, kecuali berjalan kaki agar bisa melanjutkan perjalanan dari Palu menuju Lindu.

Ia mengatakan dirinya dari Palu menggunakan transportasi sepeda motor milik sendiri dan harus ditinggalkan di rumah seorang warga di Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, sebab jalan putus total.

Setibanya di seberang jalan yang putus, bisa dilanjutkan menggunakan motor ojek menuju Desa Tomado, Kecamatan Lindu.

Hal senada juga disampaikan Rudi, seorang warga Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi. Ia mengaku hendak ke Kota Palu karena ada urusan keluarga yang sangat penting.

“Karena jalannya putus total, otomatis kami harus jalan kaki melewati kebun-kebun kakao dan kopi milik petani di Desa Omu dan Salua. Jauhnya cukup lumayan,” kata dia.

Dia juga mengatakan sebelumnya tidak mendapat informasi kalau jalan putus total.

“Saya berangkat tadi pagi dari rumah, tetapi sampai di Desa Salua warga banyak di jalan dan ternyata memang jalan yang ada putus total diterjang banjir,” kata dia.

Meski demikian, karena ada urusan keluarga di Palu, terpaksa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan baru naik kendaraan angkutan umum menuju Kota Palu.

Sementara kendaraan sepeda motor yang digunakannya untuk sementara dititipkan di rumah salah satu warga di Desa Salua.

Kepala Badan Pennggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi, Asrul yang dihubungi mengatakan telah mengirimkan sejumlah alat berat ke lokasi bencana alam.

Dia mengaku jalur jalan di desa Bangga ini satu-satunya jalan utama dari Palu menuju Kulawi dan sebaliknya.

Karena itu, Pemkab Sigi memberikan langkah prioritas dalam penanganan darurat agar jalan itu segera dapat dilalui kendaraan.

Memang diakuinya bahwa badan jalan yang ambruk cukup panjang dan sudah diaspal.

Instansi teknis yakni Dinas PUPR sedang mengupayakan untuk menormalisasi jalan yang ambruk dengan menggusur tebing yang ada di sisi jalan. (ant)

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas