DITEMANI ANAKNYA - Ahmadi (kiri) bersama ayahnya Zaman (kanan). (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Karena kehilangan kartu BPJS Kesehatan, seorang pasien Zaman asal Desa Weruru, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara terpaksa harus bersabar dengan penyakit prostat yang dideritanya. Pasalnya, Rumah Sakit Undata Palu dan Rumah Sakit Samaritan, tempat yang seharusnya Zaman mendapatkan perawatan menolaknya.

Ahmadi, anak Zaman menuturkan, ayahnya harus di operasi dan sudah membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Morowali Utara untuk diperlihatkan ke pihak rumah sakit di Kota Palu.

“Pertama dari Rumah sakit Kecamatan di Morowali Utara, kemudian langsung di rujuk ke Rumah sakit kabupaten di Kolonodale untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Karena di sana tidak bisa menangani operasi pasien dengan penyakit seperti ini, maka kami minta rujukan untuk dibawa ke Palu,” tuturnya.

Ahmadi menceritakan, sesampainya di Rumah Sakit Undata Palu, Ia dan kedua orang tuanya mengalami nasib sial. Tas yang berisi pakaian serta kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dicuri orang tak bertanggung jawab.

“Sampai di Palu tas yang isinya kartu BPJS hilang semua diambil orang. Ketika itu saya berada di Masjid yang tidak jauh dari Rumah Sakit Undata. Begitu saya mau ambil data ronsen, tas kami sudah tidak ada,” ucap Ahmadi.

“Pihak Undata alasannya ruangan penuh, jadi mau tidak mau kami menginap sementara di masjid dekat situ. Fotokopi KTP kami ada, hanya kartu BPJS yang tidak ada, karena hilang semua,” katanya lagi.

Ahmadi pun hanya bisa memperlihatkan surat keterangan rujuk pasien dari rumah sakit di Kabupaten Morowali Utara guna sebagai dasarnya untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Undata Palu.

“Saya hanya tahu baca surat rujukan saja dari rumah sakit umum disana. Begitu dirujuk kemari, tepatnya di Undata, kami tidak dapat ruangan selama mengurus disitu. Kami di Undata sejak 26 Maret 2019 dan tinggal di Masjid. Selanjutnya, pihak Undata merujuk kami lagi ke Rumah sakit Samaritan,” ungkapnya.

Pantauan Metrosulawesi, terlihat pasien hanya beralaskan kardus dan tikar seadanya yang mereka bawa dari rumah. Pihak Rumah Sakit Samaritan hanya memberikan tempat untuk menginap di salah satu mess di sekitar rumah sakit tersebut. Sedangkan, pelayanan kesehatan Utara Zaman tidak diberikan.

“Kami baru tinggal di Mes Samaritan ini dua malam. Sedangkan, yang saya tahu, itu surat rujukan diperlihatkan ke pihak rumah sakit di Kota Palu, tapi saya tidak mengerti dengan pelayan rumah sakit di Palu. Saya hanya bisa berharap agar secepatnya Bapak saya diberikan pelayanan kesehatan yang layak, jangan dibiarkan seperti ini,” ujarnya.

Ahmadi pun mengaku bahwa dirinya bersama Bapaknya tidak memiliki uang untuk makan sehari-hari. Ia pun hanya berharap kerabat yang ada di kota Palu untuk menghubungi keluarganya di Morowali Utara.

“Lantaran sudah pusing, saya suruh teman sms keluarga di kampung. Surat rujukan yang kami bawa sampai hari ini belum diterima pihak rumah sakit. Tergantung dari rumah sakit, kalau tempat sekarang ini saya sudah syukuri saja, sudah ada tempat untuk menginap walaupun hanya sementara,” ujarnya.

Ahmadi pun mengaku merasa ketakutan jika penyakit yang dialami ayahnya mengalami infeksi karena tidak adanya pelayanan kesehatan.

“Karena tidak ada pihak rumah sakit yang datang lihat kemari. Saya takut penyakit bapak saya semakin parah. Saya juga tidak mau laporkan ini ke pihak Rumah Sakit Samaritan karena saya menjaga diri, jangan karena masalah ini, saya diusir dan dibentak, jadi saya hanya diam saja,” ungkapnya.

Sementara Direktur Rumah Sakit Samaritan, Dr. Remon mengatakan pihaknya itu telah membantu Utara Zaman dengan memberikan tempat menginap. Remon mengaku pihaknya masih menunggu dokter yang menangani penyakit yang diderita Utara Zaman.

“Saya tidak tahu pasti terkait masalah mereka di Rumah Sakit Undata. Kami hanya menyediakan tempat sambil menunggu dokter spesialis di bidang itu. Sedangkan BPJS tidak masalah, hanya saja dokter yang tangani hal tersebut belum datang, kemungkinan hari senin,” katanya.

Kata dia, dokter di rumah sakit Samaritan ada, namun bukan dokter penanggung Jawab. Sedangkan, penyakit tersebut harus ada dokter khusus agar tidak menyalahi kode etik kedokteran.

“Kalau dia dirawat di sini dokternya tidak ada. Sedangkan kita harus tulis laporan setiap hari dan harus ditangani dokter spesialis di bidang itu. Takutnya, BPJS kesehatan mengira kita berbohong, padahal kenyataannya seperti itu,” ungkapnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas