Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Studi Aksi Dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI), saat menggelar aksi damai di depan KPU Sulawesi Tengah, Rabu 27 Maret 2019.(Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Studi Aksi Dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI), menggelar aksi damai menuntut Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah, dan Badan Pengawasan Pemilihan Umum (Bawaslu) sebagai penyelenggara Pemilu, untuk bersikap tegas terhadap oknum-oknum yang ingin mengajak masyarakat untuk Golput, serta meminta penyelenggara Pemilu harus netral.

Puluhan masa aksi itu mendatangai kantor KPU Sulteng, jalan S. Parman, Kelurahan Besusu Timur, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, dengan membawa spanduk sambil berorasi menyuarakan tuntutan mereka, sekitar pukul 10.00 Wita, Rabu 27 Maret 2019, dengan pengawalan dari pihak kepolisian.

Dalam orasisnya, Alfath Dirgantara, selaku Kordinator Lapangan (Korlap) mengatakan demokrasi berasal dari kata demokratia, yang merupakan salah satu kata dari bahasa Yunani. Demokrasi sendiri memiliki arti suatu kekuasaan rakyat. Adapun secara umum, demokrasi terbagi menjadi dua kata, pertama adalah kata demos yang maknanya adalah rakyat, dan kedua adalah kratos yang maknanya adalah kekuatan atau kekuasaan.

Adapun pengertian dari demokrasi sendiri secara umum adalah sebuah format pemerintahan dimana tiap-tiap warga negara mempunyai hak yang setara dan juga seimbang, mengenai penentuan dan juga pemilihan suatu keputusan yang nantinya akan memunculkan dampak didalam kehidupan rakyat atau warga negara. Pengertian dari demokrasi sendiri juga bisa diartikan sebagai sebuah bentuk kekuasaan tertinggi yang terdapat di tangan rakyat.

“Prinsip sistem demokrasi yaitu adanya suatu kebebasan yang telah disepakati, diakui serta disetujui oleh tiap warga negara, adanya keikutsertaan dari masing-masing warga negara didalam melaksanakan dan juga menentukan suatu keputusan yang sifatnya politik, adanya kesetaraan dan keadilan untuk tiap warga negara, serta tiap warna negara mempunyai kesamaan dan juga kesetaraan di dalam praktik politik,” ucapnya.

Lebiha jauh Alfath mengatakan, Pemilu serentak 17 April tahun 2019 mendatang, menjadi momen bagi masyarakat untuk belajar politik dan berdemokrasi. Demokrasi menuntun kita untuk menggunakan hak suara sebagai warga negara. Sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu. Ditegaskan dalam UU itu, Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

“Dan dalam menyelenggarakan Pemilu, penyelenggara pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas sebagaimana dimaksud, dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip mandiri, jujur, adil, berkepastian hukum, tertib, terbuka, proporsional, profesional, akuntabel, efektif, dan efisien,” tambahnya.

“Memilih atau tidak memilih merupakan dilema bagi masyarakat, di mana masyarakat mulai bosan dengan sistem demokrasi di negeri ini,” tegasnya.

Sebagai warga negara yang baik, memang kita harus memilih supaya demokrasi berjalan dengan baik, karena kedaulatan sepenuhnya sudah diberikan kepada rakyat. Rakyatlah yang menentukan, karena itu rakyat harus memiliki karakter pemilih yang cerdas dan bijaksana.

Dilema ketidaksadaran dan ketidakcerdasan pemilih memang persoalan yang fundamental, maka cukup rasional jika persoalan fundamental ini disandingkan dengan fenomena golput di dalam setiap pemilihan.

“Golput dimotori oleh keterbatasaan informasi, apatisme dan apolitis. Maka dari itu kami megajak semua masyarakat Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih, untuk ikut menentukan masa depan bangsa, dan ikut mewujudkan Pemilu yang damai dan bersih. Suara kita sangat penting untuk Indonesia ke depan,” tegasnya.

Saat ditemui awak media, Alfath Dirgantara mengatakan bahwa dalam aksi kali ini, LS-ADI menyatakan ada Lima point tuntutan mereka yakni, meminta KPU Sulteng dan Bawaslu sebagai penyelenggara KPU untuk bersikap tegas terhadap oknum-oknum yang ingin mengajak masyarakat untuk Golput, penyelenggara Pemilu harus Netral.

“Mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilih, mengajak kepada masyarakat mengawal bersama Pemilu damai, serta mengimbau kepada masyarakat untuk bersama sama menyatakan sikap untuk Stop Golput untuk bangsa yang lebih baik,” tambahnya.

Sementara itu Komisioner KPU Sulteng dari Divisi Hukum, Naharuddin SH MH, yang menerima masa aksi mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh LS-ADI merupakan sesuatu positif sekali, kita harus dukung dan apresiasi.

“Misi dan tuntutan yang disampaikan LS-ADI adalah cita-cita dari KPU, apa bila rakyat tidak datang ke TPS berarti rakyat tidak ikut serta memilih pemimpinnya,” tambahnya.

“Kami KPU Sulteng sudah melakukan beberapa kegiatan Sosialisasi ke masyarakat agar tidak Golput, kami dan bawaslu akan terus bekerja untuk mengurus oknum-oknum yang akan mengajak masyarakat Golput dan bekerja sama dengan pihak kepolisian,” tegasnya.

Reporter: Djunaedi
Editor: Masruhim Parukkai

Ayo tulis komentar cerdas