Home Palu

12 KTH Presentasikan Proposal Usaha

305
Kelompok Tani Hutan saat mempresentasikan proposal usahanya dihadapan Tim Penilai. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – 12 Kelompok Tani Hutan dari sepuluh desa di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong di lingkup Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas Tinombo Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah mempresentasikan proposal usaha mereka di hadapan Tim Penilai. Presentasi tersebut dilakukan untuk memperoleh dukungan pendanaan dari Forest Investment Programme (FIP) II melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Kepala KPH Dampelas Tinombo, Agus Efendi mengatakan 12 Kelompok Tani Hutan dari sepuluh desa itu mengajukan proposal usaha pada kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam skema perhutanan sosial untuk meningkatkan pendapatan yang bersumber dari pengelolaan kawasan hutan, baik dalam bentuk agroforestry, jasa lingkungan maupun pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

“Dengan mengajukan proposal melalui skema ini, Kelompok Tani Hutan memiliki peningkatan kapasitas dalam merencanakan pengelolaan usaha, sekaligus membuat anggaran kebutuhan usahanya, dan berkesempatan memaparkannya ke Tim Penilai proposal yang berasal dari Dirjen Balai Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PMU, Suporting Unit KPH Dampelas Tinombo, Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Dinas Koperasi dan UKM Sulteng, dan LSM,” ungkap Agus Efendi di salah satu hotel di Kota Palu, Senin, 25 Maret 2019,.

Efendi menambahkan, Kelompok Tani Hutan dari Kabupaten Donggala terdiri dari Desa, Siweli, Siboalong, Malonas, Lembah Mukti dan Karya Mukti sedangkan dari Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari Desa Oncone Raya, Sigega Bersehati, Sipayo, Bondoyong dan Sintuwu Raya.

Pada kesempatan itu, Onna Samada dari Kelompok Seroja, Desa Bondoyong menjadi Kelompok Tani Hutan yang telah memiliki izin perhutanan sosial dari KLHK mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan proposalnya dihadapan tim penilai, disaksikan langsung oleh Kelompok Tani Hutan lainnya.

“Saya baru kali ini menyampaikan langsung proposal usaha kami dengan cara seperti ini. Sempat juga saya grogi, sekalipun saya sudah terbiasa tampil di ruang-ruang diskusi dan seminar, akan tetapi di depan tim penilai saya belum terbiasa. Akan tetapi lambat laun bisa juga saya menyelesaikan pemaparan proposal kelompok tani kami,” kata Onna.

Onna mengatakan, model presentasi usaha seperti ini secara tidak langsung memberikan kami pengalaman dan pembelajaran yang baik, mengingat beberapa pertanyaan Tim Penilai sangat berharga.

”Semoga kami diberi kesempatan untuk memperbaiki proposal agar lebih sempurna,” harap Onna.

Reporter: Djunaedi
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas