Home Palu

Majelis Taklim se-Sulteng Dukung Jokowi

DUKUNG JOKOWI - Majelis-majelis taklim se-Sulawesi Tengah mendeklrasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sebagai calon presiden dan wakil presiden 2019-2024 di Lapangan Abadi Talise Palu, Ahad 24 Maret 2019. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)
  • Ahmad Ali: Fitnah dan Hoaks Menjadi Musuh Bersama

Palu, Metrosulawesi.id – Majelis-majelis taklim se-Sulawesi Tengah, Ahad 24 Maret 2019 mendeklrasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sebagai calon presiden dan wakil presiden 2019-2024.

Dipandu oleh Ketua Pengurus Besar Indonesia Berzikir, Hj Setri D Pariwa, bertempat di lapangan sepak bola Abadi Talise, majelis taklim se-Sulawesi Tengah membacakan deklarasinya untuk memenangkan pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sesaat sebelum zikir akbar dimulai. Majelis taklim ini nantinya menjadi garda terdepan untuk memenangkan pasangan petahana tersebut.

Anggota DPR RI, Ahmad M Ali, saat memberikan sambutan pada zikir akbar dan deklarasi majelis taklim, mengucapkan terimakasih kepada seluruh majelis taklim yang tergabung untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Ahmad Ali, mengaku sangat bersyukur atas inisiasi majelis taklim yang dimotori oleh Nilam Sari Lawira dalam memenangkan Jokowi.

Dalam sambutannya Ahmad Ali menekankan agar majelis taklim mampu menangkal hoaks dan fitnah. Pasalnya, makin dekat hari pemilihan hoaks dan fitnah semakin kencang, khususnya yang disebarkan lewat media sosial.

“Fitnah dan hoaks menjadi musuh bersama kita. Saya harap kita semua berkomitmen menghalau berita-berita yang tidak benar, berita bohong apalagi fitnah. Bukan hanya kepada Jokowi, tetapi juga kepada Prabowo,” ujar Ahmad Ali.

Semenjak pendaftaran capres dan cawapres, Ahmad Ali mencatat sedikitnya lima fitnah yang diarahkan ke Jokowi dan beberapa kepada Prabowo. Untuk Jokowi misalnya, dituduh anak PKI, padahal Jokowi lahir 1961 sementara PKI dibubarkan 1965.

Anggota DPR RI Ahmad M Ali. (Foto: Djunaedi/ Metrosulawesi)

“Masa iya anak umur 4 tahun menjadi kelompok PKI,” tegasnya.

Jokowi juga dituding anti Islam. Di hadapan majelis taklim, Ahmad Ali bersumpah, semenjak kenal dan bertemu dengan Jokowi, isu tersebut tidak benar karena Jokowi merupakan penganut ajaran Islam yang taat, shalat lima waktunya tidak putus.

Jokowi juga dituding anti ulama, lagi-lagi itu hoaks. Sebab, kalau Jokowi anti ulama tidak mungkin Jokowi menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres.

“Fitnah-fitnah seperti ini yang merusak tatanan demokrasi kita,” tandas Ketua Fraksi Nasdem DPR RI ini.

Fitnah berikut yang menyerang Jokowi, yakni melarang azan bila terpilih kembali jadi presiden. Semua ini merusak kehidupan berdemokrasi di Indonesia, kalau Jokowi mau melarang azan tidak perlu tunggu periode kedua.

“Sekarang bapak ibu semua bisa lihat, apakah ada azan yang dilarang. Saya kira sampai detik ini azan masih berkumandang diseluruh pelosok tanah air,” ujarnya.

Begitupun dengan pernikaha sejenis, seolah-olah bila Jokowi menang pernikahan sejenis dilegalkan. Hal-hal semacam ini mesti kita lawan bersama, jangan biarkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab menghancurkan negeri ini.

“Kita berkewajiban semua meluruskan fitnah. Memilih Jokowi atau Prabowo itu urusan masing-masing. Siapapun yang terpilih 17 April 2019 merupakan yang terbaik untuk bangsa ini,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI ini.

Dihadapan jamaah zikir Akbar, Ahmad Ali juga menyorit kelompok-kelompok berjubah yang menawarkan konsep berneraga yang baru. Sayangnya ketika ditanya nagara mana saja yang menjalankan konsep seperti yang disodorkan, kelompok-kelompok tersebut tidak mampu menjawabnya.

“NKRI sudah final sejak saat berdiri. Islam yang menjadi pelopor kemerdekaan Indonesia sudah menanamkan nilai-nilainya sejak merdeka, tidak ada satu kelompokpun di Indonesia yang terintimidasi dan hak-hak mereka dibelenggu. Jadi NKRI itu harga mati,” tandasnya.

Reporter: Elwin Kandabu, Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas