Prof Muh Basir Cyio. (Foto: Ist)

Berbagai manuver yang dilakukan oleh Professor Marhawati Mappatoba untuk menggagalkan Pemilihan Dekan Fakultas Pertanian dengan menolak mentah-mentah Permenristek Dikti Nomor 8 Tahun 2015 tentang Statuta dengan alasan cacat hukum, hingga keinginannya ada care taker Rektor, kini mulai melontarkan lagi kritikan-kritikan yang ditujukan ke Prof Basir dan Rektor Baru Prof Mahfdz, dengan maksud dan latar belakang kedengkian. Saat ini, Statuta yang sebelumnya dianggap cacat hukum, kini malah sebaliknya. Statuta dianggap sebagai satu-satunya produk hukum yang harus digunakan di Universitas Tadulako (Untad).

MANTAN Rektor Untad Dua periode Muhammad Basir Cyio, yang juga saingan berat dari Suami Prof Marhawati Mappatoba (Prof Hairil Anwar) yang dua kali gagal dan kalah dalam Pilrek, berhasil diwawancarai secara khusus oleh Metrosulawesi. Berikut Petikan wawancara bersama Prof Basir selaku mantan Rektor Untad:

Setelah usai menunaikan tugas sebagai Rektor dua periode, bagaimana perasaan Anda? Dan tugas apa yang menjadi agenda selanjutnya?

Alhamdulillah saya sehat wal afiat dan ini berkah yang luar biasa bagi saya selama menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan pemerintah dan keluarga besar Universitas Tadulako. Tugas selanjutnya seperti biasa yaitu menjalankan tugas tri darma perguruan tinggi. Masuk kelas, meneliti dan menulis artikel ilmiah internasional, serta melakukan pengabdian. Tugas ini juga rutin kami tunaikan di saat medapat tugas tambahan sebagai rektor. Saya ulangi, tugas utama seorang dosen adalah tri darma, dan yang lainnya tugas tambahan mulai dari rektor sampai koordinator prodi. Inilah tugas pokok, apalagi professor yang mendapat tunjangan macam-macam, mulai dari tunjangan profesi dosen, tunjangan kehormatan professor, tunjangan fungsional professor, dan tunjangan remunerasi. Untuk ukuran saya, pendapatan itu lebih dari cukup jika kita mau mensyukuri. Jadi mari kita nikmati dan syukuri hidup dan kesehatan ini. Kita hidup harus sehat, terutama sehat psikis biar kita tidak salah pikir dan salah menilai orang lain, he he he.

Mencermati kritikan yang sering dilontarkan oleh kelompok Prof Marawati Mappatoba, bagaimana Anda menyikapi? Dan apakah itu tidak mengganggu perasaan Anda?

Tidak perlu kita pikirkan apa yang orang pikirkan. Yang harus dilakukan adalah mari berpikir untuk berbuat yang bermanfaat. Karena saya kurang waktu memikirkan apa yang beliau pikirkan, maka kita doakan beliau (Prof Marhawati) sehat selalu dan tetap dalam lindungan Allah SWT. Saya sama sekali tidak terganggu apapun tindakan dan ucapan beliau. Pokoknya saya malah bersyukur, bahwa dengan masih mampunya mengkritik, itu artinya beliaumasih sehat. Sehat berkomunikasi dengan orang, keluarga, dan juga wartawan. Sebab saya dengan beliau sama-sama di Untad ini sudah hampir 29 tahun, jadi saya hafal betul beliau. Kebiasaan beliau mengkritik koleganya yang mendapat amanah tugas tambahan, itu sudah berlangsung lama dan semua rektor pernah mrasakan, baik Prof Aminuddin, Sahabuddin Mustapa, hingga saya. Saya masih Golongan IIIa, sudah tahu beliau bahwa kritik mengkritik adalah ciri beliau. Jadi kita harus maklumi saja. Yang menyedihkan bila beliau tiba-tiba sudah tidak ada lagi kabar. Tapi jika masih mampu mengkritik saya dan rektor sekarang, dan rektor-rektor yang akan datang, saya menganggap itusesuatu yang harus disyukuri. Beliau ternyata masih sehat dan masih ada. Alhamdulillah. Saya jamin, rektor keempat setelah Prof Mahfudz juga akan terus dikritik. Jadi kita tidak usah risau dikritik oleh beliau. Anggaplah itu bunga melati yang terus memberi bau semerbak.

Anda mengatakan bahwa rektor keempat pun pasca Prof Mahfudz, akan tetap dikritik oleh Prof Marhawati? Anda lupa soal usia beliau?

Astagfirullah. Maaf. Itu hanya perumpamaan bahwa beliau itu sudah jadi kebiasaan. Memamg rektor keempat selelah Prof Mahfdz, itu sama dengan 5 kali 4 tahun ke depan atau 20 tahun dari sekarang. Artinya, jika beliau masih sehat dan panjang umur, Prof Marhawati akan berumur 80 tahun pada saat rektor keempat sebab jika tidak salah, beliau saat ini sudah berumur 60 tahun. Yah kita doakan usia beliau sampai di situ dan masih terus memberikan kritikannya untuk kebaikan dan kemajuan Untad.

Terus, kenapa kesan di masyarakat, Prof Marhawati Mappatoba benci skali kepada Anda. Artinya, selama 8 tahun Anda memimpin Untad, di mata dia, Anda itu tidak ada positifnya. Salah terus, jelek melulu, dan dikritik terus. Anda melihat ini ada apa dan fenomena apa? Adakah kaitannya dengan kekalahan suaminya dalam dua kali Pilrek?

He he he. (Basir Cyio tertawa). Saya tidak pernah merasa jika beliau itu membenci saya. Orang yang dikritik itu artinya disayang oleh yang mengkritik. Jadi saya oke-oke saja apapun komentar beliau, saya senang. Dan tidak pernah saya pikirkan apapun isi kritikan beliau. Saya anggap beliau itu memang hebat. Dan saya tidak merasa terganggu sedikit pun. Saya hanya merasa terganggu jika jam olah raga kami terlewatkan, he he he. Beliau juga tidak pernah SMS atau WA saya dan menyatakan dia membeciku. Andai beliau perna WA saya bahwa dia sagat dengki dan membeciku, maka saya akan jawab WA beliau bawa 10 kali prof membeciku, maka 20 kali saya mengagumimu. Karena saya tidak pernah dengar beliau membenci saya secara langsung, jadi saya anggap yang orang cerita bahwa beliau benci sakili saya, itu hanya “hoax”. Maaf, bagaimanapun beliau itu tetap kakak dan senior yang baik. Mungkin hanya persepsi orang saja seolah membenci saya. Memang saya itu memiliki kekurangan. “Saya memiliki keterbatasan dalam mempersoalkan orang yang selalu mempersoalkan saya”.Jadi setahu saya beliau tidak benci saya. Perihal beliau tidak mau mengakui apapun yang kami perbuat untuk Untad, bagi saya itu tak masalah. Tidak ada juga dalam aturan bahwa kinerja saya harus mendapat pengakuan dari beliau. Bahwa beliau tidak sependapat, saya juga sependapat bahwa kita tidak harus sependapat. Terkait dengan Pilrek di mana suami beliau dinyatakan kalah, saya juga tidak sependapat. Suami beliau dua kali, suami beliau sama sekali tidak kalah, hanya kebetulan saya mendapat jumlah suara lebih banyak dari suami beliau, dan ternyata menteri berkeputusan bahwa yang dilantik itu adalah yang lebih banyak suaranya. Jadi tidak ada yang kalah tidak ada yang menang. Saya tidak masalah dengan suami beliau. Beberapa kali juga ketemu dipekuburan saat ada kolega meninggal. Prof Hairil baik ke saya waktu itu. Dan beliau baik bukan karena sedang berada di kuburan. Memang baik.

Sebagai senior, ada kesan kerja Prof Marhawati Mappatoba cuma tahu mengkiritik yang junior, tapi yang bersangkutan tidak ada prestasinya? Apakah Anda melihat seperti itu?

Beliau mengkritik saya itu wajar sebagai junior. Kami hanya selalu mendoakan semoga beliau sehat selalu, panjang umur, biar terus bisa memberikan komentar termasuk kritikan-kiritikan beliau kepada mantan rektor, rektor sekarang dan rektor-rektor yang akan datang.

Terkait dengan tudingan bahwa keberadaan Tim Independen/Tim Adviser yang ada di Untad adalah tidak sah menurut Prof Marhawati, bahkan mencurigai jaksa, polisi, BPKP, Wartawan, dan NGO yang ada di dalam sebagai pihak yang tidak layak. Bagaimana pandangan Anda?

Saya percaya 100 persen beliau-beliau anggota Tim Advicer adalah orang yang berintegritas karena diutus oleh institusinya masing-masing dalam memberikan advis sesuai dengan Perpres 16 Tahun 2018 (berubah setiap tahun) tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah terkait perihal transparansi. Di samping itu, Peraturan Pemerintah No 4 tahun 2014 memberikan kewenangan otonomi kepada perguruan tinggi, baik akademik maupun non akademik sebagaimana termuat dalam Pasal 22 ayat (3) huruf (b) yang berbunyi: otonomi di bidang nonakademik, meliputi kebijakan norma dan kebijakanoperasional serta pelaksanaannya, yaitu (a) organisasi; (b) keuangan; (c) kemahasiswaan; (d) ketenagaan; dan (e) sarana prasarana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah satu peraturan yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah Perpres yang menekankan transparansi. Keberadaa Tim Adviser rohnya adalah transparansi dalam hal operasional pengadaan barang dan jasa. Saya hanya berdoa, semoga beliau-beliau yang ada di Tim ini tidak tersinggung, khususnya NGO. Jika mereka keberatan dan keberatannya mengarah pada jalur hukum karena terkesan dilecehkan dan dihina, maka saya akan serahkan sepenuhnya kepada beliau-beliau.

Bagaimana sikap Anda dengan munculnya pengamat-pengamat baru, seperti Prof Max Nur Alam dan Dr Ir Taslim. Dan menurut informasi, Prof Dr Ir Max Nur Alam ini adalah bimbingan bapak selaku Ketua Promotor saat mengambil S3 di Untad? Apakah mereka juga adalah deretan dosen yang sakit hati karena ada maunya? Mohon tanggapan Anda?

Astaga. Jangan kasian bilang begitu. Prof Max itu juga senior saya. Beliau sudah dosen memang tahun 1982 kalau tidak salah, tahun di mana saya baru masuk di Unhas. Jadi tidak mungkin beliau sakit hati sama saya, komunikasi juga jarang, bahkan sejak beliau sudah doktor, nanti mau berurusan profesornya di Jakarta baru masuk di ruangan rektor. Karena tinggal satu bulan beliau akan pensiun jika tidak turun profesornya, maka saya minta Prof Mahfudz selalu Warek Umum dan Keuangan menemani ke Jakarta atas nama Rektor memberi penguatan bahwa Prodi Agribisnis sangat membutuhkan tenaga beliau. Alhamdulillan, jadilan Dr Ir Max Nur Alam MS sebagai Professor di saat enjury time. Rizki beliau memang baik. Terkait dengan Pak Dr Ir Taslik, saya juga tidak paham mau marah apa ke saya, karena saya juga tidak terlalu kenal beliau. Mungkin karena beliau dosen di Fakultas Teknik saya di Fakultas Pertanian. Jadi tidak alasan jika beliau benci saya karena komunikasi juga sangat jarang. Memang pernah beliau datang ke Rujab Rektor menjelang Pildek tahun 2015 silam. Pak Taslim datang sembari memperkenalkan diri sebagai calon Dekan Fatek bersanding dengan Prof Dr Amar Akbar Ali MT. Yang mendapat suara terbanyak kala itu adalah Prof Amar dan dilantik karena suara terbanyak itu, bukan karena menang kalah.

Menurut informasi, Prof Max Nur Alam waktu S3 belum layak diuji sebagai doktor, tapi Anda ngotot agar dipercepat padahal baru dua tahun dan tiga bulan. Banyak dosen yang mempertanyakan kala itu? Apakah ini bukan pelanggaran akademik?

Saat itu, Prof Max Nur Alam sudah berusia 63 Tahun. Sebagai adik yang menjadi promotor, selama masih memungkinjan doktor, kami upayakan. Saya juga berjanji bahwa Pak Max Nur Alam harus doktor sebelum pensiun. Alhamdulillah bisa. Bahwa belakangan beliau mulai juga belajar jadi pengamat, hal itu biasa. Namanya juga mau cari jati diri. Bahkan saya bangga sebagai guru yang melahirkan muridnya jadi doktor yang lebih hebat dari saya. Itu sebuah keberhasilan seorang guru.

Sebagai pertanyaan terakhir, bagaimana Anda mengelola perjalanan Anda sehingga tampak tidak pernah ada beban?

Begini, hidup ini terlalu indah dianugerahkan Allah pada ummat-Nya. Dan tidak pernah ada beban, kecuali kita salah menilai yang dihadapi. Yang membuat hidup ini indah karena banyak warna makanya disebut istilah pelangi kehidupan. Jadi jangan pernah berkhayal di saat menjadi penerima amanah, hanya akan menghadapi satu hal. Misalnya indahnya terima tunjangan remunerasi. Harus juga disambut baik jika ada yang tidak biasanya. Ada yang kritik, ada yang dengki, ada yang iri, ada yang benci, semua itu adalah bagian dari pelangi kehidupan yang saya maksud. Dan sebagai penutup, sejak dahulu sampai sudah tidak sebagai rektor, saya tetap merindukan kritikan-kritikan beliau, apapun bentuknya, dan di manapun salurannya. Mau di media massa maupun surat yang selalu dikirim ke mana-mana. Intinya, jika beliau masih bisa mengkritik, itu artinya beliau masih sehat wal afiat. Semoga beliau tetap dalam lindungan Allah SWT.

Terima kasih Pak Basir, dan jangan bosan-bosan jika besok muncul lagi kritikan Prof Marhawati.

Sama-sama Pak. Sehat selalu. Dan mari sama-sama kita nantikan kritikan-kritikan segar beliau. Banyak ragam, pun variasinya. Dunia memang indah, seindah pelangi yang bertengger di ufuk. (*)

Reporter: Michael Simanjuntak

Ayo tulis komentar cerdas