Home Donggala

Digugat Setelah Berhasil Menarik Banyak Wisatawan

BUTUH BANTUAN PEMERINTAH - Objek wisata Hutan Mangrove di Kelurahan Kabonga Besar Kecamatan Banawa, kini mulai digugat setelah berhasil menarik wisatawan. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)
  • Hutan Mangrove Kabonga Besar, Objek Wisata Karya Anak Muda

Hutan Mangrove di Kelurahan Donggala Besar, Kecamatan Banawa, Donggala, sejak beberapa tahun terakhir ini dibanjiri wisatawan. Mereka ingin menikmati suasana hutan mangrove yang dikelola anak muda itu. Kini, setelah dikenal banyak orang, kepemilikan objek wisata itu mulai digugat.

UDARA sejuk, angin sepoi-sepoi sekejap meluluhkan sengatan panas matahari, saat berada di tengah hutan mangrove di Kelurahan Kabonga Besar, Donggala. Di sana kita bisa menikmati, keindahan alam yang cukup luar biasa.

Di sisi kiri dan kanan dipenuhi pepohonan mangrove. Untuk lebih masuk ke tengahnya, pengelola membuat jalan setapak yang terbuat dari papan. Jembatan kayu ini hanya boleh dilalui oleh pejalan kaki. Selain menikmati kesegaran lingkungan, keberadaan hutan mangrove ini juga bisa jadi objek untuk selfie. Tak sedikit, pengunjung yang memafaatkan beberapa spot foto untuk berselfie ria.

Sayang, setelah tempat wisata mangrove ini terkenal, kini kepemilikannya mulai digugat. Memang, sejak didirikan oleh beberapa anak muda kreatif pada tahun 2016 hingga sukses seperti sekarang, lahan seluas 1 hektar belum memperoleh legalitas. Akibatnya ketika sudah menghasilkan dan booming, objek wisata Hutan ini mulai digugat oleh mantan anggota DPRD yang mengklaim lokasi yang menjadi objek wisata hutan mangrove adalah miliknya.

Yulianto. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

“Kami digugat oleh Hi Anwar Mutaher mantan anggota DPRD Donggala. Dia katakan bahwa tanah yang dijadikan objek wisata adalah miliknya. Persoalan ini muncul, sejak tahun 2017 atau ketika mulai bomingnya objek wisata yang kami kelola. Persoalan sengketa ini mentok diproses mediasi, Pemerintah kecamatan mempersilakan pihak yang mengaku (Hi Anwar M Taher) melanjutkan ke pengadilan, karena pemerintah kelurahan dan kecamatan juga memilki sertifikat terkait kepemilikan lahan,” kata Ketua KTH (kelompok tani Hutan) Yulianto saat ditemui Metrosulawesi, Ahad 10 Maret 2019.

“Kami sifatnya hanya mengelola lahan tidur dan bisa menghasilkan, sehingga anak muda di sini tidak menganggur pak. Pada prinsipnya kami tidak ingin menguasai lahan ini yang luasnya mencapai 1 hektar lebih. Kami sadar diri bahwa lokasi ini adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Olehnya kami hanya berinisiatif menjaga kelestarian alam hutan mangrove dengan kreativitas yang kami miliki. Persoalan tanah ini milik si A atau si B, kami mempercayakan pemerintah menyelesaikannya, hingga selesai dan berkekuatan hukum tetap siapa pemilik sah lokasi ini,” sebutnya.

Yudianto berharap, pemerintah bisa membantu menyelesaikan persoalan sengketa lokasi. Sebab katanya lagi, dari kemajuan objek wisata hutan mangrove ini sudah banyak investor yang kepingin menanamkan modalnya, baik secara pribadi atau pun dari sebuah lembaga. Seperti, ada seorang pengusaha dari Jakarta kemudian ada dari NGO, seperti Pertamina dan OJK tetapi hanya terkendala legalitas semua gagal dilakukan.

“Objek wisata hutan mangrove ini membantu peningkatan PAD Donggala. Kasihan jika diabaikan oleh pemerintah. Selama dua tahun saja (2016-2017) sebelum gempa/tsuanmi kami menghasilkan uang dari pengungjung Rp2 juta – Rp4 juta per minggu, dengan harga tiket masuk Rp5.000, parkir kendaraan Rp2.000. Dan kemudian dana yang kami dapat dibagi ke anak muda di sini karena sudah menjaga dan merawat objek wisata hutan mangorve.”

“Kami berharap, paling tidak kami sebagai pengelola mendapat perhatian pemerintah buatkanlah kami peraturan daerah (perda), agar investor bisa kemabali masuk kemari dan kami anak muda di Keluarahan Kabonga Besar bisa terbantu juga dalam perputaran roda perekonomian, pastinya kami taat aturan apapun keputusan pemerintah,” tutupnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Udin Salim

1 COMMENT

  1. Bukan sertifikat,,tapi hanya berupa AJB,,yg di miliki penggugat,, itupun AJB tersebut ada dua versi ukuran yg berbeda di tahun,tgl,bulan,dan hari yg sama,namun di lokasi yg sama juga,,ini amat aneh terasa kok ada AJB ganda di milik oleh penggugat

Ayo tulis komentar cerdas