Penjual garam Talise menunggu pembeli. (Foto: Fikri Alihana/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Pasca bencana alam gempa bumi disertai tsunami dan likuefaksi yang melanda Palu dan sekitarnya 28 September 2018 lalu. Sehingga, membuat pendapatan harga jual petani garam Talise menjadi menurun.

Ridho, salah satu penjual Garam Talise mengungkapkan sebelum terjadi bencana per hari pendapatan yang ia peroleh bisa mencapai Rp5 juta rupiah per hari. Sedangkan, menurutnya sekarang ini hasil dari penjualan garam hanya bisa digunakan untuk makan sehari-hari.

“Kalau sebelum gempa bisa jual sampai 20 karung/hari. Sekarang ini yah, sudah menurun satu karung saja setengah mati dijual. Apalagi, saya harus membiayai istri dan kedua anak saya,” tuturnya, Kamis (28/2/2019).

Ia mengungkapkan para petani dan penjual garam yang kini berada di Jalan Yosudarso, masih sangat membutuhkan tambahan modal usaha. Sementara itu, ia mengakui para pedagang hanya sebagian yang mendapatkan bantuan dari pemerintah itu pun hanya berupa tenda.

“Kami hanya berharap jual garam hanya per kilogram. Pengurus di sini banyak yang pilih kasih sebagian ada tidak dapat bantuan. Sedangkan, Penjual garam ada sekitar 20-an orang,” ungkapnya.

Lanjut dia, garam yang ia beli kemudian ia jual kembali. Harga garam yang ia jual pun bervariasi. Untuk garam berukuran satu gayung besar dihargai 15 ribu rupiah, sedangkan untuk gayung berukuran sedang dikenakan harga 10 ribu rupiah.

“Tambak garam yang selama ini menjadi tempat kerja sehari-hari ternyata bukan milik kami. Kita disini tidak ada yang punya tambak sendiri. Kita cuma beli saja. Yang punya tambak ada orang dari Talise, ” tuturnya.

Keuntungan yang ia peroleh pun tidak menentu. Tergantung sedikit banyaknya orang yang membeli garam mereka. Namun diakuinya, setiap petani garam memiliki pelanggan tetap.

“Kalau keuntungan itu tergantung pembeli juga. Kadang kita dapat 100 ribu, kadang juga dibawah 100 ribu. Kalau ditempat lalu, kalau jam-jam begini biasanya lumayan banyak. Itu dulu, kan beda dengan sekarang,” ucapnya.

Ridho mengakui sampai hari ini tidak terdaftar untuk mendapatkan bantuan hingga Hunian Sementara (Huntara) maupun Hunian Tetap (Huntap).

“Saya sekarang tinggal di Mamboro di rumah keluarga, yah, sudah begitu hanya sebagian saja yang mereka data dan berikan bantuan untuk kami tidak ada. Saya hanya mengharapkan dari hasil jual garam,” ujarnya.

Ia sangat berharap kepada pemerintah provinsi Sulawesi Tengah maupun Pemerintah Kota Palu agar lebih memperhatikan nasib para petani garam Talise maupun pedagang yang merintis kembali usahanya.

“Khususnya harus disediakan tempat untuk berjualan bagi kami agar terlihat rapi,” pungkasnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas