Home Palu

DBD di Palu, Empat Meninggal

dr Husaema. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Januari-Februari RS Anutapura Rawat 124 Penderita

Palu, Metrosulawesi.id – Angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di Palu terus bertambah. Rumah Sakit Anutapura Palu sudah merawat lebih dari 100 penderita yang berasal dari berbagai daerah sejak Desember 2018 lalu.

Menurut pihak rumah sakit sejak Desember 2018 lalu sejumlah pasien yang dirawat merupakan penderita DBD. Hingga saat ini jumlah penderita terus meningkat.

Pihak rumah sakit mencatat sebanyak 124 pasien penderita DBD dirawat selama Januari hingga 23 Februari 2019 (55 kasus pada Januari dan 69 kasus pada Februari). Sebagian besar penderita merupakan anak-anak (18 tahun kebawah).

Menurut pihak rumah sakit, virus DBD sudah menjadi fenomena yang setiap tahun terjadi, khususnya pada saat memasuki musim penghujan.

“Beberapa tahun lalu jumlahanya malah lebih banyak, makanya untuk kasus ini kita sudah antisipasi dengan menyiapkan dan menambah ruangan perawatan, khususnya kasus pada anak. Karena jumlah (penderita DBD) yang banyak itu adalah anak-anak,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan Rumah Sakit Anutapura Palu dr Muh Akbar, Selasa 26 Februari 2019.

Kata dia, kasus demam berdarah khususnya di Rumah Sakit Anutapura Palu setiap periode memasuki musim hujan ada kecenderungan peningkatan kasus.

“Memang ada peningkatan jumlah dari periode sebelumnya. Mulai Desember, Januari, Februari, ini memang ada peningkatan kasus, dan itu terjadi setiap tahun,” jelasnya.

Penderita DBD yang dirawat di Rumah Sakit Anutapura Palu bukan hanya pasien yang berasal dari Kota Palu tetapi juga pasien dari berbagai daerah lainnhya, misalnya Kabupaten Sigi, Donggala, Tolitoli, Buol, bahkan Mamuju Utara.

Namun sebagian besarnya merupakan pasien yang berasal dari Kota Palu. Pada Februari jumlah pasien DBD yang berasal dari Kota Palu sebanyak 49 orang, Sigi 10 orang, Donggala 4 orang, Tolitoli 1 orang, Buol 1 orang dan Mamuju Utara 4 orang.

“Dan ini tidak hanya terjadi di Kota Palu. Hampir semua daerah di Indonesia memang ada virus DBD, terutama saat musim hujan,” tandasnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr Husaema menegaskan kasus DBD di Kota Palu, jika dibandingkan dengan tahun 2018, tahun ini masih dalam batas wajar dan belum masuk kategori wabah.

“Jumlah terakhir data yang masuk di Dinkes Palu, masyarakat Palu yang ditangani disalah satu Rumah Sakit di Palu sebanyak 48 orang, sementara yang meninggal ada 4 orang. Namun perlu diketahui bahwa yang meninggal ini bukan dari pengungsi, tetapi dari rumah tangga,” kata dr Husaema saat ditemui Metrosulawesi, di ruang kerjanya, Selasa, 26 Februari 2019.

Husaema mengatakan penyakit DBD ini memang perlu diketahui oleh masyarakat, sebab penyakit ini terkadang menipu.

“Biasanya itu bagi orang yang terserang penyakit DBD pada hari ketiga panasnya turun, namun aktifitas dari anak tidak semakin baik, contohnya panas turun tetapi tambah lemas, mual, muntah dan lainya. Maka masyarakat perlu memahami terjadi gejala-gajala seperti itu, segera dibawah ke Rumah Sakit (RS) terdekat dan tidak perlu lagi ke tempat praktik dokter,” jelasnya.

Selain itu, Hasaema menyarankan, jika ada keluarga atau anak-anak terserang penyakit panas segera periksakan darah, untuk mengetahui lebih dini, apakah penyakit itu masuk kategori DBD atau tidak. Sehingga nantinya tindakan cepat bisa dilakukan sebelum masuk ke fase yang berat.

“Selama ini Dinkes Palu setiap ada laporan baik itu dari pemerintah, masyarakat, kita tetap melakukan antisipasi dengan melakukan fogging untuk mencegah jangan sampai terjadi penyebaran penyakit DBD lebih meluas, namun fogging ini bukan jangka panjang,” ujarnya.

Kata dia, masyarakat juga perlu tahu perkembangan nyamuk itu dari jentik menjadi nyamuk 10 hari, olehnya itu diharapkan masyarakat melakukan menguras, menutup dan menyingkirkan atau mendaur ulang (3M Plus). Jangan sampai tidak dilakukan kurang dari 10 hari.

“Penerapan 3M Plus seharusnya minimal seminggu sekali, sehingga tidak memberi kesempatan untuk nyamuk menetas, maka yang di lawan (diberantas) saat ini adalah jentik nyamuk,” ungkapnya.

Huasema menyarankan tiap rumah tangga perlu menyiapkan petugas pemantau jentik, agar dalam menguras kamar mandi tidak lewat seminggu, begitupun menutup tempat-tempat yang bisa ditempati nyamuk untuk bertelur, serta mengubur benda-benda daun, kaleng-kaleng dan lainya, semuanya itu untuk memberantas jentik nyamuk untuk tidak bertelur.

“Jika jentik ini dilawan maka secara otomatis nyamuk tidak akan ada, sebab gigitan nyamuk dewasa bukan penyebab, yang menjadi penyabab itu penularan nyamuk yang mengigit orang yang terkena penyakit DBD, kemudian menularkan virus DBD itu ke orang lain,” katanya.

Penyakit DBD ini bisa saja dari luar, sebab kata Husaema, mobilisasi penduduk cukup cepat saat ini, sehingga kemungkinan orang dari luar bukan membawa oleh-oleh tetapi membawa penyakit.

“Mobilisasi penduduk inilah yang perlu diantisipasi, olehnya pada saat kita pulang dari suatu daerah kita harus memeriksakan diri atau mengecek kesehatan, apalagi pulang dengan demam. Selain itu dalam meminimalisir agar tidak digigit nyamuk, salah satunya caranya adalah mengunakan kelambu, kemudian mengunakan lotion anti nyamuk (soffel),” ujarnya.

Reporter: Tahmil Burhanudin, Moh Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas