Personil Satgas Yonif 711/Raksatama, membantu Mahasiswa dan warga menyeberangi sungai Miyaka. (Foto: Ist)

Ambon, Metrosulawesi.id Anggota prajurit dari Satgas Yonif 711/Raksatama membantu mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Kependidikan (STKIP) Gotong Royong Masohi, menyeberangi sungai Miyaka, di Desa Lisabata, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Ambon, Jumat (22/02/2019).

Sejumlah mahasiswa STKIP Gotong Royong yang usai mengajar di SMP Negeri Lisabata, tidak dapat menyerangi lantaran air sungai meluap dan deras. Untuk menyeberangi sungai yang meluap dan deras, mahasiswa mendatangi pos satgas untuk meminta bantuan.

Dansatgas Pamrahwan Yonif 711/Raksatama, Letkol Inf. Fanny Pantouw, melalui seluler, Sabtu (23/92/2019), mengungkapkan sungai Miyaka merupakan sungai yang terletak di Kecamatan Pasania, yang merupakan akses penghubung antara Desa Galeh-Galeh dengan Desa Lisabata.

“Saat akan kembali mengajar,  beberapa Mahasiswa STKIP kesulitan menyeberangi sungai Miyaka yang sedang  meluap. Mereka datang ke pos satgas meminta bantuan untuk menyeberangi sungai,’’ papar Fanny Pantouw, sembari menambahkan saat air suangai meluap, akses yang menghubungkan kedua desa terputus.

Diakui Fanny Pantaouw, apa yang dilakukan anggota terhadap mahasiswa STKIP  Gotong-Royong Masohi,  menunjukan bahwa antara mahasiswa dan anggotanya begitu dekat.

“Ini mengindikasikan antara TNI dengan Mahasiswa atau warga tidak ada jarak, manunggal satu sama lain, bahu – membahu dalam membantu mengatasi kesulitannya,” ujar Fanny Pantaouw.

Lebih jauh Danyonif 711/Raksatama itu mengatakan bahwa, seluruh jajarannya telah bertekad untuk siap setiap saat membantu masyarakat dalam mengatasi kesulitan  yang mereka hadapi.

“Kita telah mensiagakan 711 Quick Respons Team, siapa pun yang mendapat kesulitan, jangan ragu, silakan laporkan, langsung kita respon oleh satuan terdekat,” tegasnya.

Sementara itu, Danposatgas yang berada di Lisabata, Letda Inf  Sudarmin, menyampaikan,  untuk membantu para mahasiswa dan warga menyeberang, mereka lakukan dengan cara bergandengan satu sama lain.

“Ketika itu, kita terpanggil, melihat mereka tidak bisa menyeberangi sungai. Maka segera kita perintahkan anggota untuk terjun ke lokasi, dan membantu Mahasiswa dan warga menyebrangi sungai, dengan cara yang dewasa bergandengan tangan, kemudian anak-anak digendong, demikian juga barang-barang warga kita pikul. Secara teknis, satu sama lain akan saling menguatkan ketika terjadi arus, sehingga tidak terseret,” jelas Sudarmin.

Ditambahkannya, dalam menjalankan tugas di daerah penugasan, ada sisi kemanusiaan dan kepedulian yang mesti dikedepankan. Apalagi mereka adalah generasi penerus bangsa yang nanti akan ikut memajukan perbatasan.

“Para mahasiswa dan anak-anak sekolah ini, tak punya pilihan lain karena akses satu-satunya untuk berangkat dan kembali dari dari dan menuju Negeri Lisabata hanyalah melewati sungai Miyaka,” tuturnya.(*)

Reporter: Djunaedy

Ayo tulis komentar cerdas