BAHAS HIV/AIDS - Asisten Bidang Pemerintahan dan Politik, Setdaprov Sulteng Faisal Mang mewakili Gubernur saat menyampaikan sambutan, di Rapat Koordinasi Pojakluh KEI, di Aula Disdikbud Sulteng pada Senin, 18 Februari 2019. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)
  • 27,53 Persen Penderita HIV Berusia Remaja

Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulawesi Tengah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng menggelar Rapat Koordinasi Pojakluh Komunikasi Informasi dan Edukasi (KEI), yang dihadiri oleh sejumlah kepala sekolah SMA/SMK dan Madrasah Aliyah (MA) Negeri dan Swasta se-Kota Palu. Kegiatan itu diselenggarakan di Aula Disdikbud Sulteng pada Senin, 18 Februari 2019.

ASISTEN Bidang Pemerintahan dan Politik, Setdaprov Sulteng Faisal Mang mewakili Gubernur mengungkapkan rapat koordinasi tersebut dalam rangka menyusun strategi serta menyebarluaskan informasi dasar HIV/AIDS pada anak umur 15-24 tahun khusus pelajar di SMA sederajat.

“Kegiatan ini juga berkaitan dengan surat keputusan lima menteri, diantaranya Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Menteri Sosial, yang dikeluarkan pada 2013 tentang penyebarluasan informasi HIV/AIDS pada penduduk usia 15-24 tahun,” katanya.

Wakil Ketua 1 KPAP Sulteng Faisal Mang mangatakan epidemi HIV/AIDS telah berkembang dengan pesat di seluruh dunia termasuk di Indonesia, begitupula di Provinsi Sulteng. Seiring dengan laju perkembangan dan upaya pengedalian hal ini terasa masih sangat memprihatinkan.

“Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng pada saat ini akumulasi kasus HIV/AIDS dari tahun 2002 sampai dengan 2018 tercatat kasus HIV kurang lebih 1.182, sementara AIDS sebanyak 672 kasus dan telah meninggal dunia 267 orang,” ujar Faisal.

Kata Faisal, bila diestimasi HIV ini sejak tahun 2012 di Provinsi Sulteng itu sebanyak 3.555, maka kasus yang terungkap baru mencapai 33,25 persen. Dari data tersebut kasus tertinggi terjadi pada umur 25-49 tahun di persentasekan kurang lebih 64,37 persen, selanjutnya di usia antara 20-24 tahun 27,53 persen.

“Dari data ini menunjukkan bahwa sejak usia remaja mereka telah terinfeksi HIV, dan ini disebab oleh maraknya pergaulan bebas remaja atau dengan kata lain, terjadinya hubungan seks yang berisiko, sehingga nampaknya jika dilihat semakin meningkat,” katanya.

Kata dia, bila HIV/AIDS ini tidak diatasi akan berdampak terhadap ancaman HIV/AIDS bagi remaja di masa-masa yang akan datang.

“Artinya bahwa jika kita tidak melakukan upaya pencegahan maka sudah pasti angka presentasi yang banyak terjadi di usia 25-49 tahun, bukan makin turun angkanya tetapi presentasinya justru bisa naik, termasuk juga dengan anak-anak usia 20-24 tahun. Padahal umur ini kita anggap masih produktif dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi bangsa dan negara ini,” ujarnya.

Olehnya itu Faisal berharap, tangungjawab dari seluruh strata pendidikan untuk melakukan upaya pengendalian sekaligus mengerem angka tersebut.

“Maka dari itu saya mengajak kita semua menginformasikan dampak dari pada HIV/AIDS ini di masyarakat,” katanya.

Faisal mengatakan pemerintah telah berkomitmen untuk menurunkan angka HIV/AIDS, upaya pencegahan tentunya mengunakan cara-cara yang lebih intens di kalangan remaja.

“Maka saya meminta sekolah-sekolah agar mensosialisasikan HIV IDS, pada penerimaan pserta didik baru atau di kegiatan ekstrakulikuler dan event-event lainya. Karena targetkan kita 95 persen usia 15-24 tahun sudah menerima informasi tentang sosialisasi dasar HIV AIDS ini,” jelasnya.

Olehnya itu kata Faisal, perlu ada upaya intens untuk menyebarkan informasi kepada peserta didik tentang HIV AIDS. Maka diharapkan pertemuan ini dapat menghasilkan suatu kesepakatan bersama yang harus di tindaklanjuti, baik itu dari sektor pendidikan maupun sektor lain, melalui kampanye “Aku Bangga Aku Tau”.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas