Home Palu

Air-Listrik Masih Kendala di Huntara

296
BELUM ADA LISTRIK - Direktur Utama PT Hadji Kalla Solichin Jusuf Kalla didampingi Walikota Palu Hidayat meninjau huntara sumbangan Yayasan PT Hadji Kalla di Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Kamis 14 Februari 2019. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)
  • 2.000 Hunian Tetap Akan Dibangun di Tondo-Talise

Palu, Metrosulawesi.id – Air dan jaringan listrik masih menjadi kendala untuk memindahkan para pengungsi ke hunian sementara atau huntara. Di Kota Palu saat ini sebanyak 226 unit huntara telah selesai pembangunannya dari target 228 unit. Hanya saja baru 114 unit yang dihuni dan masih ada 112 yang belum ditempati.

Koordinator Sub Bidang Huntara Pemkot Palu, Darma Gunawan meminta agar huntara yang telah selesai dibangun untuk segera diisi oleh pengungsi. Dengan demikian bisa diketahui kebutuhan huntara yang harus dibangun lagi.

“Saya mengambil contoh di huntara Silae, ternyata masih ada bilik huntara yang terisi,” kata Darma Gunawan pada Rapat Koordinasi Penanganan Huntara dan Huntap di Kantor Walikota Palu, Jumat, 15 Februari 2019.

Menurut Darma Gunawan, apabila masyarakat korban bencana bisa mengisi seluruh huntara yang sudah terbangun, juga akan memudahkan penyaluran jaminan hidup dan keperluan pengungsi di huntara yang disiapkan oleh Kementerian Sosial. Jaminan hidup sebesar Rp10 ribu perjiwa per hari dan bantuan perlengkapan hanya bisa disalurkan bilamana pengungsi sudah menempati huntara.

Dalam rapat tersebut sejumlah lurah menyampaikan belum tersedianya aliran listrik dan air ke hunian sementara sehingga kelurahan belum memindahkan para pengungsi. Seperti Lurah Donggala Kodi, Iqbal, mengatakan bahwa ada tujuh unit huntara yang sudah selesai dibangun namun belum bisa ditempati masyarakat karena belum tersedia dan listrik.

“Ada mata air di Padanjese dan warga sekitar sudah mengizinkan untuk dialirkan ke huntara. Namun untuk sampai ke huntara harus dilakukan pemasangan jaringan pipa. Begitupula dengan listrik, juga belum ada. Kami berharap kedua masalah itu segera ditangani agar masyarakat bisa menempati huntara,” kata Iqbal.

Keluhan serupa juga datang dari Lurah Watusampu, Lurah Kayumaluie Pajeko. Sedangkan di Petobo, sebagian warga sudah masuk ke huntara meski belum sepenuhnya selesai.

Menyikapi kondisi itu, Kepala Dinas PU Kota Palu Iskandar Arsyad selaku koordinator infrastruktur mengharapkan agar huntara yang sudah selesai agar segera diisi. Sedangkan kekurangannya seperti jaringan listrik akan diupayakan segera terpenuhi. Khusus air, kata Iskandar, kita bekerjasama dengan NGO Cluster Wash (Water, Sanitation and Health) untuk memasok ke huntara-huntara.

Sedangkan listrik, diakui Iskandar memang masih menjadi kendala karena meteran 450 Watt tidak mencukupi.

“Kita berharap PLN bisa segera mengatasi kebutuhan listrik huntara,” kata Iskandar.

Kata Iskandar, huntara yang dibangun Kementerian PUPR melalui BUMN sudah termasuk penyediaan listrik, air, fasilitas umum dan fasilitas sosialnya. Sedangkan untuk huntara yang dibangun oleh sejumlah lembaga swasta maupun donatur memang tidak menyiapkan jaringan listrik dan air. Kedua kebutuhan itu menjadi tanggungan pemerintah kota.

Sementara itu, Walikota Palu Hidayat mengatakan saat ini pemerintah kota sedang mempersiapkan pembangunan hunian tetap. Bahkan sudah membangun dua unit rumah contoh untuk hunian tetap di Kelurahan Tondo, tidak jauh dari Kampus Universitas Tadulako. Akses jalanan juga sedang dikerjakan.

“Bantuan dari Buddha Tzu Chi sebanyak 2.000 unit akan kita bangun di Tondo Talise dan saat ini sedang dipersiapkan infrastruktur pendukung yaitu akses jalanan. Sedangkan untuk air akan dialirkan dari Poboya,” kata Hidayat di ruang kerjanya.

Dia juga menyatakan untuk lokasi lain seperti Duyu dan Petobo juga akan dibangun hunian tetap. Ditargetkan hunian tetap yang akan dibangun sekitar empat ribu unit.

Sedangkan untuk relokasi pedagang Talise ke hutan kota, saat ini penyelesaian kawasan hutan kota sedang digenjot pembangunan lapak-lapak. Sejumlah investor bahkan siap membangun seperti kafe dan bioskop.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas