Home Palu

Jaga Karakter Siswa, Kelas Sementara SDN 10 Palu Dijadikan Musala

352
I Nyoman Setiartawan. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Kelas Sementara SD Negeri 10 Palu saat ini menjadi tempat ibadah siswa untuk sholat berjamaah, atau Musala Sekolah. Hal itu terpaksa dilakukan karena sekolah tersebut tidak memiliki tempat ibadah umat muslim.

“Salah satu ruangan kelas sementara kami terpaksa jadi Musala sebagai tempat ibadah para siswa untuk sholat berjamaah,” kata Kepala SDN 10 Palu I Nyoman Setiartawan belum lama ini.

Kata dia, langkah itu dilakukan pihaknya karena keberadaan Musala dinilai sangat penting sebagai tempat penanaman karakter religi siswa. Bahkan, menurutnya, melalui Musala sekolah dapat membentuk kedisiplinan siswa melaksanakan sholat tepat waktu.

“Dengan begitu tidak ada lagi siswa yang terlambat masuk sekolah, sebab karakter disiplin sudah tertanam pada dirinya. Ini juga akan menjadi salah satu faktor penunjang kesuksesan siswa,” katanya.

Pasca bencana, kata I Nyoman, beberapa sekolah di Kota Palu mendapat bantuan pembangunan ruangan kelas sementara.

“Kita mendapatkan satu unit kelas sementara yang terdiri dari dua ruang kelas darurat. Setelah dilakukan serah terima beberapa waktu lalu, kita langsung gunakan. Sekarang kita gunakan untuk ruang kelas dan Musala,” ungkapnya.

“Karena memang kita usulkan untuk pembangunan Musala, ternyata tidak ada di RAB (Rencana Anggaran Biaya), dengan adanya ruang kelas darurat ini maka kita fungsikan menjadi Musala,” ujarnya.

Sebelum ada kelas sementara kata dia, para siswa melaksanakan sholat dzuhur di kantor DPRD Kota Palu, hal itu menjadi salah satu alasan menjadikan kelas sementara sebagai Musala.

“Siswa juga harus melewati jalanan yang padat kendaraan, sehingga untuk mengurangi resiko terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami memutuskan untuk memfungsikan Rukantara menjadi Musholla,” jelasnya.

Sementara kata dia, akibat bencana kemarin, ada beberapa ruangan kelas SDN 10 Palu mengalami kerusakan, namun pihak sekolah telah mengantisipasinya, sehingga semua ruangan kelas bisa difungsikan.

“Hanya saja, sebelum bencana, SDN 10 Palu sudah kekurangan ruangan, terpaksa ada dua kelas yang masuk siang. Pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pihak sekolah sudah melakukan pengurangan jumlah penerimaan peserta didik, sehingga tersisa satu kelas yang tidak memiliki ruangan itu,” ungkapnya.

“Kita juga masih kekurangan ruangan untuk pembelajaran agama Kristen, akibatnya ruang perpustakaan dibagi menjadi dua. Memang untuk membangun SDN 10 Palu sangat sulit, mengingat lokasinya yang sangat sempit. Jadi kita hanya bisa berbuat yang terbaik dan memaksimalkan apa yang ada,” katanya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas