PANTAU DATA SENSOR - Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu Cahyo Nugroho saat memantau data sensor aktifitas Sesar Palu Koro di Kantornya, Selasa, 12 Februari 2019. (Foto: Michael Simanjuntak/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu Cahyo Nugroho mengungkapkan pasca gempabumi 7,4 SR pada 28 September 2018, aktifitas Sesar Palu Koro kini menurun.

“Aktivitas Sesar Palu Koro jauh menurun, kalau menurut kami sudah dalam posisi normal, khususnya sepekan terakhir,” ungkap Cahyo di Kantornya, Selasa, 12 Februari 2019.

Dia mengakui sensor BMKG Stasiun Geofisika memang masih merekam pergerakan Sesar Palu Koro. Namun pergerakan itu dalam magnitudo yang kecil, bahkan kadang tidak terekam oleh sensor BMKG.

“Pergerakan itu bagus karena kalau diam kita justru takut karena ada penumpukan energi. Jadi kalau satu kali lepas berarti kekuatannya sebesar energi yang tersimpan. Makanya kalau kita merasakan guncangan-guncangan kecil malah lebih bagus karena energi Sesar Palu Koro tidak tersimpan,” ucap Cahyo.

Cahyo mengatakan Kota Palu sebagai wilayah yang dilalui Sesar Palu Koro, guncangan-guncangan gempa kecil harus dianggap sebagai hal wajar. BMKG kata dia akan terus memberikan edukasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat.

“Jadi meski kondisi Sesar Palu Koro sudah normal bukan berarti guncangannya berhenti karena kita tinggal dekat dengan sumber gempabumi. Aktifitas normalnya Palu Koro yah seperti itulah, masih tetap ada guncangan tapi dengan intensitas mungkin tidak dirasakan manusia, hanya alat,” tandas Cahyo.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BKMG Stasiun Geofisika Klas I Palu Hendrik Leopati menerangkan pihaknya mencatat sepanjang tahun 2018 guncangan gempabumi di Sulteng 1.800 kali.

Dari jumlah itu, hanya 79 kali yang dirasakan masyarakat termasuk guncangan gempa pada 28 September 2018. Intensitas gempa dikatakan meningkat setelah guncangan yang memporak-porandakan Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong.

“Kami mencatat ada 50 lebih guncangan gempa yang dirasakan masyarakat setelah peristiwa 28 September 2018,” ucap Hendrik.

Hendrik menambahkan dominasi gempa yang terjadi sepanjang tahun 2018 berada disepanjang patahan Sesar Palu Koro diikuti patahan lokal seperti di Tolitoli, Buol, Poso, Parigi Moutong dan Luwuk.

“Seperti yang kita ketahui gempa yang paling besar itu 7,4 SR, yang efeknya sudah diketahui bersama,” tandasnya.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas