“Penyakit DBD mengikuti musim hujan, saat musim hujan kasus DBD juga meningkat. Jadi masyarakat harus tetap waspada karena musim hujan masih sampai Maret” - Andi Cerra Fanti, Kasi BPPMI Dinkes Sulteng -
  • Dinkes Sulteng Catat Januari 180 Kasus, 5 Meninggal

Palu, Metrosulawesi.id – Masyarakat se Sulawesi Tengah diimbau tetap mewaspadai ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kepala Seksi Bimbingan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi (BPPMI) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng Andi Cerra Fanti mengungkapkan ancaman DBD masih berlanjut sampai Maret mendatang.

“Penyakit DBD mengikuti musim hujan, saat musim hujan kasus DBD juga meningkat. Jadi masyarakat harus tetap waspada karena musim hujan masih sampai Maret,” ujar Andi di Palu, Senin, 11 Februari 2019.

Kewaspadaan yang harus dilakukan masyarakat yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara menguras, menutup dan mendaur ulang sampah-sampah (3M). Andi menjelaskan dalam melakukan PSN, fokus 3M tidak boleh hanya dilingkungan luar rumah.

“PSN juga harus dilakukan didalam rumah karena selama ini 3M hanya dilingkungan luar saja, padahal ciri khas nyamuk penyangkit DBD berada di dalam rumah seperti dipenampungan dispenser, dibawah kulkas dan digantungan pakaian,” jelasnya.

Dikatakannya apabila hal itu dilakukan masyarakat jauh lebih efektif dibanding PSN melalui fogging. Fogging yang selama ini dianggap ampuh memberantas nyamuk DBD tidak akan akan terwujud jika tak diikuti dengan PSN di dalam rumah.

Hal itu sudah terbukti saat fogging dilakukan di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) pada Mei-Juni 2018, namun beberapa bulan kemudian penyakit DBD justru merebak di daerah itu dan ditetapkan kejadian luar biasa (KLB).

“Makanya tidak selamanya fogging efektif memberantas nyamuk DBD, buktinya di Bangkep pada Desember 2018 penyakit DBD sampai status KLB,” ucap Andi.

Namun demikian fogging akan tetap dilakukan jika dipandang perlu dalam mencegah peningkatan kasus DBD. Khusus di Kota Palu, Dinkes kata Andi baru-baru ini telah melakukan abatesasi massal di Kelurahan Talise. Obat pembasmi jentik nyamuk tersebut diberikan secara gratis kepada masyarakat untuk ditaburkan kedalam bak atau penampungan air.

Andi mengatakan sejak musim penghujan mulai melanda Sulteng, Dinkes sudah mengimbau kabupaten melalui surat edaran agar mewaspadai terhadap kenaikan kasus DBD. Selain itu, Dinkes Sulteng juga telah menyurati semua rumah sakit di daerahnya untuk melakukan surveilans ketat (pengamatan) terhadap pasien dengan indikasi penyakit DBD. Itu karena penetapan terserang DBD hanya bisa dikeluarkan pihak rumah sakit melalui uji laboratorium.

Untuk Sulteng sendiri dalam kurun Januari 2019, Dinkes mencatat sebanyak 180 kasus DBD. Dari jumlah kasus tersebut, 5 orang dikatakan meninggal dunia yang terdapat di dua kabupaten dan satu kota. Kasus DBD Januari 2019 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya pada bulan yang sama.

“Yang meninggal sudah 5 orang yaitu di Kota Palu 2 orang, di Bangkep 2 orang dan di Tolitoli 1 orang. Dibanding tahun lalu di bulan yang sama memang ada peningkatan. Sesuai data kami Januari 2018, DBD di Sulteng hanya 92 kasus,” tandas Andi.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas