“Maka dari itu bagi masyarakat anaknya panas, apalagi misalnya muntah-muntah, sakit ulu hati, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter atau dibawa ke RS untuk mendapatkan pelayanan, jangan sampai terlambat” - dr Husaema, Kadis Kesehatan Kota Palu -
  • Dinkes Palu Imbau Masyarakat Cegah DBD Lewat 3M Plus

Palu, Metrosulawesi.id – Warga Kota Palu kini harus lebih waspada terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Hingga Sabtu 9 Februari, ada dua anak usia belasan tahun yang meninggal karena DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Husaema mengungkapkan meninggalnya dua pasien penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), di salah satu Rumah Sakit (RS) di Palu, tidak harus berkaitan dengan terlambatnya pelayanan. Sebab ada kasus-kasus yang berat yang memang tidak mampu oleh spesialis.

“Yang jelas dokter telah menanggani pasien tersebut sesuai dengan SOP, sebab sehebat apapun dokter jika tuhan sudah berkehendak. Namun kita berupaya melakukan upaya pencegahan dengan melibatkan seluruh elemen atau komponen terkait,” ujar dr Husaema melalui ponselnya, Ahad, 10 Februari 2019.

Husaema mengatakan upaya cegah DBD ini telah dilakukan melalui instruksi Walikota Palu ke seluruh Lurah dan Camat, agar mengimbau warganya untuk mencegah DBD dengan 3M Plus. Selain itu Dinkes Palu selalu turun ke lapangan jika misalnya ada ditemukan pada suatu wilayah terdapat kasus DBD, maka akan langsung di fogging.

“Yang tidak bisa kita prediksi adalah terjadinya mobilisasi penduduk, misalnya ada penderita DBD dari Surabaya ke Palu membawa penyakit itu, kemudian apabila orang sakit DBD itu digigit oleh nyamuk biasa, kemudian nyamuk itu mengigit orang lain, maka terjadilah penularan penyakit DBD kepada orang tersebut,” jelasnya.

Husaema menjelaskan ketika ada seseorang terserang penyakit DBD, masuk di hari ketiga penyakit itu kadang mengecoh tiba-tiba membuat panas badan menjadi turun. Padahal itu sebenarnya sudah mau masuk kekurangan cairan. Sehingga orang tuanya mungkin menyangka sudah sembuh.

“Maka dari itu bagi masyarakat anaknya panas, apalagi misalnya muntah-muntah, sakit ulu hati, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter atau dibawa ke RS untuk mendapatkan pelayanan, jangan sampai terlambat. Jika terlambat ini berbahaya, apalagi cairan sudah masuk ke otak itu lebih berbahaya lagi,” katanya.

Pencegahan terhadap DBD ini, kata Husaema, Dinkes Palu telah melakukan berbagai hal. Contohnya, kemarin itu Dinkes telah membagikan kelambu, kemudian mengimbau orang muridn di sekolah agar menyiapkan autan untuk digosok ke sejumlah tubuh anaknya agar tidak tergigit nyamuk.

“Kemudian kami juga di sekolah telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, dengan mengimbau sekolah agar membersihkan seluruh tempat-tempat, untuk tumbuhnya jentik sehingga tidak berkembangnya nyamuk yang hidup, bahkan kita juga lakukan fogging di lingkungan sekolah, jika misalnya sekolah itu berpotensi sebagai penyebaran DBD,” ujarnya.

Namun kata Husaema, yang paling utama adalah peran masyarakat dalam memerangi DBD ini.

Menurutnya, di tahun lalu yang menderita penyakit DBD di Palu kurang lebih 100 orang, artinya jika dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini masih dalam batas kewajaran, namun demikian semua pihak diperlukan untuk membantu membersihkan lingkungan.

“Sesuai data terakhir Dinkes Palu menemukan 48 kasus DBD, dan dua yang meninggal. Itupun meninggalnya kedua orang itu dari perumahan dosen, bukan dari Posko Pengungsian, pasien yang meninggal dari rumah penduduk, ini mungkin disebabkan dari mobilisasi penduduk yang kita tidak bisa prediksi,” katanya.

Sebab kata Husaema, karantina di Indonesia belum seperti di luar negeri, setiap orang yang datang dari luar daerah harus di periksa.

“Kita di negara ini belum punya alat secangih itu, kita perlu kesadaran bersama. Kami sebagai liding sektor telah mengupayakan melakukan penyembuham kepada masyarakat termasuk di posko pengungsian dan puskesmas, karena kita mempunyai tim yang datang untuk memberikan penyuluhan,” pungkasnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas