Home Pendidikan

Dorong Penulis Muda, Pemda Perlu Katalogisasi Arsip Sulteng

284
Haliadi Sadi, Ketua Pusat Penelitian Sejarah (PUSSEJ) Untad. (Foto: Ist)

HALIADI SADI adalah dosen sejarah, peneliti sejarah sekaligus penulis buku sejarah. Pada tahun 2006, dosen Universitas Tadulako (Untad) Palu ini mendirikan Pusat Penelitian Sejarah (PusSEJ) Untad.

Pria 47 tahun ini memang produktif menulis buku. Dia telah menghasilkan puluhan buku, mayoritas bertema sejarah lokal Sulawesi Tengah. Tiga tahun terakhir saja, bersama tim, dia telah menulis buku di antaranya: Sejarah Islam di Lembah Palu (2016); Hj. Dahlia Syuaib: Ulama Intelektual Perempuan dari Sulawesi Tengah (2017); Sejarah Sosial Sulawesi Tengah, (2017); dan Biografi Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda Kabupaten Tojo Una-Una 2016-2020 (2018).

Menurut Haliadi Sadi, Sulawesi Tengah butuh penulis-penulis muda yang responsif terhadap tema sejarah lokal. Pada sisi lain, pemerintah daerah juga diharapkan memberi dorongan kepada para penulis muda. Pemda juga diminta mengatasi salah satu kendala penulisan sejarah yakni masalah arsip.

Berikut petikan wawancara wartawan Metrosulawesi dengan pria asal Buton Sulawesi Tenggara yang bernama lengkap Haliadi Sadi, SS, M.Hum., Ph.D. saat ditemui di rumahnya di Perumahan Dosen Untad, Rabu 30 Januari 2019.

Apa saran Anda kepada penulis muda di Sulawesi Tengah?

Saya sebagai penulis dan juga sebagai ketua Pusat Penelitian Sejarah Untad, mengimbau kepada penulis-penulis muda agar responsif terhadap tema-tema penulisan. Tetapi, jangan juga misalnya karena ada peristiwa gempa bumi, lantas semua menulis tentang gempa. Penulis muda harus sesuaikan dengan bidang kajiannya. Kalau ahli politik, tulislah tentang politik, ahli sosiologi tulislah sosiologi. Ahli gempa tulislah gempa. Penulis pemula saya sarankan fokus pada bidangnya, agar bermangaat di masa depan. Jika angin ke barat, Anda ke barat, angin ke timur Anda ke timur, suatu saat tidak mendapatkan manfaat.

Banyak buku sejarah yang ditulis oleh bukan ahli sejarah, apa pendapat Anda?

Kepada penulis sejarah yang bukan ahli sejarah, harus hati-hati menulis. Karena di metodologi sejarah ada arsip-arsip yang perlu didalami dan harus hati-hati. Tetapi, ilmu sejarah itu terbuka pada siapa saja yang mau menulis, silakan tapi hati-hati dan melihat metodologinya.

Tema apa yang perlu ditulis di Sulawesi Tengah?

Masih sangat banyak kajian sejarah di Sulawesi Tengah yang belum diteliti. Salah satu fase yang belum tersentuh adalah sejarah Jepang di Sulteng, termasuk juga masa Kolonial Belanda. Masih sangat kurang. Sejarah kebudayaan, sejarah politik, apalagi sejarah ekonomi di Sulteng, belum ada. PusSEJ masih terbatas pendanaan dan pengkajinya. Oleh karena itu, saya berharap anak-anak muda, mahasiswa S2 bergabung di PusSEJ untuk melakukan penelitian. Kami terbuka untuk siapa saja, saya suka anak muda yang mau berusaha.

Anda menulis sejarah perbankan, apa sebenarnya spesialisasi Anda?

Saya menulis sejarah perbankan di Sulteng yang seharusnya ada ahli sejarah tentang perbankan. Saya spesialisasi sejarah sosial politik, harusnya tidak menyeberang ke sana (sejarah perbankan), tapi tidak ada yang bisa menulis itu, maka saya yang menulisnya. Waktu S1 saya menulis skripsi “Bandit Sosial di Sidrap: Kasus TKR dalam Pergolakan DI/TII di Sulawesi Selatan”. S2 saya menulis tesis “Buton Islam dan Islam Buton : Islamisasi, Kolonialisme, dan Sinkretisme Agama 1873-1983”. Dan, S3 menulis disertasi “Terbentuknya Elit Baru di Sulawesi Tengah”. Jadi, saya lebih ke sejarah sosial. Tetapi, kajian sejarah sosial memang sangat luas.

Bagaimana pendapat Anda tentang dukungan pemerintah daerah dalam penulisan buku-buku lokal Sulawesi Tengah?

Perguruan tinggi di Sulteng yang harus memperkenalkan aktivitas mereka kepada pemda agar mereka (pemda) tahu apa yang perlu dilakukan dan diterbitkan untuk buku-buku tentang Sulteng. Pengalaman kami di PusSEJ setelah ditawarkan kepada Pemda, baru memahami bahwa buku seperti ini perlu.

Apa kendala yang dihadapi dalam penulisan sejarah lokal Sulawesi Tengah?

Peneliti sejarah menghadapi kesulitan dalam mencari arsip tentang Sulawesi Tengah. Arsip provinsi ini belum dikatalogisasi di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), begitu juga di Kantor Arsip di Makassar. Saya rekomendasikan agar arsip Sulteng, semua kabupaten kota yang ada di Badan Arsip Nasional Republik Indonesia, termasuk yang ada di Belanda dikatalogisasi. Faktanya sekarang, arsip Sulteng masih berada di katalog Sulsel, Gorontalo, Ternate, atau Manado. Kalau kita ke ANRI di Jakarta mau mencari arsip, tidak ada katalog Sulteng.

Siapa yang bertanggung jawab melakukan katalogisasi arsip?

Membuat katalog ini adalah tugas Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulteng. Memisahkan arsip Sulteng dari katalog arsip provinsi lain yang ada di ANRI Jakarta, maupun yang ada di Makassar. Kalau sudah ada pemisahan maka bisa dibawa ke provinsi, walaupun dokumennya disimpan di sana, tapi kan bisa dicopy arsip turunan, asal ada kerja sama dengan ANRI. Kelemahan kedua, sangat kurang arsip pribadi. Sehingga kita hanya mengandalkan oral history atau sejarah lisan. Tapi, itu kelemahan juga sekaligus kelebihan untuk mengembangkan tradisi lisan. Seharusnya di Sulteng ada pusat kajian tradisi lisan.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas