Home Palu

Pascabencana, Perayaan Imlek di Palu Digelar Sederhana

IMLEK TAHUN LALU - Seorang anak memberikan angpao kepada barongsai di Vihara Karuna Dipa Palu pada perayaan Imlek tahun 2018 lalu. (Foto: Eddy/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Pascabencana yang menimpa Palu Sigi dan Donggala 28 September 2018 lalu, perayaan tahun baru imlek 2019 ini, bakal dirayakan secara sederhana oleh warga Tionghua yang ada di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Perayaan imlek tahun ini akan dilakukan dengan banyak berdoa saja. Tidak ada lagi pakai perayaan seperti adanya tarian barongsai kayak tahun-tahun sebelumnya,” kata Cik Fang (47), warga Tionghua kota Palu, kepada media ini, Ahad, 3 Febuari 2019.

Warga jalan Dewi Sartika, Palu Selatan ini mengatakan, perayaan Imlek tahun 2019 ini dirayakan secera sederhana dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bentuk kepedulian dan keprihatinan atas musibah bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang telah menelan ribuan korban jiwa.

“Makanya, untuk tahun ini kami banyak berdoa saja. Berdoa untuk kebaikan bersama, berharap kita bebas dari bencana, bangsa aman dan sejahtera,” katanya.

Dia paparkan, disamping berdoa dalam perayaan imlek tahun 2019 ini, dirinya bersama warga Tionghua lain akan mengumpulkan sumbangan suka rela dari sesamanya, yang kemudian hasilnya akan dibagikan kepada yang membutuhkan.

“Sumbangan yang sudah dikumpulkan akan digunakan kegiatan sosial misalnya, digunakan untuk membantu anak-anak di panti asuhan dan lain sebagainya termasuk untuk saudara yang menjadi korban bencana,” ujarnya.

Lie Hernawati, warga Tionghua lain, di jalan Zebra, Palu Selatan, mengatakan, perayaan pergantian tahun baru atau imlek bagi warga Tionghua harus disambut dengaan rasa syukur dan suka cita, sebab imlek tidak hanya sebatas penanggalan cina, tetapi ajang silahturahmi dengan keluarga.

“Imlek berarti rasa syukur memasuki tahun baru penanggalan cina. Imlek juga menjadi ajang untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat dan bisa berbagi antar keluarga, kerabat dan sesama,” katanya.

“Siapa saja warga keturunan Tionghua menanti moment ini. Karena bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat, tidak melihat agama. Perayaan imlek, yang budha akan berdoa atau sembayang di vihara, sedang yang lain berdoa menurut keyakinannya,” tegasnya.

Reporter: Sulapto
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas