Home Donggala

RS Kabelota Akreditasi C Setelah 19 Tahun

631
Direktur Rumah Sakit Kabelota Donggala, dr Syahriar. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Sejak berdirinya RS Kabelota tahun 2000 silam atau di masa pemerintahan Bupati almarhum Nabi Bidja, rumah sakit kebanggan masyarakat Donggala baru memilki akreditasi kategori bintang I atau tipe C tahun 2019. Artinya hampir 19 tahun RS yang terletak di Kelurahan Kabonga Besar tersebut berjalan tanpa mengantongi akreditasi dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

Plt Direktur RS Kabelota dr Syahriar mengatakan, sertifikat akreditasi memang memerlukan proses dan kemauan pemangku kepentingan untuk mengurusinya. Banyak syarat yang dibutuhkan memperoleh sertifikat akreditasi rumah sakit. Salah satunya jumlah tenaga medis atau tenaga dokter umum dan spesialis sebagai pendukung jalannya aktifitas rumah sakit.

“Alhamdulliah sejak saya ditunjuk menjadi Plt RS Kabelota tugas utama saya mengurusi akreditasi dan limbah medis telah selesai kami lakukan dan rumah sakit kita bisa kembali bangkit di tahun 2019 ini dengan pembenahan di segala lini. Kami juga sudah melakukan kembali MoU dengan Universitas Udayana terkait dokter spesialis yang akan bertugas di Kabelota,” tukasnya.

Syahriar mengatakan, sertifikat akreditasi Rumah Sakit Kabelota diterima pada 31 Desember 2018 di Jakarta yang ditandatangani langsung oleh Ketua Komisi Akreditasi Rumah Sakit Dr dr Sutoto.M.Kes, bedasarkan penilaian RS Kabelota diakreditas sebagai RS tipe C atau bintang satu.

Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit Bintang I Kategori Tipe C sudah dimiliki Rumah Sakit Kabelota Donggala. (Foto: Tamsyir Ramli/ Metrosulawesi)

“Kami tidak bisa bayangkan jika RS kabelota hingga akhir tahun kemarin akreditasi rumah sakit belum juga dikeluarkan. Pastinya BPJS akan lari dan sudah pasti RS kebanggaan masyarakat Donggala turun kelas dan menjadi “puskesmas”. RS Kabelota harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Diketahui, selama beberapa tahun lalu rumah sakit ini banyak mengalami pasang surut, manajemen rumah sakit itu sakit sehingga dua diirektur definitif sebelumnya drg Amriani Lapase dan drg Anisa M Taher buang handuk alias mengundurkan diri. Posisinya hingga dua kali diduduki pejabat Plt, pertama Ahmadi dan saat sekarang Syahriar.

Berdasarkan catatan Metrosulawesi ada beberapa persoalan yang menyebabkan rumah sakit Kabelota “sakit” sehingga ditinggal direkturnya. Seperti persoalan tunggakan listrik tahun 2018 RS belum terbayarkan, gaji dokter spesialis, dokter umum, tenaga honorer, sampah medis, hingga tunjangan dokter, padahal DPRD sudah memberikan porsi anggaran untuk menopang rumah sakit tersebut.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas