Riswal Pagiling. (Foto: Moh Fadel/ Metrosulawesi)

Palu, Metrosulawesi.id – Kasub Tata Usaha Hukum RSU Anutapura Palu, Riswal Pagiling mengatakan 400 lebih tenaga honorer RSU Anutapura telah selesai masa kontraknya selama satu tahun. Menurutnya, hal itu tidak mempengaruhi pelayanan di rumah sakit tersebut.

“Jadi tidak ada istilah diberhentikan. Karena berdasarkan aturan SK tenaga kontrak itu dari 1 Januari sampai 31 Desember 2018. Beberapa waktu lalu kami belum putuskan untuk dirumahkan dulu, sebab menunggu masa kontraknya,” kata Riswal di ruang kerjanya, Rabu, 30 Januari 2019.

Riswal mengungkapkan pada Januari, jumlah tenaga kontrak telah dikurangi, mengigat kondisi bangunan rumah sakit sebagian rusak dan jumlah pasien bekurang. Ini menyebabkan penghasilan rumah sakit ikut berkurang.

“Pendapatan rumah sakit pasca gempa hingga saat ini mengalami kekurangan signifikan. Sebelum gempa penghasilan kami mencapai Rp10 miliar per bulan. Namun pasca gempa yang membuat sebagian alat medis rusak serta gedung roboh, penghasilan tinggal Rp100 juta per bulan, karena pada saat itu masa tanggap darurat dan banyak pasien tidak membayar,” ujarnya.

Bahkan kata dia, jumlah tempat tidur yang tadinya ribuan, kini hanya tersisa 70 tempat tidur. Namun, kata dia, seiring berjalan waktu, RSU Anutapura mendapatkan bantuan dari luar 300 tempat tidur yang saat ini telah digunakan.

“Kurangnya tenaga honorer ini tidak mempengaruhi layanan rumah sakit, pelayanan kami tetap berjalan seperti biasa. Tenaga honorer dikurangi sebab rumah sakit tidak mampu membayar gaji para honorer tersebut, karena penghasilan rumah sakit saat ini sangat kurang,” katanya.

Kata Riswal, tenaga honorer yang dirumahkan atau selesai masa kontraknya ini sudah tidak produktif kerja.

“Tenaga honorer yang dikurangi itu berlaku hampir di semua bidang, diantaranya perawat, dokter, administrasi, bidan, sanitasi bagian lingkungan dan tenaga lainnya. Memang secara otomatis volume kerja berkurang,” ujarnya.

Riswal mengatakan tenaga honorer ini tetap diterima jika kedepanya penghasilan rumah sakit kembali normal.

“RSU Anutapura masih tahap pemulihan. Olehnya kami berharap pemerintah dapat membangun cepat kembali gedung yang rusak, agar pelayanan kami pada masyarakat lebih maksimal,” katanya.

Sebelumnya, Direktur RSU Anutapura Palu, Ruslan mengatakan bangunan bertingkat Rumah Sakit Anutapura 100 persen rusak, sedangkan pada bangunan lama yang dua tingkat, ada empat unit yang mengalami kerusakan dan tidak bisa sama sekali digunakan. Bangunan tersebut harus direnovasi ulang, tentunya harus mulai dari nol lagi.

“Untuk sementara pasien kita rawat di bangunan lama. Dulu kami punya 553 ruangan perawatan, tetapi sekarang tersisa 270 ruang perawatan. Sementara karyawan dulu berjumlah 1.300 orang, namun sekarang karyawan kami tersisa kurang lebih 100 orang,” ujar Ruslan belum lama ini.

Ruslan mengungkapkan, yang jadi masalah saat ini adalah RSU Anutapura merupakan rumah sakit Badan Layanan Umum Daerah (BLU).

“Biaya operasional rumah sakit tergantung dari omset yang diterima. Kemudian saya kelola sendiri keuangan, saya manfaatkan sendiri dan saya bayar gaji sendiri. Namun 1.300 karyawan itu saya mau ambil gaji dari mana, sedangkan penghasilan rumah sakit Oktober ini kurang lebih Rp100 juta, yang biasanya saya terima Rp10 miliar perbulan,” jelasnya.

Reporter: Moh Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas