Home Sigi

Segera, ‘Suntikan’ Modal Usaha Bagi Korban Likuifaksi Sibalaya Selatan

Saparuddin S. Patta. (Foto: Pataruddin/ Metrosulawesi)

Sigi, Metrosulawesi,id – Bencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Sigi, akhir September 2018 lalu, masih menyisakan cerita duka bagi korban yang selamat dari likuifaksi. Meski para korban likuifaksi kini ditampung di tenda-tenda maupun hunian sementara (huntara), namun beban pikiran bagaimana kelangsung hidup mereka bersama keluarga masih buram.

Saparuddin S Patta (69 tahun), sangat bersyukur bisa selamat dari bencana gempabumi dan likuifaksi di Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Tokoh masyarakat Sibalaya Selatan  itu, kini menempati salah satu petak huntara yang dibangun Bank Mandiri, salah satu yang ditunjuk Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membangun huntara.

Sebelum bencana melanda, Saparuddin sehari-harinya memproduksi sagu. Setiap tiga pohon sagu yang ditebang bisa menghasilkan 90 ikat sagu. Satu ikat kalau dijual langsung dihargai Rp15 ribu. Beda halnya kalau pelanggan sendiri yang datang membreli, dihargai Rp12 ribu. Sagu-sagu dipasarkan ke beberapa kecamatan. Ada juga pelanggan yang biasa membeli dalam jumlah besar. Sedangkan sawah sudah diserahkan kepada anak-anaknya.

Itu dulu. Sekarang Saparuddin tiap hari  menghabiskan waktu di huntara saja. Sumber ekonominya hancur bersama rumahnya akibat likuifaksi, 28 September 2018 lalu. Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memulihkan perekononian warga korban bencana.

Kebun, sawah, ladang dan tanah untuk mencari nafkah sudah hancur tergulung lumpur. Praktis tidak pendapatan sejak bencana hingga hari ini.

“Saya dan warga di sini sangat bersyukur dengan adanya huntara. Hanya saja sumber pendapatan sudah hancur dan sudah tidak bekerja hampir empat bulan,” kata Saparuddin, Selasa, 29 Januari 2018.

Bapak dengan 14 anak dari dua istri itu mengaku saat ini masih bergantung pada sumbangan dan bantuan, baik dari pemerintah maupun dermawan. Terkadang ada dermawan yang memberi usng, itulah yang dipakai untuk kebutuhan seperti cabe.

Soal bantuan selama di huntara sudah tercukupi. Beras dan kebutuhan lainnya, semuanya tersedia dan cukup.

Senasib, Murni (45 tahun) juga mengeluhkan tidak ada pekerjaan dari sang suami. Ibu lima anak itu sangat berharap bisa mendapatkan pekerjaan untuk suaminya dan dirinya.

“Saya hanya ibu rumah tangga, sementara suami saya kehilangan sawah yang diolah untuk bertani,” kata Murni.

Begitupula dengan Murniati. Warga Desa Sibalaya itu mengaku membutuhkan modal usaha agar bisa membantu ekonomi keluarga pascabencana.

“Modal yang saya butuhkan. Bila ada bantuan modal maka itu sangat membantu perekonomian keluarga. Saya bisa menjual kue dan sebagainya,” kata Murniati.

Menyikapi kebutuhan masyarakatnya, Wakil Bupati Sigi Paulina, akan mengajak perbankan untuk mendorong bantuan kredit bagi masyarakat untuk dijadikan modal usaha.

Di huntara Sibalaya Selatan, Kabupoaten Sigi, , tercatat 100 kepala keluarga yang ditampung huntara Bank Mandiri.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas