Home Inspirasi

Sibuk Bukan Alasan Berhenti Menulis Buku

Sahran Raden. (Foto: Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)
  • Sisi Lain Sahran Raden, Komisioner KPU Sulteng

BUKU pertamanya terbit saat usianya 27 tahun, masih aktivis mahasiswa. Kini, seiring waktu dan beberapa lembar rambut berubah warna, dia sukses menulis delapan judul buku.

Sahran Raden tertawa kecil saat disinggung soal rambut putih. Baginya itu bukanlah masalah besar. Lagi pula, kondisi rambut tidak lantas membuatnya tampak lebih tua dari usianya sekarang yang mencapai 44 tahun.

Sudah menjadi ketentuan Sang Khalik, katanya fisik manusia pasti menemui tua dan selanjutnya akan tiba waktunya kembali kepada-Nya. Karena itu, semasa hidup dipergunakan untuk menebar kebaikan-kebaikan. Salah satu caranya, adalah menuangkan buah pikiran ke dalam lembaran-lembaran buku.

Hal itu tampaknya diresapi betul oleh Sahran Raden. Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini berpendapat, menghasilkan karya buku adalah salah satu metode dakwah. Karena itu, selain berdakwah dari masjid ke masjid, dia juga menulis buku. Aktivitas intelektual itu dia mulai sejak aktif di organisasi kemahasiswaan dan selanjutnya semakin intens ketika menjadi dosen tetap di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu. Bahkan, sampai sekarang meskipun sejibun kesibukan sebagai komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah, dia tetap menulis buku. Bukan hanya buku, tetapi juga menulis artikel di berbagai koran dan jurnal ilmiah.

“Berdakwah ini macam-macam cara dan metodenya, sebab dakwah itu mengajak kepada kebaikan. Salah satu cara berdakwah itu adalah menulis buku. Dengan buku orang bisa membaca pesan kita, anjuran kebaikan. Dapat dibaca melalui buku yang kita tulis. Membaca buku dapat menambah pengetahuan, mengubah persepsi dan tindakan kita kepada kebaikan,” kata Sahran Raden.

Dunia kepenulisan sudah dia mulai sejak belasan tahun silam. Ketika itu, aktif di organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Sahran Raden adalah ketua umum Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palu (sekarang:IAIN Palu) tahun 1996-1997. Pengalamannya semakin mantap ketika memimpin organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Palu tahun 1997-1998.

Sebagai aktivis mahasiswa, tentu saja dia intens membangun ruang-ruang diskusi. Berkumpul dan berdiskusi seakan menjadi rutinitas wajib. Dari meja diskusi itu, lahirlah pemikiran-pemikiran yang kemudian oleh Sahran Raden meramu dan mengikatnya. Dia tak rela ide-ide yang lahir dari diskusi para aktivis itu terserak begitu saja.

Pria yang datang ke Palu dari pulau di timur Sulteng ini lantas mengikat ilmu dengan seni menulis memikat. Maka jadilah sebuah buku. Judulnya:Masyarakat Madani Versus Civil Society di Indonesia. Inilah karya pertamanya yang terbit tahun 2001.

“Dari berbagai diskusi dengan teman-teman aktivis, akhirnya saya menulis buku itu,” kata Sahran Raden ditemui di kantornya di kantor KPU Sulteng, Jalan S Parman Palu, Selasa 22 Januari 2019.

Tentu saja pemikiran-pemikiran yang lahir dari meja diskusi tak serta merta bisa menjadi buku. Sebagai seorang sarjana, dia tidak mungkin menulis serampangan. Lagi pula, penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik pula. Maka, salah satu caranya harus banyak-banyak membaca buku.

Sahran Raden mengatakan gemar membeli buku sejak mahasiswa. Saripati dari buku-buku itulah yang mempengaruhi kandungan dalam setiap karyanya.

“Saya sejak mahasiswa hobi saya membaca dan menulis. Saya berasal dari keluarga sederhana, saat kuliah jika dikirimi uang orangtua, maka saya sisihkan untuk beli buku satu atau dua buah buku. Sebab saya meyakini pemberian orangtua saat kuliah harus dimanfaatkan untuk belajar dengan jalan membeli buku. Sejak mahasiswa yang banyak mengoleksi buku buku filsafat, politik dan hukum. Disamping buku-buku sosial keagamaan berupa tafsir, tasawuf dan buku-buku pendidikan,” kata Sahran Raden.

Semangat menulis buku itu berlanjut setelah dia menjadi dosen tetap di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu sejak tahun 2001. Dia mengampu matakuliah ilmu hukum dan menjabat ketua Program Studi Peradilan Agama tahun 2009-2013 di kampus yang membesarkan namanya itu.

“Dari delapan buku yang saya tulis sampai sekarang, lebih banyak saya terbitkan setelah saya menjadi dosen di IAIN Palu sejak tahun 2001,” katanya.

Selanjutnya, garis tangan kemudian membawanya ke kursi jabatan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tengah masa jabatan 2013-2018. Amanah itu diletakkan di pundaknya sekaligus menjadi penanda baru dalam lintasan sejarah kehidupannya. Dia telah melewati fase penuh gairan di dunia kemahasiswaan. Kemudian mengabdi sebagai dosen dan kini di komisioner KPU Sulteng.

Tahun 2018, dia kembali dipercaya menjadi anggota KPU Sulawesi Tengah periode sampai tahun 2023, meski bukan lagi di posisi ketua. Bahkan, dia dipercaya menjadi Tim Pemeriksa Daerah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) sejak 2018.

Berbagai peran sosial yang dilakoninya itu tak membuatnya lupa menulis buku, kebisaan lama sejak aktivis mahasiswa. Pengalamannya sebagai komisioner KPU Sulteng berpengaruh besar pada kedalaman dan keluasan kajiannya.

Selain alasan dakwah, dia punya alasan tersendiri yang memotivasinya sehingga tidak berhenti menulis buku sampai sekrang.

“Dua buku saya launching tepat di hari ulang tahun saya, 11 September. Kenapa 11 September, itu karena cita-cita saya bahwa setiap momentum ulang tahun, ada satu buku saya yang dibedah. Cita-cita yang bagi saya sendiri memang berat,” ujarnya.

Setidaknya cita-cita itu terwujud secara beruntun dalam dua tahun. Pada 2016, dia meluncurkan buku dengan judul panjang Hukum Pemilu di Indonesia, Mengurai Praktik Penyelenggaraan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014.

Berbagai pengalaman sebagai ketua KPU Sulteng pada penyelenggaraan Pemilu dituangkan dalam buku setebal 230 halaman itu. Dia mengatakan, bukunya sesungguhnya digarap pasca Pemilu 2014. Tetapi, baru bisa terbit dua tahun kemudian.

“Buku itu baru saya launching pada tanggal 11 September 2016, tepat di hari ulang tahun saya,” katanya.

Satu tahun kemudian dia kembali meluncurkan buku, masih dengan tema yang berat berjudul Tipologi Politik Hukum Pilkada Serentak di Indonesia (Antara Teori dan Praktik, Upaya Mewujudkan Hukum yang Progresif dan Responsif Dalam Negara Hukum Demokrasi). Kali ini, Hasyim Asy’ari,SH, M.Si, Ph.D, Anggota KPU RI ketika itu, menulis kata pengantar pada buku yang diterbitkan Ombak, sebuah penerbit mentereng di Yogyakarta. Buku itu pun dilaunching pada 11 September 2017.

Sebagaimana cita-citanya, pada setiap ulang tahun akan bedah buku karyanya. Tetapi, tepat pada ulang tahunnya ke 44, dia tidak berhasil mewujudkan cita-citanya itu. Tahun 2018, tidak ada buku yang dilaunching. Dia sendiri mengakui menulis buku setiap tahun memang cukup berat. Tetapi, dalam waktu dekat ini, sebuah karya buku akan terbit berjudul Hukum Pemilu, Pendekatan Interdisipliner (dari Dekonstruksi Sampai Impelementasi).

Dua bukunya yang sudah terbit sejak menjadi komisioner kadang menjadi semacam “souvenir” untuk kawan-kawannya dari Jakarta atau berbagai daerah di Indonesia yang datang ke Palu. Karena itu, buku-bukunya kini dibaca bukan hanya oleh orang Sulawesi Tengah dan itu cukup membuatnya bahagia, disamping ada rupiah di nomor kesekian.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas